Mohon tunggu...
Wiwien Wintarto
Wiwien Wintarto Mohon Tunggu... Penulis serba ada

Penulis, sejauh ini telah menerbitkan 29 judul buku, 17 di antaranya adalah novel, terutama di PT Gramedia Pustaka Utama. Yang terbaru adalah novel Elang Menoreh: Perjalanan Purwa Kala (terbit 1 November 2018) terbitan Metamind, imprint fiksi dewasa PT Tiga Serangkai.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Mengapa "Genre Hopping" Itu Perlu?

13 April 2019   10:53 Diperbarui: 13 April 2019   17:31 0 11 5 Mohon Tunggu...
Mengapa "Genre Hopping" Itu Perlu?
(Foto: laptopstudy)

Kebanyakan penulis, termasuk yang di fiksi, mengikrarkan kesetiaan yang demikian tinggi pada satu genre tertentu. Entah romance, entah horor-misteri, entah itu fantasi, ia berkeputusan untuk hanya menulis pada genre itu saja. 

Yang lain tidak. Tak aneh apabila dari sekian deret cerita, dan juga buku, tema yang dipilih tak pernah berubah. Akan sama sejak buku pertama hingga yang keduapuluh tiga.

Pertanyaannya, apakah ini bagus bagi kesehatan kehidupan? Bagi masing-masing dari kita, sudah pasti jawabannya pasti iya. Kita setia pada genre favorit sebagai bagian dari upaya mem-branding diri---bahwa nama (pena) yang kita pakai sudah langsung diidentikkan dengan satu genre tertentu itu. 

Dan bahwa genre hopping, alias terbiasa pindah-pindah genre, akan membuat karakter kita tidak fokus. Pembaca susah mengasosiasikan kita sebagai penulis terhadap satu genre tertentu.

Namun yang seringkali terlepas dari pemikiran kita adalah bahwa diri ini sesungguhnya menuntut untuk berkembang. Para traveler dan wanderluster selalu berkampanye tentang perlunya memperluas lingkup penjelajahan hidup ("travelinglah selagi muda!", "dolane kurang adoh!", dan lain sebagainya) atau kita akan merugi ketika tua kelak. Jika memang itu motto yang dipegang, maka hal yang sama juga kudu diterapkan dalam skill menulis.

Masa dari tahun ke tahun, sejak kecil hingga gede sekarang ini, lingkup "dolan" kita dalam belantara nulis hanya mungser dari itu ke itu saja? Saat masih berada dalam tahapan pemula, stick to romance genre adalah kenormalan. 

Semua pasti memulai dari romance, karena semua pasti mengalami suka duka percintaan (dibanding dengan petualangan di dunia gaib, misalnya). Jadi ide-ide termudah akan datang dulu dari ranah romance.

Namun sesudah itu, lingkup penulisan secara genre harus berkembang. Boleh saja kita tetap berada di genre tertentu saat berkaitan dengan soal market dan komersialitas (karena genre itu yang paling laris diburu pembaca), namun secara keterampilan, kita tetap harus berekspansi. Tak saja lintas genre, namun juga lintas format.

Artinya, tak saja hanya sanggup nulis bentuk tulisan fiksi yang paling kita kuasai, melainkan juga meluas ke nonfiksi, dan begitu pula sebaliknya. Pada akhirnya kita akan sampai pada level ketika menulis itu menjadi keterampilan, bukan lagi mata pencaharian, "panggilan jiwa", atau semata hobi di kala senggang.

Mengapa perluasan dan pendalaman keahlian penting? Karena jika landasan berpikir soal kesetiaan itu adalah masalah pangsa pasar, maka yang dinamakan market itu selalu berubah seiring waktu. Ia seperti tren di dunia fashion, penuh wolak-waliking jaman

Dulu cerita anak pernah meroket awal 1980-an, lalu surut agak lama, dan sekarang mau naik lagi. Siapa bisa menjamin bahwa tren kisah roman metropolitan yang sekarang sedang (dan masih) berjalan akan bertahan terus?

Kesanggupan untuk genre hopping bisa menjadi penyelamat karier---sekali lagi andai pijakan kita adalah soal market. Saat tren genre bergeser, kita bisa ikut bergeser dengan gampang. Jika nama pena sudah terlalu identik dengan genre, paling kita hanya perlu pakai nama berbeda, seperti JK Rowling dengan Robert Galbraith.

Namun tentu, paradigma penulis sejati tak bisa ditaruh pada sisi pangsa pasar. Tidak boleh sama sekali. Menulis selalu lebih megah daripada soal "payu piro?". That's why para penulis best seller selalu dengan inspiratifnya bilang, jangan nulis hanya karena mengejar target best seller! Menulis, apalagi fiksi, adalah soal meninggalkan warisan abadi bagi generasi berikut. Ini soal pengabdian. Dan dalam pengabdian itu, penggalian kemampuan dan sumber daya manusia adalah suatu keharusan.

Maka tuntutan untuk memperluas wilayah (genre) penulisan seharusnya adalah tuntutan naluriah kita pada diri sendiri. Tak beda sewaktu lulus SD ingin lanjut SMP, lalu baru lulus S1 sudah magito-gito ingin ke S2. Kenapa dalam soal nulis, kita jadi (sengaja) untuk berhenti dengan alasan market dan branding?

Keuntungan lain lagi dari genre hopping adalah berkait dengan kemacetan ide, alias writer's block. Kita bisa macet nulis karena banyak sebab (hanya karena jenuh, sakit gigi, hingga dikhianati pasangan). 

Yang jarang dibahas adalah, kebuntuan itu sesungguhnya hanya terjadi pada satu jenis tulisan tertentu saja. Artinya, saat novel macet di halaman 849, kita sesungguhnya masih bisa nulis format lain.

Saat terbiasa genre hopping, dan bahkan platform hopping, macet nulis bukanlah kiamat. Tinggal pindah nulis genre lain, atau format tulisan lain. Novel romance macet? Hijrah ke fantasi. Fiksi macet? Pindah ke artikel untuk Kompasiana. 

Bahkan kalau yang macet adalah aktivitas nulisnya itu sendiri, masih bisa pindah jadi content creator di media-media digital.

Namun bahaya terbesar yang mengintai dari praktik monogenre adalah kelelahan mental yang tak disadari. Pikiran lama-lama akan lelah jika hanya "disuruh" memikirkan sejenis ide saja dari waktu ke waktu. Lalu badan salah mengartikannya sebagai kejenuhan dalam menulis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2