Mohon tunggu...
Wishnu Adhikresna
Wishnu Adhikresna Mohon Tunggu... #Healer #Lightworker

Kopi itu pahit, gula itu manis. Aku jadi creamernya.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Herd Immunity ala Rumah Kandang Sapi

10 Mei 2020   07:20 Diperbarui: 10 Mei 2020   08:34 91 1 0 Mohon Tunggu...

Saat masih bersekolah Sekolah Dasar dulu, sepulang sekolah paling sering dan suka bermain di rumah teman yang rumahnya jadi satu dengan kandang sapi. Di lingkungan mereka, anak-anak memiliki banyak sekali variasi  permainan, yang tak kudapat di lingkungan rumahku. 

Sepulang sekolah langsung beramai-ramai mandi di sungai yang berair keruh, setelah itu tanpa memakai handuk langsung baju digunakan, dan lanjut main.

Kalau haus, langsung ke dalam rumah teman buka gentong gerabah, ambil gayung dan langsung diminum. Bergaul dengan mereka itu bikin aku jadi kreatif, bisa bikin mobil-mobilan dari bunga tebu, kulit buah jeruk bali dan tak ketinggalan mengintip orang mandi di sungai. 

Bermain dengan mereka membuatku memiliki tanda fisik yang berbeda dengan anak-anak di lingkungan rumahku, aku memiliki panu dan bekas luka lebih banyak.

Rumah temanku ini, ruang tamu, dapur, kandang sapi, semua menjadi satu.  Kamar hanya dipisahkah dengan bilik bambu dan  kelambu kain. Lantai masih beralas tanah. Pertama kali main kesana, bau kotoran sapi menyengat hidung. 

Sebagai anak yang terbiasa hidup bersih, begitu masuk kesana, langsung pengen muntah. Aku merasa rumahnya sangat jorok. Dirumahnya jangan harap ada air yang sudah di rebus, tempat minumnya di gentong gerabah itu, gelasnya memakai gayung. Air panas hanya digunakan untuk menyeduh kopi atau teh.

Satu dua hari awal aku merasa jijik main ke rumah ini. Tetapi godaan banyak teman dan keseruan saat mereka bermain jauh mengalahkan rasa jijik itu. Kadang-kadang aku diberi makan sama orang tuanya, tentu saja menyantap hidangan hanya beberapa meter dari sapi peliharannya.

Setelah kurang lebih tiga bulan sering bermain disana, mulai ada perubahan di diriku. Ketika ke rumah itu, rasa jijik sudah hilang, bau menyengat kotoran sapi sudah tidak mengganggu hidungku, makan minum yang tidak higienispun tidak masalah. Semua tampak biasa saja. Yang membedakan itu, sehabis mandi ibu makin sering mengoleskan kalpanax di kulitku.

Dan ketika pandemik  melanda Indonesia, aku jadi ingat kisah masa kecilku. Ketika sampai hari ini, yang terjangkit Covid19 makin banyak, dan tidak tahu kapan perginya virus ini, aku jadi berpikir, yang terjadi tidak akan jauh berbeda dengan bagaimana aku bisa enjoy bermain di rumah temen kecilku  dulu.

Pandemik ini mungkin sekarang begitu menakutkan banyak orang. Deskripsi tentang bau busuk Covid19 ini begitu meracuni pikiran.  Banyak orang yang mulai sangat hidup bersih dan higienis, salaman dengan teman walau dia cantik atau tampan langsung pake hand sanitizer. Bahkan aku sekarang tidak pernah melihat lagi, cipika cipiki sesama lelaki yang biasa ditunjukkan para pejabat.

Tetapi situasi ini, aku meyakini akan segera berlalu.

Sama seperti saat pertama kali aku mendeskripsikan rumah temenku. Bau busuk, kotor, jorok dan tidak higieni. Tetapi setelah kurang lebih  tiga bulan bermain disana, deskripsi itu mulai berubah, rumah itu sangat nyaman dan menyenangkan.

Kenapa bisa berubah? Apakah bau kotoran sapi sudah hilang, rumahnya direnovasi jadi rumah mewah, ataukah hidungku sakit, sampai tidak bisa menghirup bau busuk? Semua tidak ada yang berubah, hanya kebiasaan main di tempat itu membuat deskripsiku tentang rumah itu yang berganti.

Dan kuyakin, seperti itulah masa depan Indonesia dan Covid19. Virus itu belum akan pergi, tetapi bau busuk dan menjijikkan akan segera hilang dari pikiran seiring  waktu. Kita sedang beradaptasi. Semua akan segera berangsur normal karena kebiasaan. 

Daya tahan masyarakat Indonesia akan berangsur kuat, seiring dengan rasa takut yang memudar. Tetapi masker dan hand sanitizer akan tetap ada di kantong kita. Kita akan mulai enjoy dengan kebiasaan yang baru.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x