Mohon tunggu...
Wistari Gusti Ayu
Wistari Gusti Ayu Mohon Tunggu... Saya seorang guru

Guru adalah profesi yang mulia, saya bangga menjadi guru

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Mendampingi Siswa "Broken Home" di Awal Tahun Ajaran Baru

16 Juli 2019   12:51 Diperbarui: 17 Juli 2019   18:08 0 11 9 Mohon Tunggu...
Mendampingi Siswa "Broken Home" di Awal Tahun Ajaran Baru
Sumber ilustrasi: Shutterstock

"Bu... saya mau isi formulir biodata siswa yang ibu bagikan kemarin, tolong bantu saya, saya harus tulis jumlah saudara saya berapa?"

Pertanyaan polos itu terlontar dari bibir mungil gadis kecil di kelas saya. Beberapa tahun lalu saya menjadi wali di kelas VII dan di awal tahun pelajaran siswa harus mengisi biodata untuk kelengkapan administrasi sekolah. Terus terang saya merasa bingung mengapa ada pertanyaan aneh terlontar darinya. Bukankah seharusnya dia tahu jumlah saudaranya.

Saat itu saya menjawab, "Tuliskan saja berapa jumlah adik dan berapa jumlah kakakmu". Dia tetap merasa kebingungan. Saya semakin merasa penasaran, dan merasa ada yang aneh dari anak tersebut. Lalu saya ajak dia berbicara berdua saja.

Saya tanya mengapa dia bingung mengenai jumlah saudaranya, lalu terdengarlah cerita polosnya, bahwa ibunya bercerai dalam keadaan hamil muda, sang ibu kemudian menikah lagi dengan seorang duda, dan lahirlah dia. 

Dari pernikahan pertamanya, sang ibu memiliki 3 anak termasuk dirinya, dan sang ayah tiri memiliki 2 orang anak. Sekarang si gadis kecil tinggal dengan ibu dan ayah tirinya, dua kakak tirinya sudah menikah, dan satu sudah mengurus perceraiannya dan akan tinggal satu rumah dengannya.

https://instagram.com/futarinokizuna_
https://instagram.com/futarinokizuna_
Lalu dia menanyakan kepada saya, "Apakah saudara kandung dan saudara tiri saya tulis juga, Bu, atau saya tulis tidak punya saudara, di rumah karena hanya ada saya". Dia merasa berbeda, berbeda dengan teman lainnya yang dengan lancarnya menuliskan apa yang diminta dalam formulir tersebut.

Tidak sampai disana ceritapun berlanjut, saat saya meminta akta anak tersebut dia tidak bisa memberinya. Menurut ceritanya sebelum mendapat ijazah, sekolahnya di SD pun sudah meminta, tapi orang tuanya susah mengurus akta si anak. Pernikahan ibunya yang kedua ini belum resmi secara hukum, hanya menikah secara agama, karena ibu dan ayah tirinya ini tidak memiliki akta pernikahan, berlanjut lagi kepada si anak, tidak berhak mendapat akta kelahiran. 

Kemudian saya memanggil ayah tiri dari anak tersebut, terus terang saya sangat khawatir, khawatir dengan kebingungan anak ini. Saya tawarkan ke ayahnya, untuk membuatkannya akta atas nama ibu saja. Akhirnya sang ayah tiri menyetujuinya. Padahal dari si anak sendiri sangat berharap sang ayah kandung tercantum dalam aktanya, namun apa boleh dikata, sang ibu telah bercerai sebelum dia lahir.

Dari kesan pertama si anak tersebut saya jadi ingin mendalami kehidupannya, saya mulai mencoba menjadi temannya, agar dia bisa berbagi cerita. Saya melihat dari raut muka sang anak, ada beban dalam hatinya. Yang saya inginkan hanya satu, dia fokus belajar.

Dari 32 siswa di kelas saya, tidak hanya si gadis kecil yang memiliki masalah, ada dua anak lagi mendatangi saya, melihat kedekatan saya dengan si gadis kecil menjadikan saya tempat berkeluh kesahnya, merekapun seolah ingin mengadu, menjadikan saya tempat sandaran mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3