Mohon tunggu...
Wildan Nurul Anam
Wildan Nurul Anam Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta - Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta - Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ibu Saringatun, Sang Penyalur Kabar

4 November 2021   22:05 Diperbarui: 5 November 2021   03:15 573
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Usia tua tak menghalangi niat seseorang untuk mencari nafkah, begitu juga denga ibu Saringatun yang berasal dari Dukuh Kedungrandu, Desa Tanahsari, Kabupaten Kebumen ini. Meski telah berusia lanjut, Ibu Saringatun tetap berjualan koran untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari untuk dirinya dan keluarganya.

Wanita berusia 63 tahun setiap pagi selalu terlihat diperempatan Tugu Lawet (titik kota kebumen). Setiap hari ia berangkat diantar oleh anaknya menggunakan sepeda motor dan mulai berjualan dari pukul 06.00 pagi, ketika ia merasa lelah barulah ia akan pulang ke rumah meskipun penjualan koran hari itu tidak habis. 

Satu bendel koran dihargai sebesar Rp.3000,00-, ibu Saringatun hanya mendapatkan untung sebesar Rp.700,00- jika ditotal perhari ia hanya mendapatkan upah Rp.21.000,00- saja, meskipun begitu ia tetap bersyukur dengan apa yang diberi dari-Nya.

Sejak 2013 yang lalu ibu Saringatun mulai menekuni pekerjaannya sebagai penjual koran, kurang lebih 7 tahun sudah ia menekuni profesinya ini. Dengan berbagai suka dukanya ia jalani dengan sabar dan ikhlas. 

Bahkan terkadang koran yang diperjual belikan tidak laku terjual, nantinya sisa koran yang tidak terjual tersebut dikembalikan lagi ke agen atau bosnya sebagai tanda bukti, setelah itu barulah ia diberi upah dari penjualan koran hari itu.

Sebelum menjadi penjual koran seperti saat ini, dulunya ibu saringatun pernah berjualan nasi uduk dan jajanan tradisional di stasiun ataupun di dalam kereta. 

Namun setelah munculnya peraturan dari pemerintah atau pihak stasiun yang tidak memperbolehkan adanya penjual illegal masuk di stasiun dan kereta akhirnya ibu Saringatun berhenti dari pekerjaan itu. 

Lalu temannya menawarkan kepada ibu Saringatun untuk ikut menjadi penjual koran hingga saat ini.

Teriknya panas matahari tidak menjadi halangan ia untuk mencari sesuap nasi dari hasil berjualan koran. Latar belakang ia menekuni profesi sebagai penjual koran tak lain dikarenakan kondisi perekonomian keluarganya. Ibu Saringatun beserta suami memiliki 7 anak dan 8 cucu. 

Saat ini Ibu Saringatun masih harus mencukupi kebutuhan untuk 3 anaknya yang masih menuntut ilmu di jenjang SMA/SMK. Suaminya hanya seorang buruh yang penghasilannya tidak seberapa, maka dari itu ibu Saringatun berinisiatif membantu suaminya dalam mencari nafkah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun