Sandhya Adiguna
Sandhya Adiguna wiraswasta

Just another ordinary person...

Selanjutnya

Tutup

Media

Karikatur, oh Karikatur...

19 Maret 2018   16:48 Diperbarui: 19 Maret 2018   17:03 462 1 0

Baru-baru ini sedang viral sebuah karikatur dari salah satu media mainstream yang diprotes oleh sebuah ormas. Karikatur yang menggambarkan seseorang dengan menggunakan baju khas timur tengah sedang berdialog dengan seorang wanita. Mirip dengan adegan film yang dibintangi oleh aktris Dian Sastro.

Pada mulanya reaksi yang timbul cenderung damai dan biasa-biasa saja, hingga suatu hari negara api menyerang. Eh, maksudnya sebuah ormas melakukan protes keras dengan cara mereka. Kubu ormas merasa tersinggung karena menurut mereka sosok berbaju khas timur tengah tersebut adalah gambaran dari seseorang yang menjadi pemimpin mereka. Meskipun yang tampak jelas di gambar karikatur itu hanyalah punggung, tanpa kelihatan wajah tokoh yang dimaksud.

Protes yang dilakukan dengan cara khas mereka ditanggapi oleh pihak media penerbit karikatur tersebut. Mereka diterima dan diberikan hak jawab sesuai dengan kode etik jurnalistik. Dan belakangan pihak media itu memberikan respon bahwa mereka meminta maaf atas dampak dari penerbitan karikatur tersebut. Tapi pihak media menolak merasa bersalah atau minta maaf atas dimuatnya materi karikatur itu.

Sambil menunggu dimuatnya materi hak jawab dari ormas yang protes dan menunggu perkembangan lebih lanjut, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan karikatur? Mengapa banyak media yang suka menggunakannya untuk menyampaikan pesan? Dan bagaimana seharusnya kita bersikap jika kita yang menjadi bahan atau obyek karikatur?

Menurut Wikipedia, karikatur adalah gambar atau penggambaran suatu objek konkret dengan cara melebih-lebihkan ciri khas objek tersebut. Kata karikatur berasal dari kata Italia caricare yang berarti memberi muatan atau melebih-lebihkan. Karikatur menggambarkan subjek yang dikenal dan umumnya dimaksudkan untuk menimbulkan kelucuan bagi pihak yang mengenal subjek tersebut. Fenomena terkini seperti kegiatan atau perilaku tokoh, film yang sedang digemari, kejadian-kejadian yang langka terjadi, atau bahkan keadaan alam sekitar sehari-hari bisa menjadi bahan bagi seorang karikaturis untuk dijadikan sebuah karikatur.

Seringkali sebuah karikatur tidak menggambarkan wajah 100% mirip dengan tokoh yang dimaksud. Dibuat lebih seperti komik, lebih lucu, dan biasanya hanya menonjolkan ciri khas yang bersangkutan. Namun bisa mengarahkan persepsi pembacanya bahwa tokoh itulah yang dimaksud.

Karikatur mulai dikenal luas sudah ada sejak abad ke-18 melalui media cetak dan telah menjadi sarana untuk melakukan kritik sosial maupun politis. Dan sejak masa itu hingga era digital sekarang karikatur masih dianggap sebagai media yang efektif guna menyampaikan kritik sosial maupun politis. Selain dianggap lebih mudah memikat pembaca, dengan gambar yang komikal dan terkesan lucu, penggunaan karikatur sebagai sarana kritik juga dianggap lebih aman karena tidak menunjuk langsung. Kritik atau pesan yang dibuat bisa tersampaikan dan pembaca yang melihat selain menerima pesan juga tak jarang terhibur dengan penggambaran karikaturnya. Meskipun ada juga yang tidak suka atau keberatan seperti gambaran diawal tulisan ini.

Lantas apa jadinya kalau kita yang tiba-tiba muncul sebagai tokoh yang dibuat karikaturnya. Kalau saya pribadi ya senang-senang saja, toh itu artinya saya menjadi point of interest sebuah media. Iya kalau karikaturnya menimbulkan persepsi positif dan lucu, kalau sebaliknya bagaimana? Sebuah media, apalagi yang mainstream, tidak akan mudah memutuskan menerbitkan karikatur tanpa melakukan riset terlebih dahulu. Mereka juga terikat dengan kode etik jurnalistik dan Undang-undang Pers. Kalau keberatan ya tinggal ajukan saja keberatan sesuai mekanisme yang sudah diatur oleh Undang-undang. Kan lumayan masa viralnya bisa jadi lebih lama, dengan persepsi yang positif tentunya. Beda lah dengan negara api.

Penutup:

Sebenarnya pingin juga membahas apa dan bagaimana karikatur dari sudut pandang kemampuan berpikir, sudut pandang wawasan, dan kecerdasan emosional. Baik dari sisi penerbit maupun sisi pembaca atau masyarakat. Biar bisa lebih memahami mengapa reaksi orang berbeda terhadap sebuah karikatur yang sama.

Tapi biarlah orang lain yang lebih ahli yang membahas hal itu.

Semoga bermanfaat, salam.