Mohon tunggu...
Anicetus Windarto
Anicetus Windarto Mohon Tunggu... Penulis - Menjadi jujur dalam segala

Peneliti di Litbang Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pandemi sebagai Panggung Sinetron

11 September 2021   13:04 Diperbarui: 11 September 2021   13:06 225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Seusai menonton film berjudul "Pocong the Origin", seorang perempuan belia yang masih berstatus mahasiswi berkomentar singkat demikian: "Wah gak seru, gak ada ending-nya!" 

Komentar yang sebenarnya sudah bukan rahasia umum lagi karena film yang bergenre horor dari Indonesia biasanya memang tanpa ending. Artinya, tidak perlu berharap terlalu besar bahwa ada happy atau sad ending dari film yang diproduksi di negeri ini.  

Itulah mengapa sebagian besar tontonan yang disajikan di hadapan publik, termasuk dalam rupa sinetron, dapat mencapai ratusan episode. Mengapa demikian?

Pertama, karena sinetron adalah panggung hiburan yang dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan. Mirip dengan iklan, panggung itu selalu ditampilkan sebagai komoditi nomor satu yang tiada saingannya. 

Selain itu, komoditi itu sebisa mungkin dipandang sebagai cermin atau tiruan dari kehidupan masyarakat pada umumnya. Maka tak heran jika tontonan sejenis itu ditargetkan untuk mencapai rating yang mampu menempatkannya di posisi "prime time". 

Dengan kata lain, tontonan itu dapat menjadi hiburan di waktu senggang pada saat sebagian besar masyarakat sudah tidak disibukkan lagi dengan rutinitas hidup sehari-hari.

Kedua, hiburan yang serba instan, remeh-temeh, dan tidak terlalu lama atau panjang itu dapat tetap ditonton sembari mengerjakan hal lain. 

Contohnya makan malam bersama dalam keluarga, atau mendampingi dan mengawasi anak-anak di rumah. Jadi, meski berada dalam ruang dan waktu yang berbeda, antara sinetron dan kehidupan sehari-hari masih dapat tampil bersamaan. Inilah yang disebut oleh Benedict Anderson dalam bukunya yang berjudul Imagined Communities. 

Komunitas-komunitas Terbayang (Pustaka Pelajar dan Insist Press, 2001) sebagai "homogenous empty time" atau waktu luang yang homogen. 

Dalam arti ini, serupa dengan novel yang dapat berkisah tentang beragam hal pada saat yang sama meski di tempat yang berbeda, sinetron dan kehidupan sehari-hari juga dimungkinkan dapat berjalan bersama hanya berkat jasa dari kata "sementara itu" atau "meanwhile".

Inilah kata yang seolah-olah memberi kuasa pada para pembaca novel dan penonton sinetron atau film untuk mengetahui, bahkan menilai, apa yang baik atau buruk, serta siapa yang layak dibela atau dicaci-maki. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun