Mohon tunggu...
Wilibaldus Sae Delu
Wilibaldus Sae Delu Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis dan peneliti Yayasan Dian Peradaban Negeri

Anak kampung yang bermimpi hidup abadi di kolong langit.

Selanjutnya

Tutup

Financial

Uangku Sayang, Uangku Malang

24 September 2022   00:54 Diperbarui: 24 September 2022   16:25 75 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
(Ilustrasi: HarianNews.com)

Hari masih pagi. Jam dinding di kamar kosku menunjukkan pukul 08.15 WITA. Sejak semalam saya belum bisa memejamkan mata untuk tidur barang sejenak. Musabab batas regis yang tinggal esok hari, saya berpikir keras bagaimana bisa mendapatkan uang dalam waktu dekat. Susah memang, jangankan untuk membayar regis, biaya makan sehari saja sulit bukan main. Andai saja terlahir dari keluarga yang serba ada, tentu kondisiku tidaklah demikian.

Dalam keadaan yang demikian terdesak, tiba-tiba Hpku berdering. Ada nomor baru yang memanggil. Dari seberang terdengar suara seorang perempuan menyapaku lembut, "Halo, selamat siang. Apa benar ini dengan bapak Baldus Sae?" "Iya benar", jawabku singkat. "Selamat ya, pak. Bapak mendapatkan hadiah uang tunai sebesaar Rp 15.000.000 dari BRI. Proficiat ya, pak", sambungnya.

"Maksudnya bagaimana ya bu?" tanyaku penasaran. "Sebagai nasabah BRI, bapak terpilih menjadi pemenang undian gebyar BRI kali ini pak, sekali lagi selamat ya pak", timpalnya dari seberang untuk meyakinkanku. Bukan main, saya melonjak kegirangan. "Terima kasih Tuhan, Engkau sudah menjawab doaku semalam", batinku.

Untuk mendapatkan uang tersebut, saya diperintahkan oleh si perempuan ini untuk segera ke ATM terdekat. "Bapa segera ke ATM terdekat sekarang dan ikuti petunjuk kami ya, pak!" tegasnya. Tanpa berpikir panjang, saya segera bergegas menuju gerai ATM yang kebetulan tidak jauh dari kos.

Sesampai di ATM, saya diminta untuk memasukan kartu dan menekan tombol angka seperti yang mereka perintahkan. Tanpa membutuhkan waktu lama, dalam sekejap saldo di ATM sejumlah Rp 250.000 hilang. Di saat yang sama, telepon ia matikan. Saya hanya bisa menahan napas, tak tahu harus buat apa. Uang regis kuliah belum ada, saldo di ATM raib pula.

Nasabah Bijak yang budiman, modus penipuan yang demikian sudah banyak menelan korban. Tidak jarang calon korban diiming-imingi dengan uang berjumlah fantastis. Kita seolah dihipnotis dengan kata-kata manis dan janji muluk yang tak pernah mungkin terwujud. Menyesal? Jelas iya, tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Terlambat.

Nah, supaya kejadian serupa tidak terulang dan tidak memakan korban baru, sobat BRI mesti lebih hati-hati dalam bertransaksi. Terlebih atas permintaan dari orang yang tidak kita kenal. Jangan pernah langsung percaya apabila ada telepon dari nomor yang tidak kita kenal. Terlebih bila ia mengaku sebagai petugas Bank dan meminta kode OTP.

Apabila sobat BRI mengalami hal demikian, segera akhiri pembicaraan. Untuk memastikan validitas informasinya, silahkan menghubungi layanan konsumen (Call Centre) resmi pihak Bank. Satu hal yang tidak boleh sobat BRI lakukan adalah jangan pernah mengambil keputusan sepihak untuk menuruti apa kata mereka.

Di era digital sekarang, rasa-rasanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat berbanding lurus dengan modus penipuan yang dilakukan. Tidak saja melalui telepon, tetapi juga melalui platform media sosial misalnya, modus pinjaman online hingga pada peretasan data pribadi.

Modus penipuan dan kejahatan yang terjadi di perbankan berbasis digital itu beragam jenis, antara lain; penggandaan data nasabah melalui mesin ATM yang menggunakan alat skimmer (Skimming); penggandaan data nasabah melalui layanan internet banking, SMS dan penyebaran link palsu (phising); pelaku menyedot data nasabah melalui situs jual beli (On Time Password -- OTP); pelaku menghubungi korban melalui telepon dan mengaku sebagai pegawai bank (vishing); dan pencurian data dengan mengambil alih nomor HP untuk mengakses akun perbankan korban (Sim Swap).

Sebagai generasi milenial yang akrab dengan teknologi digital, tentu kita tidak ingin menjadi korban penipuan dan kejahatan perbankan berbasis digital, bukan? Sudah saatnya kita membekali diri dengan literasi yang kuat. Literasi yang dimaksud bukan sekedar membaca dan menulis (literasi dasar). Penting bagi kita untuk membekali diri dengan literasi keuangan. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa terhindar dari aneka modus penipuan, mengetahui macam-macam produk keuangan dan mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan