Mohon tunggu...
Wijatnika Ika
Wijatnika Ika Mohon Tunggu... When women happy, the world happier

Blogger, Writer, Social Worker, Thinker, Painter | Awardee International Fellowship Program (IFP) di Universitas Indonesia dan University of Arkansas | Blog: www.wijatnikaika.id | Twitter: @Wijatnika45 | Facebook: Wijatnika Ika

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Artikel Utama

Di Bulan Ramadhan, Sepi Menjadi Kawan Setia Anak-anak "Broken Home"

21 Mei 2018   05:30 Diperbarui: 22 Mei 2018   08:15 0 5 3 Mohon Tunggu...
Di Bulan Ramadhan, Sepi Menjadi Kawan Setia Anak-anak "Broken Home"
Twitter.com/Abiuaminaelias

Umat  Islam di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa di bulan  Ramadhan, sebagai salah satu kewajiban yang termasuk dalam Rukun Islam.  Ramadhan tidak saja merupakan ibadah wajib tahunan yang begitu membuai  karena limpahan pahala yang dijanjikan Allah. Juga karena suasana khas  yang tidak akan pernah ditemukan di sebelas bulan lainnya.

Misalnya, anggota keluarga selalu berusaha untuk makan sahur dan berbuka  bersama-sama dalam satu meja. Setiap orang bergegas untuk pulang ke  rumah demi merasakan nikmatnya berbuka bersama keluarga.

Suasana ini  merupakan jenis kebahagiaan yang dikejar banyak orang di bulan Ramadhan.  Sungguh kenikmatan tiada banding dan berbuah pahala yang  berlipat-lipat.

Sayangnya, tidak semua orang dapat merasakan kebahagiaan semacam itu. Contohnya adalah anak-anak dari keluarga broken home alias keluarga yang kedua orangtua berpisah entah karena perceraian  atau memang keluarga sudah tidak berfungsi lagi.

Anak-anak ini menjalani ibadah puasa Ramadhan dalam suasana sepi dan senyap di ruang segi empat  kos-kosan, menikmati hidangan sahur dengan sepasang mata berkaca-kaca  karena ditikam rasa sepi yang menggigit, dan menunggu dering telepon  dari orangtua yang tak kunjung bertanya tentang kabar mereka.

Saat berbuka tiba, mereka harus menahan tangis dan mengelus dada karena  merasakan sepi di tengah keramaian suasana buka bersama dengan teman  kuliah atau rekan kerja.

Mereka selalu merasa iri dengan sejumlah  keluarga kecil yang buka puasa bersama dalam keceriaan. Lagi-lagi dering  telepon dari ayah dan ibu tak kunjung menyapa, kemana mereka? Tidakkah  para orangtua rindu pada anaknya yang tengah menunggu sapa hangat dari  mereka?

Dalam sebuah akun Instagram yang followernya adalah anak-anak dari keluarga broken home,  terdapat sebuah diskusi kecil tentang perasaan para pengikutnya dalam  menjalani ibadah puasa ramadhan tanpa keluarga. Juga tentang lebaran  yang entah akan dirayakan di mana. Bagi anak-anak dari keluarga broken home yang tidak punya tempat pulang, puasa dan lebaran adalah paket  kesedihan yang tidak terwakilkan kata-kata. Rumah yang saya maksud  disini bukan sebuah bangunan tempat keluarga tinggal, tetapi hati kedua  orangtua. Saat hati orangtua tak mampu menjadi rumah bagi anak-anaknya,  maka anak-anak yang hatinya terluka itu tak punya tempat pulang untuk  merayakan lebaran. Saat orang lain sibuk mempersiapkan tiket mudik,  mereka hanya diam terpaku dalam kesedihan. Ini adalah jenis kesedihan  dan kekosongan yang paling menyiksa perasaan. Di dunia ini, tidak ada  seorangpun yang ingin menjalani keterasingan dalam keluarga sendiri.  Tapi, apa boleh buat, anak-anak ini tak mampu menyatukan mahligai yang  telah retak.

Tidak seorangpun ingin tumbuh dalam keluarga yang gagal dan anak-anak broken home tahu bagaimana mengelola emosi agar mampu menghadapi keadaan dengan  tegar dan tenang. Saat orang-orang merayakan kenikmatan Ramadhan dan  Lebaran dalam keceriaan bersama keluarga, mereka pun turut tersenyum,  turut senang untuk anak-anak yang beruntung hidup dalam keluarga utuh  dan bahagia. Sikap ini membuat mereka semakin tangguh dan tegar dalam  menghadapi tantangan hidup, untuk menjadi orang yang baik, sukses dan  membanggakan meski ditempa oleh suasana sulit serta penuh tekanan batin. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2