Mohon tunggu...
Windha Tunggara
Windha Tunggara Mohon Tunggu... Guru - Pengajar Madrasah

Pengajar di MAN 4 Sukabumi, sedang belajar menulis agar otak tidak tumpul.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Berguru dari Suara Laut

16 September 2022   09:46 Diperbarui: 16 September 2022   09:54 111 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Purabaya, hari senin pukul 06.00 pagi.

Lelaki setengah baya itu sudah berdiri tegak di depan pintu gerbang madrasah yang dipimpinnya. Penampilannya sangat meyakinkan: berjas dan berdasi, bersepatu hitam mengkilat, dan peci hitam menutupi kepalanya yang berambut cepak. “Wilujeng sumping ... wilujeng sumping!” Begitu ia menyapa sambil mengulurkan tangan, mengajak bersalaman kepada setiap orang yang baru datang. Setelah waktu memasuki pukul 07.00, Ia beranjak dari tempatnya berdiri, berkeliling ke setiap kelas untuk memantau kegiatan pengajian Al-Quran yang merupakan menu wajib sebelum bergelut dengan berbagai pelajaran. Di madrasah ini, pengajian pagi wajib dipimpin oleh masing-masing guru yang mengajar pada jam pertama.  Apabila ada satu kelas yang kosong—gurunya belum datang—ia akan lekas masuk kelas, menggantikannya bagai seorang pemain cadangan.

Lelaki setengah baya itu, lelaki peci hitam itu, adalah Drs. H. Odang Suherman, M.M., Kepala Madrasah Aliyah Negeri Jampangtengah kabupaten Sukabumi periode 2004-2009. Ketika saya mengawali kiprah sebagai guru di madrasah ini, saya kira apa yang saya lihat adalah sebuah moment kebetulan atau kegiatan yang hanya sesekali dilakukan. Ternyata saya salah, dan kelak mengetahui bahwa kebiasaan itu dilakukan hampir tanpa putus selama lima tahun, sepanjang masa jabatannya.  Odang tak pernah terlambat. Setiap Sabtu siang ia menempuh perjalanan sepanjang 120 km menuju rumah sederhananya di Bandung, dan minggu sore-nya ia sudah kembali berada di Purabaya, di madrasah yang dicintainya, bersiap menyapa warga madrasah keesokan harinya.

Odang Suherman dilahirkan di Cisolok, daerah yang sangat dekat dengan Palabuanratu yang saat ini merupakan ibukota Kabupaten Sukabumi. Ia tumbuh di tengah tradisi kehidupan masyarakat pesisir yang keras, dan bermain di antara karang terjal dan debur ombak pantai selatan yang ganas namun sangat mengagumkan. 

Lingkungan masyarakat dan lingkungan alam seperti itulah yang membentuk wataknya, menempa mentalnya, dan kelak menjadikannya seorang pemimpin yang disegani. Keras dan konsisten seperti ombak yang tak pernah berhenti menerjang pantai, tangguh seperti karang, ulet dan disiplin bagaikan nelayan, dan ber-visi luas serta berwibawa seperti luasnya samudra. Namun demikian, ia juga bisa berperilaku lembut dan periang, sehingga prinsip dan pendiriannya yang sekeras karang tidak pernah tampak sebagai sikap yang menyebalkan! Dengan karakter kepemimpinan seperti itu, ia menjadi lonceng yang membangunkan MAN Jampangtengah dari tidur panjang. Madrasah ini pun berubah, meninggalkan corak pendidikan ala pesantren yang doktriner, menuju madrasah yang lebih luwes, bervisi global, namun tak mengesampingkan nilai-nilai agama yang menjadi pondasi utamanya.

Berbagai visi yang diwujudkan melalui kebijakan kepemimpinannya seringkali mendahului zamannya. Sebagai contoh, sebelum diberlakukan program 10 pembiasaan akhlak mulia tahun 2008 yang tertuang dalam peraturan Bupati Sukabumi (Perbup No. 33 Tahun 2008, tentang Pendidikan Akhlak Mulia), MAN Jampangtengah telah mempraktikannya bahkan sejak 2004. Odang memimpin anak buahnya dalam melakukan reorientasi konsep pendidikan madrasah, membangun pondasi yang kokoh, dan melaksanakan berbagai program secara konsisten. Buah dari itu semua, MAN Jampangtengah mampu meraih berbagai prestasi yang dianggap musykil pada waktu-waktu sebelumnya. Banyak pihak yang terpana dan kemudian memperbincangkannya. “Lo, kok bisa ya”?

Reorientasi yang dilakukan Odang Suherman adalah berusaha mengubah paradigma masyarakat tentang madrasah. Sistem pendidikan di madrasah tidak harus dijalani seperti pendidikan di pesantren zaman dahulu yang terkenal kolot, didominasi oleh sistem pembelajaran satu arah, dan sarat akan doktrin yang seolah menjadi satu kebenaran mutlak, tak boleh dipersoalkan apalagi dibantah. Ia menginginkan madrasah itu memiliki kesejajaran dengan sekolah-sekolah umum. Oleh karena itu, ia memasang target bahwa seorang lulusan madrasah harus mampu bersaing dari segi keilmuan dan  keterampilan praktis, namun memiliki kelebihan dalam bidang keagamaan. Dalam pandangannya, religiusitas, kedisiplinan, kegigihan, keterbukaan, kekeluargaan, dan keilmiahan merupakan bagian tak terpisahkan, dan harus menjadi satu tarikan nafas dalam pengembangan sebuah madrasah.

Lewat visi Odang, terciptalah iklim dan budaya belajar Islami yang dikemas dan disesuaikan dengan filosofi Sunda silih asih, silih asah, silih asuh. Budaya ini dapat dilihat dengan mudah dalam kegiatan keseharian  di MAN Jampangtengah. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tertata rapih, terbuka, saling menghargai tanpa mengesampingkan unsur-unsur yang tertuang dalam peraturan-peraturan pemerintah. Odang selalu menganjurkan kepada seluruh guru untuk memberikan pembelajaran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang saat ini. “Tugas kita adalah memfasilitasi mereka untuk belajar dengan memberikan pengalaman sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan dunia nyata” ujarnya. Karena itu, dalam proses belajar di kelas, siswa pun tak diperlakukan sebagai objek yang hanya menerima begitu saja apa yang dikatakan guru. Mereka justru dibiarkan mencari sendiri pengetahuannya dengan semangat pencarian yang kritis dan rasa ingin tahu yang besar.

Banyak sekali pembiasaaan yang kemudian dicanangkan, dan terbukti membawa banyak perubahan positif bagi MAN Jampangtengah. Ada pembiasaan untuk siswa, ada pula pembiasaan untuk guru dan karyawan lainnya. Beberapa pembiasaan tersebut, dan terus dipertahankan pelaksanaannya hingga saat ini, adalah sebagai berikut:

Pembiasaan untuk guru

  • guru yang mengajar pada jam pertama wajib datang setiap pagi untuk memimpin tadarus di dalam kelas;
  • guru wajib menggunakan pakaian rapi berdasi untuk mengajar, tidak diwajibkan untuk menggunakan Pakaian Dinas Harian (PDH), karena menurut Odang,  kesan yang muncul dari seragam PDH adalah guru yang tidak fleksibel;
  • guru wajib menjadi tauladan dalam sholat berjamaah duhur bersama siswa di masjid madrasah; dan
  • guru mengikuti sistem promosi sesuai dengan konsep keadilan yang ditekankan pada konsep reward and punishment, sehingga tercipta budaya persaingan yang sehat diantara sesama pendidik dan tenaga kependidikan.

Pembiasaan untuk peserta didik

  • pembiasan bersadakoh sehari seratus rupiah (RITUS) yang dikelola oleh siswa. Pembiasaan ini untuk membiasakan jiwa gotong royong dan rasa peduli terhadap sesama;
  • english day, pembiasaan untuk melatih mengunakan bahasa Inggris setiap hari bagi siswa yang menginap di asrama mulai pukul 05.30 s.d. 06.00;
  • tadarus Al-Quran, dilaksanakan 10 menit sebelum jam pertama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai;
  • memberikan jam khusus untuk membiasakan semua warga madrasah melaksanakan shalat sunat duha;
  • sholat Duhur wajib berjamaah di masjid sekolah; dan
  • berpuasa senin-kamis untuk seluruh siswa, guru, dan karyawan lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan