Mohon tunggu...
William Bunkharisma
William Bunkharisma Mohon Tunggu... Mahasiswa yang masih mencari jati diri

Hanya menulis tentang kegelisahan dan pengalaman yang aku alami

Selanjutnya

Tutup

Media

Menelaah Media di Indonesia

8 September 2019   20:33 Diperbarui: 8 September 2019   20:34 0 1 1 Mohon Tunggu...

Rasanya tidak salah jika saya menggambarkan Indonesia sebagai seorang remaja jika kita lihat posisinya di dunia ini. Remaja identik dengan gejolak yang luar biasa, masa-masa pencarian jati diri, masa-masa yang sangat menentukan kemana arah dirinya kelak. Apakah akan menjadi seseorang yang berguna, atau mungkin akan hidup dengan kehancuran di masa mendatang. Faktor-faktor yang mempengaruhi si remaja itu juga banyak sekali, salah satunya informasi apa yang ia terima setiap hari. Sekarang izinkan saya membahas mengenai media.

Jika kita lihat media di Indonesia dengan di luar negeri, pasti kalian akan menemukan perbedaan yang cukup kentara. Bukan soal kualitas kamera atau keindahan tulisan-tulisan dari media asing yang ingin aku sorot disini, tapi konten dari media itu sendiri. Ayahku pernah berkata "Coba lihat berita-berita di Indonesia, isinya tidak ada yang bagus untuk masyarakat, kasus pemerkosaan, pembunuhan, korupsi, pertengkaran antar suku, ras dan agama. Itu semua bukan hal yang bagus untuk bisa disebut sebagai media untuk sebuah konsumsi publik". 

Setelah mendengar perkataan itu saya tidak membalas apapun yang dia katakan, karena saya sedikit ragu dengan pendapatnya. Waktu itu menurut saya, kalau tidak ada yang memberitakan hal itu, nantinya masyarakat Indonesia tidak akan tahu sebenarnya apa yang terjadi di negaranya sendiri. Mungkin kalian beberapa juga ada yang sepemikiran dengan pendapat saya diatas, tapi sebenarnya pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Setelah aku menelaah dengan teliti media-media di luar negeri, terutama di negara-negara maju. Saya menemukan perbedaan yang kontras, hampir semua isi beritanya adalah pengetahuan-pengetahuan umum, yang bisa membantu cara kita berpikir. Sebenarnya tidak salah bagi media untuk menampilkan apa yang konsumen gemari isinya, tapi apakah benar untuk dikonsumsi konsumen berita itu? sama seperti anak remaja, kita harus paparkan mereka dengan hal-hal positif agar mereka dapat berkembang menjadi hal yang positif juga. Bayangkan saja jika anak kalian tumbuh dengan tontonan berita kasus pelecehan seksual setiap harinya, anak-anak akan menganggap jika pelecehan itu adalah hal yang normal terjadi. Pun kasusnya sama dengan korupsi para pejabat, mereka juga akan mencontoh hal tersebut.

Mari kita lihat sama-sama, berita-berita di Indonesia lebih terkesan persuasif ke arah negatif dan tidak memberikan solusi sama sekali terhadap suatu permasalahan, maksud saya disini persuasif seperti contoh kasus demo di BAWASLU kemarin. Banyak oknum-oknum wartawan yang mungkin tanpa mereka sadari telah memberikan berita yang tidak memberikan nilai-nilai apapun kepada pembaca/pendengarnya, membiarkan pengkonsumsi berita tersebut diam dan bingung dengan apa yang harus dilakukan. Dan akhirnya bisa menjerumus kepada hal-hal yang seharusnya para pengkonsumsinya tidak lakukan agar tidak memperkeruh suasana. 

Dibandingkan dengan berita di luar negeri, mereka memberikan saran dan memberikan jalan keluar bagi para pengkonsumsinya, tidak membiarkan para konsumennya tersesat tanpa arah. Kemudian, berita yang kontennya tersebar secara parsial juga kerap menimbulkan pengkonsumsinya kebingungan. Untuk memperoleh fakta yang akurat, tentu kita perlu untuk mencari dari berbagai sudut pandang, dari berbagai sumber. 

Bukannya hanya mencari dari satu sumber kemudian langsung dijadikan berita, akibatnya masyarakat sendiri yang harus mengecek kebenaran dari berita itu yang mungkin bisa saja pembaca berita masih belum bisa menemukan mana yang fakta, mana yang bukan. Terlebih lagi, seperti analogi saya tadi yang menggambarkan Indonesia sebagai remaja. Masyarakat Indonesia masih seperti remaja yang masih perlu dituntun, perlu seorang mentor untuk membantu dia menemukan jati dirinya.

Media juga Identik dengan politik, kenetralan media memang sudah sangat jarang di dunia ini. Tapi mengingat masyarakat Indonesia yang masih butuh pencerdasan tentang pola pikirnya, rasanya ketidaknetralan media bukanlah opsi yang tepat untuk memenangkan kubu calon tertentu. 

Contohnya seperti pada hari-hari kampanye pemilu kemarin, banyak media-media yang mendukung kubu tertentu, memiliki presentase jumlah berita positif terhadap kubu yang didukungnya lebih tinggi, ketimbang dengan pasangan sebelah yang cenderung untuk mengandung berita dengan isi berita negatif. Hal ini bisa saja makin memecah masyarakat di Indonesia, dengan panasnya kedua kubu akibat berita hoax di internet yang menuding pasangan yang satu dengan yang lain. 

Ditambah lagi dengan media yang mencontohkan persaingan di dunia maya, menurut saya turut memperkeruh keadaan. Mski masih ada berita-berita yang katanya tidak berkubu, tapi masyarakat tetap masih tidak percaya hal tersebut karena itu tadi. Sudah terlanjur di cuci otak bahwa memang sudah ada perkubuan di media ini sehingga masyarakat tidak mudah percaya. Dan itu merupakan hal yang ada sisi positifnya, masyarakat akan menjadi lebih selektif dan kritis dalam melihat sebuah berita dari sumber manapun.

Dari beberapa pendapat saya diatas, saya menyimpulkan jika media itu memainkan peran yang sangat signifikan untuk kemajuan suatu bangsa. Media menjadi salah satu aspek yang penting selain pendidikan. Terlepas dari seluruh kondisi saat ini, saya tidak bisa menyalahkan media atas perilaku mereka yang seperti itu, karena mereka juga pasti masih harus mengejar apa yang pembaca mau. Tapi alangkah baiknya jika media tetap berdiri secara independen dan mulai menayangkan berita-berita yang mendongkrak semangat pembacanya, bisa saja dengan menampilkan hal-hal prestatif atau penemuan-penemuan akan sesuatu, yang mendorong semangat masyarakat Indonesia untuk berbuat lebih lagi. 

Bukan malah memberikan sentimen ketidakpercayaan terhadap kelompok tertentu dengan kinerja mereka, itu semua menjerumuskan pembacanya ke arah pikiran-pikiran negatif yang hanya menghambat perkembangan mereka. Di samping media yang saya harap bisa berbenah, saya juga berharap kepada pembaca, saya yakin kalian semua punya kemampuan untuk menelaah berita di Indonesia, tolong jangan telan mentah-mentah apa yang disajikan kepada kalian. Olah lah berita atau informasi itu dengan mencari fakta-fakta lainnya, dan ambil lah pelajaran dari berita itu.

Sekian pandangan saya mengenai media di Indonesia, saya harap media Indonesia bisa terus maju. Demi Indonesia yang lebih baik.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x