Travel

Kunjungan Monumen

1 April 2019   21:03 Diperbarui: 1 April 2019   21:28 24 2 1

Monumen Suroto Kunto

Pada kesempatan kali ini dalam pembuatan essay saya memilih Monumen Suroto Kunto karena monument ini merupakan tempat bersejarah yang peristiwa terjadi sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Tempat ini juga sangat dekat dengan tempat tinggal penulis yang dapat dikunjungi dengan jalan kaki sekitar 10 menit. Tugu tersebut tidak dikenai biaya masuk, hanya butuh izin dari penjaga di sana untuk melihat lihat. Penulis sampai di sana pada pukul kurang lebih jam 6.

Karawang berasal dari bahasa sunda Ka-Rawa-An. Artinya tempat yang terdiri dari rawa-rawa. Bukti yang memperkuat pendapat tersebut adalah sekarang masih banyak daerah-daerah yang memakai nama depan rawa diantaranya Rawagede, Rawamerta, Rawasikut, Rawacula,Rrawasari, Rawagabus, Rawagempaol dll.

Sebagai daerah strategis pada masa perjuangan Kabupaten Karawang, dijadikan tempat berkumpulnya para pejuang Kemerdekaan RI, Karawang adalah markas perjuangan laskar-laskar jawa barat dan jakarta. Desa cibalong Rawagede kecamatan rawamwerta, terkenal dengan tragedi pembantaian berdarah 481 orang rakyat oleh tentara kompeni belanda.

Kecamatan Cikampek sebagai basis pertahanan para pejuang kemerdekaan, terkenaldengan peristiwa Cikampek, desa warung bambu, gugurnya lektol Surotokunto, Lektol Surutokunto gugus setela menghadiri perundingan laskar-laskar kemerdekaan untuk menghadapi belanda, bukti peninggalan heroik di warung bambu terdapat monumen Surotokunto.

Di Karawang ada di pinggir ruas jalan raya Warungbambu yang membentant sepanjang cikampek menuju Karawang. Akan terlihat patung berwarna kuning yang sedang meradang sakit, dan di tangan kanan terlihat sebuah bedil dan di tangan kiri nya memegang 2 helm, serta rekannya yang terbaring. Lalu Letnan Kolonel Suroto Kunto Namanya diabadikan menjadi nama jalan yang membentang sepanjang dari daerah Cinangoh.

Di lokasi tempat patung tersebut berada itulah diyakini sebagai lokasi penculikan Suroto Kunto beserta tiga anak buahnya, yaitu Mayor Adel Sofjan, Kopral Muhajar dan prajurit Murod yang bertugas sebagai pengemudi.

Peristiwa ini terjadi pada 28 November 1946 di daerah Warungbambu, Karawang. Suroto Kunto ini seorang Letnan Kolonel di Divisi Siliwangi, berusia 24 tahun. Suroto Kunto diculik oleh Belanda. Pada tahun 1946, Karawang dan Bekasi dijadikan wilayah resimen militer untuk menghadapi agresi militer Belanda.

Saat itu muncullah laskar-laskar rakyat yang menolak bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI). Kondisi itu dimanfaatkan Belanda, untuk mengacaukan TRI divisi Siliwangi sehingga kelompok kelompok bersenjata tersebut menjadi kacau.

Sebelum dilakukan gencatan senjata terhadap Belanda. Letnan Kolonel Suroto inspeksi pasukan ke daerah Cibarusah bersama 3 orang anak buahnya. Akan tetapi ia beserta 3 anak buahnya tidak kembali. Lalu ditunggu sampai esok hari dan tak kunjung kembali ke markas. Lalu TRI segera melakukan pencarian. Pasukan dikerahkan dan menyisir semua area untuk menemukan letkol Suroto.

Pencarian dihentikan sampai menemukan mobil Ford yang terakhir kali digunakan oleh Letkol Suroto Bersama tiga anak buahnya. Saat itu mobil yang terakhir kali digunakan oleh Letkol Suroto Bersama tiga anak buahnya berhenti di tepi area WarungBambu, kunci kotaknya masih menggantung.

Sampai kini LetKol Suroto beserta 3 anak buahnya belum pernah ditemukan. Diduga kuat ia dibunuh oleh gerombolan senjata. Tidak ada yang mengetahui lokasi pasti. Atas dasar itu, Brigjen Daan Yahya yang menjabat komandan resimen, bersama Jendral A.H Nasution menyatakan, Letnan Kolonel Suroto Kunto bersama tiga orang stafnya telah gugur.

Lalu monument ini didirikan pada 10 November 1951 untuk mengenang. Monumen ini didirikan di tepat di lokasi mobil Ford ditemukan. Monumen peringatan ini juga diberi hiasan bintang lima di puncaknya.

Pada tugu tersebut tertulis :

"Tugu Peringatan Dalam Tugas Perdjuangan Kemerdekaan. Telah hilang di tempat ini pada tanggal 28 Nopember 1946: Suroto Kunto (Letkol / Komandan), Adel Sofjan (Major / Kepala Staf), Muhajar (Kopral) dan Murod (Pradjurit) Resimen 6 Brigade III Divisi Siliwangi".

Monumen peringatan tersebut dibongkar. Pada tahun 2008 dibangun monumen peringatan baru berbentuk patung prajurit berwarna kuning keemasan dalam posisi siap tempur dengan ekspresi yang meradang. Pada hari Minggu tanggal 18 Mei 1980, prajurit Siliwangi melakukan upacara "pemakaman syarat", dengan cara menggali tanah di lokasi hilangnya Letkol Suroto Kunto. Tanah galian tersebut untuk kemudian dibawa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Riwayat hidup Letnan Kolonel Suroto itu sendiri. Ia mengenyam Pendidikan AMS-B pada zaman Hindia Belanda. Ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang berikut. Ia tak menuntaskan Pendidikan kedokteran itu karena menolak digunduli sebagai syarat menjadi dokter di era kekuasaan militer Jepang.

Suroto juga ikut dalam perundingan dengan kelompok pemuda lainnya di Laboratorium Bakteriologi Cikini (kini di samping Universitas Bung Karno) pada petang selepas berbuka puasa pada 15 Agustus 1945. Irna Hadi Suwito dalam Chairul Saleh: Tokoh Kontroversial, menuliskan rapat yang dipimpin Chaerul Saleh tersebut membahas strategi untuk menghadapi golongan tua: Sukarno dan Mohammad Hatta.

Letkol Suroto ini termasuk dalam golongan tua. Sebagai golongan muda ia tidak menerima proklamasi kemerdekaan melalui PPKI karena dianggap berbau Jepang.Pasca rapat pemuda pemuda memutuskan untuk menculik Soekarno dari kediamannya dan dipindahkan ke RengasDengklok. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Pengangsaan Timur 56, Jakarta.

Penculikan Soekarno ke Rengasdengklok adalah ide Chairul Saleh dan Sukarni. Di TKR (Tentara Keamanan Rakjat), karier Suroto termasuk moncer. Setelah sempat menjadi bawahan Letnan Kolonel Moeffreni Moe'min (Komandan Resimen V Jakarta Raja yang kemudian berubah jadi Resimen Cikampek), Suroto Kunto kemudian mengambil alih jabatan Moeffreni pada pertengahan 1946.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2