Mohon tunggu...
Willy Sitompul
Willy Sitompul Mohon Tunggu... Administrasi - Pekerja sosial

Hanya pekerja sosial biasa, senang menulis dan membaca. Lihat juga tulisan saya di: www.willysitompul.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Pekan ASI 2019 Sudah Berlalu, Lalu Apa Aksi ASI-mu?

21 Agustus 2019   15:27 Diperbarui: 21 Agustus 2019   16:15 496
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puncak Perayaan Pekan ASI Kemenkes 2019. Dok. Pribadi

World Breastfeeding Week dirayakan setiap tahun mulai tanggal 1 hingga 7 Agustus untuk mendorong pemberian ASI dan meningkatkan kesehatan bayi di seluruh dunia. Hal ini dilakukan untuk memperingati Deklarasi Innocenti yang ditandatangani pada Agustus 1990 oleh perwakilan pemerintah, WHO, UNICEF, dan organisasi lain untuk melindungi, mempromosikan, dan mendukung menyusui. Jadi, kalau dihitung sudah cukup lama hal ini dilakukan. Adakah hasilnya?

Tahun ini, WHO bekerja sama dengan para mitranya mempromosikan pentingnya kebijakan ramah keluarga untuk meningkatkan pemberian ASI dan membantu orang tua mengasuh dan menjalin ikatan dengan anak mereka di awal kehidupan mereka. 

Masih ingat nggak tentang pentingnya 1,000 HPK atau seribu hari pertama kehidupan? Sejak bayi dalam kandungan hingga berusia 2 tahun? Nah, kebijakan ramah keluarga ini menjadi tema Pekan ASI sedunia tahun 2019 ini. Tema lengkapnya adalah "Empower parents enable breastfeeding". Di Indonesia, oleh Kementerian Kesehatan dan mitranya, tema ini menjadi "Ayah dan Ibu kunci keberhasilan menyusui".

Menyusui terbukti meningkatkan kesehatan bagi ibu dan anak. Meningkatkan pemberian ASI ke tingkat hampir universal ternyata dapat menyelamatkan lebih dari 800.000 jiwa setiap tahun, mayoritas adalah anak di bawah 6 bulan. Menyusui mengurangi risiko ibu terkena kanker payudara, kanker ovarium, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. Diperkirakan peningkatan menyusui dapat mencegah 20.000 kematian ibu setiap tahun akibat kanker payudara (WHO, 2019)

WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif mulai dari satu jam setelah kelahiran (Inisiasi Menyusu Dini/ IMD) sampai bayi berusia 6 bulan (ASI Eksklusif). Kemudian, makanan pelengkap bergizi (Makanan Pendamping ASI/ MP-ASI) harus ditambahkan sambil terus menyusui hingga anak berusia 2 tahun atau lebih. 

Rekomendasi WHO untuk terus menyusui hingga anak berusia 2 tahun atau lebih ini masih menjadi persoalan di Indonesia. Usia 2 tahun dianggap sebagai usia terakhir anak menyusu, padahal rekomendasi WHO masih menyarankan jika pada usia di atas 2 tahun anak masih mau menyusu, ASI tetap diberikan. 

So, masih mau mengoles cabe, jeruk asam, pahit-pahitan pada payudara agar bayi berhenti menyusui pada usia 2 tahun? Udah lah ya, biarkan saja dia tetap menyusu, toh... pada saatnya nanti akan berhenti juga.

Untuk dapat terus menyusui, ibu membutuhkan akses di tempat kerja yang ramah menyusui untuk mendukung mereka dapat terus menyusui saat kembali bekerja. Tempat kerja yang ramah menyusui harus memiliki akses ke waktu istirahat menyusui; ruang aman, pribadi, dan higienis untuk mengeluarkan dan menyimpan ASI.

Saya rasa, saya tak perlu lagi menyebutkan keunggulan ASI. Selain tidak bisa tumpah, selalu hangat setiap saat dan tidak bisa basi (tau kan kenapa?), ASI memiliki banyak keunggulan. Dapat dilihat pada gambar terlampir.

Sumber: wahanavisi.org
Sumber: wahanavisi.org
Sayangnya, proporsi pemberian ASI dalam 24 jam terakhir pada bayi 0-5 bulan menurut Riskesdas tahun 2018 masih 74,5% artinya cakupannya belum cukup menggembirakan. 

Masih ada sekian persen ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya, masih ada yang menganggap (mungkin) susu formula lebih baik dari ASI yang jelas-jelas nyata benar diciptakan khusus untuk bayinya. Lebih sayangnya lagi, media kita seolah tidak mendukung ASI Eksklusif, pemasaran susu formula lewat iklan yang menggebu-gebu seakan dibiarkan saja melenggang-belagu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun