Mohon tunggu...
Wijatnika Ika
Wijatnika Ika Mohon Tunggu... When women happy, the world happier

Blogger, Writer, Social Worker, Thinker, Painter | Awardee International Fellowship Program (IFP) di Universitas Indonesia dan University of Arkansas | Blog: www.wijatnikaika.id | Twitter: @Wijatnika45 | Facebook: Wijatnika Ika

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Jihad Melawan Kekerasan Seksual Sejak dalam Pikiran

19 September 2019   15:00 Diperbarui: 19 September 2019   16:14 0 7 8 Mohon Tunggu...
Jihad Melawan Kekerasan Seksual Sejak dalam Pikiran
Mari akhiri kekerasan seksual secara bergotong-royong. Sumber: thedailystar.net

"Bajunya terbuka sih, pantes aja diperkosa."
"Makanya pakai baju yang bener, jangan ngundang kejahatan!"
"Dandanan wajahnya mesum sih, bikin orang ingin merkosa aja."
"Kamu kok agresif sih jadi cewek, pengen dipake ya?"
"Makanya pake jilbab biar nggak diperkosa!"
"Jangan temenan sama cowok, ntar diperkosa lho."
"Jangan ngelawan jadi cewek! Diperkosa baru nyaho loe!"
"Makanya bayar hutang loe kalau nggak mau digilir!"
"Woi setan. Kalau loe nantang, gw perkosa cewek loe!"

Kata-kata demikian seringkali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Fokus pembahasan mengenai pemerkosaan sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual adalah pakaian. Hal lainnya adalah ancaman dalam rangka menundukkan proses critical thinking korban agar patuh pada kehendak pelaku. Karenanya, pemerkosaan memang bukan soal seks melainkan soal penindasan dan penghinaan.

Seumur hidup, aku pernah hampir menjadi korban pemerkosaan sebanyak 4 kali berturut-turut. Saat itu aku masih mahasiswa S1 dan pakaian yang sehari-hari aku kenakan adalah gamis serta kerudung panjang, macam ukhti-ukhti lah, karena aku juga dulu dipanggil ukhti. Kejadian paling parah adalah ketika di bus dalam perjalanan pulang ke rumah. Sepertinya sejumlah orang dalam mobil adalah komplotan sehingga aku terpaksa turun di kampung orang karena ketakutan dan itu malam hari. 

Sejak saat itu aku tidak lagi percaya bahwa pakaian memberi pengaruh signifikan bagi pencegahan pemerkosaan. Pengalaman terakhir melibatkan tukang ojek dalam suasana hujan dan jalan yang gelap saat melintasi perkebunan di perbatasan Bukit Kemuning dan Lampung Barat. Dalam perjalanan sang Bapak Ojek bercerita tentang seorang rekan sesama tukang ojek yang memerkosa penumpangnya sendiri. 

"Ada tuh orang sana, tukang ojek juga yang memang ganteng tapi ya gitu deh, mesum! Dia pernah merkosa penumpangnya. Setelah puas trus si cewek diantar pulang ke rumahnya trus biaya ojeknya digratisin," katanya. Ceritanya kok aneh ya, seakan-akan si cewek diam aja diperkosa dan nggak melawan dan malah mau diantar pulang oleh pemerkosanya. 

"Oh gitu ya, Pak. Kalau saya ke mana-mana bawa pisau, Pak. Buat jaga-jaga. Kalau mau gerak cepat ya tinggal cabut jarum pentul aja dari jilbab, ditusukin ke leher atau mata cowok bajingan gitu, Pak." Jawabku sebagai warning. Karena kupikir justru si Bapak lah pelaku pemerkosaan yang disamarkan sebagai orang lain. 

"Oh gitu ya, Neng." Katanya.
"Ya, Pak. Kalau ada orang berani coba perkosa saya akan saya bunuh!" Aku mengancam.
"Wah Eneng berani juga ya orangnya," katanya dengan suara agak bergetar.
"Iya, Pak karena mereka jahat. Nggak mikir lahir dari perempuan juga," pungkasku. 

Trus karena hujan deras si Bapak berhenti di sebuah gubuk tempat penampungan air warga. Nggak ada lampunya dan gelap, dan hujan. Horor banget pokoknya. Saat berteduh tiba-tiba si Bapak melipir ke belakang gubuk, mengaku mau pipis. Pas aku tunggu-tunggu si Bapak nggak muncul juga padahal hujan udah agak reda. Kuambil pisau dan buah apel dari tasku dan si Bapak muncul dari arah lain, dari arah belakangku. Aku memberinya warning. Aku tahu apa rencananya dengan mengambil jalur lain sepulang pipis. Dia pikir aku bego dan nggak bisa mencium rencana jahatnya kepadaku.

Oke, pembaca mungkin bertanya mengapa aku masih menumpang ojek si Bapak mesum dan nggak beralih ke angkutan lain? Idealnya demikian. Masalahnya saat itu hujan dan malam hari. Bis udah nggak ada, angkutan lain nggak ada, rumah-rumah penduduk sepi nggak bisa minta tolong dan rumahku masih sangat jauh sehingga nggak mungkin aku lari, yang ada kakiku bakal pengkor.

Lagian kalau lari justru aku akan jadi santapan empuk. Maka kugenggam pisauku sembari memakan apel sampai si Bapak mengantarkanku ke gang depan rumah (ingat ya bukan di depan halaman rumah). Lega rasanya bisa menyelamatkan diri dari kemungkinan menjadi korban pemerkosaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4