Win Wan Nur
Win Wan Nur wiraswasta

Saya adalah orang Gayo yang lahir di Takengen 24 Juni 1974. Berlangganan Kompas dan menyukai rubrik OPINI.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Seperti Trump, Prabowo Menang Kali Ini

11 Agustus 2018   10:04 Diperbarui: 11 Agustus 2018   10:33 578 3 5

Ketika mereka memutuskan Kyai Ma'ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi, koalisi pendukung presiden petahana mungkin sudah memperkirakan akan ada pemilih yang lari, tapi mereka juga tentu memperhitungkan masuknya calon pemilih baru.

Pertanyaannya, mampukah kedatangan calon pemilih baru itu menambal kepergian pendukung setia yang selama ini begitu militan pasang badan untuk Jokowi?

Kalau saya nilai secara pribadi, terus terang saya tidak yakin calon pemilih baru yang diharapkan itu akan mampu menambal kepergian pemilih lama karena bahkan warga NU sendiri banyak yang nggak sreg dengan naiknya Kyai MA sebagai cawapres Jokowi.

Kubu pemilih Jokowi ini rata-rata rasional. Bukan tipe yang angguk-angguk ketika sekarang bilang Jendral cerdas lalu besok jadi Jendral Kardus beberapa jam kemudian jadi Jendral Patriot. Hari ini bilang Ijtimak Ulama harus diikuti besok jadi nggak wajib, hari ini harga mati besok jadi 500 milyar.

Pendukung Jokowi rata-rata peduli pada konsistensi. Banyak dari mereka yang selama ini yang melihat Jokowi sebagai simbol harapan untuk melawan radikalisme dan intoleransi. Harapan itu hilang ketika mereka melihat Jokowi menggandeng orang yang mereka nilai punya andil besar dalam maraknya intoleransi.

Sementara kubu seberang, mau siapapun cawapresnya ya nggak akan pilih Jokowi, mau siapapun cawapresnya pasti mereka menemukan cacatnya dan alasan untuk nggak memilihnya dan pendukung mereka angguk-angguk aja terhadap narasi apapun yang diproduksi elitnya. 

Nah Jokowi bersama koalisi  mau berjudi demi menarik simpati kaum seperti itu dengan cara memunggungi pendukung setianya sendiri.

Hasilnya? Ya konyol? Di sebelah dia tetap aja nggak ada bagus-bagusnya, di sini ditinggalkan pendukung setia.

Dengan SBY kembali bergabung di sana yang artinya adalah jaminan bahwa aliran filsafat Dunguisme kembali bersemi bersama oposisi untuk menambah kekuatan narasi khilafah dan aliran filsafat baru post Islamisme (entah istilah apa ini) yang disambut gegap gempita pendukung Prabowo. Makin beratlah peluang Jokowi untuk memenangkan pilpres 2019 nanti.

Benar, ada juga yang memperkirakan pendukung Jokowi akan balik lagi karena tidak rela melihat Indonesia dikuasai Prabowo, Sandi, PKS, HTI sampai Rizieq dengan FPI nya. 

Orang-orang seperti ini jelas melupakan kekuatan rasa kecewa dan hilangnya harapan. Orang yang kehilangan harapan akan mempersetankan itu semua. 

Di mata sebagian (mantan) pendukungnya, sekarang Jokowi tak ada bedanya dengan Prabowo, Fadli Zon, Amien Rais, Fahri Hamzah atau SBY. Di mata mereka, orang yang sempat mereka kagumi ini sekarang tak lebih dari sekedar politisi biasa yang hari ini bilang A besok jadi Z. Yang melihat pendukungnya tak lebih sebagai angka-angka yang kecukupannya menjadi syarat untuk mendapat kuasa.

Tapi meski kecewa dengan Jokowi jelas kecil kemungkinan para (mantan) pendukung Jokowi berpaling ke Prabowo. Kekecewaan ini akan mereka lampiaskan dengan cara tidak memilih siapapun alias golput.

Dengan mencermati dinamika yang terjadi di dunia maya pasca penetapan cawapres Jokowi, saya memperkirakan setidaknya ada sepertiga jumlah pendukung presiden petahana ini yang kecewa dan memutuskan untuk tidak memilihnya di Pilpres nanti. 

Ini jelas Jackpot untuk oposisi.

Seperti Trump di Amerika yang berhasil menang dengan cara membuat kubu lawan golput karena malas memilih Hillary, asal kubu Prabowo mampu terus menjaga para pendukung Jokowi yang kecewa untuk tetap kecewa dan istqamah memilih Golput sampai waktu pencoblosan nanti, bisa dipastikan kalau pada pilpres kali ini dia dan Sandi Uno akan menumbangkan petahana.