Mohon tunggu...
Widya Meisya
Widya Meisya Mohon Tunggu... XII MIPA 6

Hello 👋

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Teks Kritik Film "Perburuan": Romansa di Zaman Kolonialisme Jepang

12 Maret 2021   09:38 Diperbarui: 12 Maret 2021   09:48 130 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Teks Kritik Film "Perburuan": Romansa di Zaman Kolonialisme Jepang
Liputan6.com

Kolonialisme atau Penjajahan adalah suatu sistem di mana suatu negara menguasai rakyat dan sumber daya negara lain tetapi masih tetap berhubungan dengan negara asal, istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.
(Wikipedia.org)

Masa penjajahan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942. Secara resmi Jepang telah menguasai Indonesia sejak 8 Maret 1942 ketika Panglima Tertinggi Pemerintah kolonial Hindia Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Bandung. Kemudian berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta.

Perburuan adalah sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berlatar masa penjajahan Jepang di Indonesia. Novel Perburuan diterbitkan pada tahun 1950 oleh penerbit Balai Pustaka. Novel ini kemudian diadaptasi menjadi film yang disutradai oleh Richard Oh dan ditayangkan pada 15 Agustus 2019.

Film Perburuan dibintangi oleh Adipati Dolken, Ayushita Nugraha, Ernest Samudra, Khiva Ishak, Rizky Mocil, dan Michael Kho. Film ini memiliki durasi selama 98 menit dan diproduksi oleh Falcon Pictures.

Cerita diawali dari Hardo (Adipati Dolken) yang merupakan seorang Shodancho (Komandan Peleton) tentara PETA (Pembela Tanah Air), dan Dipo (Ernest Samudra) yang diberitahu oleh Kartiman (Rizky Mocil) tentang Supriyadi yang sudah bertemu dengan Soekarno untuk meminta bantuan melakukan pemberontakan terhadap Jepang. Akan tetapi, Soekarno menolak untuk membantunya. Walaupun begitu, Supriyadi tetap ingin menyerang Jepang. Lalu Hardo, Dipo, Kartiman, Karmin (Khiva Ishak) dan beberapa perajurit lain ingin ikut menyerang Jepang dan mengambil beberapa daerah mereka dari tangan Jepang. Namun, pemberontakan tersebut gagal dan Hardo menjadi buronan.

Kemudian Hardo dan prajuritnya mencari tempat untuk bersembunyi dari prajurit Nippon (Prajurit Jepang). Mereka bersembunyi di dalam goa. Lalu, Dipo, Karmin, Kartiman dan para prajurit lain meninggalkan Hardo sendirian di goa. Hardo merasa frustasi karena diburu oleh tentara Jepang dan ditinggalkan teman-temannya.  Disamping itu, orang tua Hardo merasa sangat kehilangannya. Bahkan tidak lama kemudian ibunya meninggal karena sakit. Ayah Hardo kemudian berusaha mencari Hardo namun tidak berhasil menemukannya.

Cerita perjuangan melawan penjajah tersebut diselipi dengan romansa dalam bentuk flashback antara Hardo dan Ningsih (Ayushita Nugraha) yang merupakan tunangannya.

Enam bulan setelah kegagalan PETA melawan Nippon, Hardo kembali ke kampung halamannya di Blora, Jawa Tengah. Kehadirannya segera tercium oleh Nippon dan dia mulai dilacak dan dikejar. Selain nyawanya berada dalam ancaman Nippon, dia juga terpisah dengan tunangannya, Ningsih.

Dalam sebuah pengejaran selama satu hari dan malam menjelang proklamasi kemerdekaan, sebuah drama perjuangan terungkap. Dimulai dari pengkhianatan ayah tunangan Hardo, pengkhianatan teman seperjuangannya Karmin, perlawanan Dipo dan Kartiman yang berbanding dengan perlawanan Hardo, kekejaman perang dan ego sang penjajah Jepang, seorang Shidokan Nippon berbanding dengan keterpurukan korban perang seorang ayah Hardo dan Ningsih, tumpuan harapan Ibu pertiwi.

Secara garis besar, film Perburuan menceritakan tentang perburuan terhadap Hardo dan dampak yang ditimbulkan untuk orang-orang di sekitarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN