Mohon tunggu...
Dwi Pakpahan
Dwi Pakpahan Mohon Tunggu... Lainnya - Perempuan

WNI

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Saksi Bisu

8 Maret 2021   16:13 Diperbarui: 8 Maret 2021   20:37 225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Siang mencekam,
Kau tak menyentuh makananmu.
Aku tertawa sinis.

Lidahku lincah menari melahap habis si kimchi, makanan korea yang lebih menggoda dibandingkan transaksimu.

Transaksi mengerikan yang tak kuharapkan.

Kau menatapku seakan ingin mengulitiku.  

Mataku melihatmu, indra penciumanku mengendus aroma kelicikanmu.

Apa maumu?

Hidup sudah susah jangan buat makin susah, mari kita mengayuh kapal masing-masing.

Aku tak akan menghardikmu dan aku tak akan bisa menghentikan segala sepak terjangmu.

Mengapa kau membuatku serba salah? Kau mencekikku.

Sudahlah!
Biarkan aku dengan hidupku.
Anggap saja aku patung pancoran.

Tenang saja, telingaku sudah kubungkus rapat dengan bisikan-bisikan kedamaian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun