Mohon tunggu...
Wisnuw
Wisnuw Mohon Tunggu... Jurnalis - Pimred media reformasi Indonesia

Jurnalis yang benar bisa merubah tatanan kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Aksi Damai Petani Burangkeng dan Sumur Batu Sebagai Bentuk Penolakan Terhadap Bobroknya Sistem Pengelolaan TPAS Burangkeng

6 Oktober 2022   11:50 Diperbarui: 6 Oktober 2022   19:20 227 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Aksi Damai Petani Burangkeng dan Sumur Batu, dok. pribadi

Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, kembali menuai kritikan.

Kali ini kritikan tersebut datang dari puluhan petani dari dua wilayah, yaitu Desa Burangkeng dan Kelurahan Sumur Batu.

Aksi damai digelar petani sebagai bentuk kritikan terhadap bobroknya pengelolahan TPAS Burangkeng yang berimbas pada lahan pertanian sekitar.

Dalam aksi tersbut turut hadir sesepuh petani, M. Hatta, Ketua Prabu PL, Carsa Hamdani, puluhan petani serta perwakilan warga Burangkeng dan Sumur Batu.

Saat dikonfirmasi media, M. Hatta menerangkan, hari ini para perwakilan petani dari Burangkeng dan Sumur Batu, adakan aksi damai terhadap bobroknya sistem pengelolahan TPAS Burangkeng.

"Kami para petani dari dua wilayah, meminta kepada pemerintah setempat meninjau kembali kelayakan TPAS Burangkeng," ujarnya.

Selain itu ia juga mengungkapkan, bahwa petani menjadi korban akibat kurang baik pengelolahan TPAS.

"Akibat pengelolahan yang tidak baik, kali yang berfungsi untuk pengairan ke sawah tersumbat sampah, bahkan sering longsor yang menyumbat aliran air, bukan hanya itu saja, air lindi (air sampah-red) masuk ke sawah membuat tanaman kita gagal panen," tegasnya.

"Kita para petani sudah legowo adanya TPAS ditempat kami, tapi saya tidak terima dengan sistem pengelolahan yang kurang baik, karena itu sangat berimbas sekali kepada kita petani yang ada diwilayah TPAS," imbuhnya.

Hal senada juga terlontar dari Carsa Hamdani, para petani dengan lahan yang luas ini belum berani menggarap sawah, sedangkan kalau menurut waktu, sudah saatnya untuk bercocok tanam padi.

"Kita bisa melihat faktanya dilapangan, bagaimana petani mau bercocok tanam, pengairan saja tidak ada tertutup dengan tumpukan sampah, sedangkan yang masuk kesawah air lindi, jadi petani enggan untuk bercocok tanam, walaupun petani memaksa untuk bercocok tanam, itu akan menimbulkan kerugian yang luar biasa untuk petani," jelasnya.

"Saya berharap kepada pemerintah untuk segera mengambil tindakan yang sifatnya untuk kemaslahatan para petani," pungkasnya.

(Red)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan