Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Pegawai Kantoran

Blogger, senang menulis, jeprat-jepret, masak nasi goreng dan jalan-jalan ........ wdkrn.com

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Diterima Jadi PNS, Kok Malah Mundur?

12 September 2018   21:55 Diperbarui: 13 September 2018   09:21 2560 8 5
Diterima Jadi PNS, Kok Malah Mundur?
Tes CPNS (sumber foto: Kompas.com/Tribun/Herudin)

Tak lama lagi tes penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) akan segera digelar. Para pelamar dapat memilih akan mendaftar untuk penerimaan pada instansi pusat maupun daerah.

Meskipun belum resmi dibuka dan diumumkan, tetapi sudah banyak terdengar bahwa penerimaan CPNS ini akan diserbu pelamar. Seperti saat saya tak sengaja mendengar perbincangan di dalam KRL Commuterline sore tadi.

"Sepertinya banyak deh, rata-rata karyawan di lantai tempatku bilang mau daftar. Banyak juga mereka berharap diterima di daerahnya, pulang kampung gitu," ucap seorang pemuda kepada rekannya. Ditilik dari penampilannya, mereka adalah karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Sedemikian menarikkah bagi mereka untuk bisa diterima sebagai CPNS? Sebagai abdi negara? Hingga status pekerjaan saat ini pun rela ditinggalkan demi peluang menjadi CPNS? Menurut saya sah-sah saja. Setiap orang berhak dan memiliki alasannya masing-masing.

Hanya saja, tahukah anda bahwa setiap tahun selalu saja ada PNS atau bahkan yang masih berstatus sebagai Calon PNS (CPNS) malah mengundurkan diri dengan beragam alasan?

Beberapa tahun lalu ada tiga orang teman saya yang kemudian mengundurkan diri, meski baru seumur jagung diangkat menjadi PNS. Alasannya hampir senada, mereka tidak kuat harus berpisah dengan keluarga karena ditempatkan di daerah terpencil, bahkan kepulauan yang akses transportasinya sangatlah terbatas. Padahal sejak awal menjadi CPNS, pasti sudah dibekali pemahaman bahwa mereka harus siap ditempatkan di mana saja.

Di satu sisi alasan semacam itu manusiawi dan bisa dipahami. Pada sisi lain, pemerintah dirugikan karena kehilangan sumber daya manusia yang untuk anggaran tes seleksinya saja butuh biaya tidak sedikit.

Persoalan penempatan pegawai ini memang banyak terjadi pada instansi/lembaga atau Kementerian yang memiliki kepanjangan tangan di daerah alias vertikal, misal Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (BPN), BKKBN dan lainnya.

Memang saat ini untuk menyikapi hal tersebut dibuat formasi penerimaan dengan menyebutkan nama jabatan dan daerah yang menerima lowongan. Misalnya untuk posisi petugas ukur di Kantor Pertanahan Kabupaten Kepulauan Anambas. Karena dalam hal ini instansi BPN membuka seleksi CPNS secara nasional maka bisa jadi pelamarnya dari berbagai daerah di Indonesia untuk posisi tersebut.

Bisa jadi pula si pelamar yang sudah diterima di Anambas ini berasal dari Kota Solo dan ketika dijalani ternyata sungguh terasa berat nian menjadi abdi negara di daerah tersebut. 

Sementara untuk minta pindah mungkin bakal terkabul setelah belasan tahun mengabdi di sana mengingat keterbatasan SDM dibandingkan kebutuhan tenaga di seluruh pelosok nusantara.

Nah, kalau anda berminat melamar CPNS dan tidak ingin menghadapi kendala yang sama, maka harus pintar-pintar memilih instansi yang tidak beresiko dengan penempatan semacam itu. 

Mendaftar di Pemda di kampung halaman sendiri adalah jalan aman jika takut bertualang. Pun Kementerian pusat di Jakarta yang bukan termasuk instansi vertikal sepertinya juga tidak akan bisa menempatkan pegawainya di tempat yang jauh.

Maka, riset dan mencari data tentang instansi yang akan dilamar tentu menjadi keharusan. Jangan karena "katanya orang enak" atau melihat si anu bisa hidup enak jadi PNS di suatu instansi, maka anda pun ikut tergopoh-gopoh mendaftar ke sana.

"Bro, dulu aku masuk PNS pengennya kerja santai dan enak, kok malah begini ya? Tiap hari pulang malam dan hari libur pun kadang ditelepon atasan, capek deh," serius inilah curhat seorang kawan yang kini bekerja di sebuah Kementerian.

Ya, perlu diketahui, meski labelnya sama-sama PNS, tiap pegawai bisa saja memiliki tugas yang berbeda. Kalau di sebuah Kementerian pusat dan posisi penempatannya di lingkaran dekat dengan seorang pejabat Eselon I atau bahkan Menteri, seperti halnya di Humas, Protokol, Tata Usaha, dan lain sebagainya, bisa-bisa anda pulang ke rumah hanya untuk numpang merem beberapa jam saja.

Faktor kekagetan masuk ke dunia birokrasi masa kini sebagai PNS, menjadi hal yang biasanya melatarbelakangi seseorang untuk mengundurkan diri. Tahun ini saja saya sudah menemukan beberapa CPNS yang masih dalam masa percobaan dan mereka menyerah hanya dalam beberapa bulan. Padahal dalam beberapa bulan awal kan masih masa orientasi dan masa Diklat, belum terjun sepenuhnya menggawangi sebagai abdi negara.

Jika mundurnya mereka sebelum resmi mendapat SK CPNS, biasanya masih bisa diganti dengan peserta dengan peringkat di bawahnya. Tetapi masalahnya menjadi lain ketika seseorang sudah menggenggam SK CPNS dan berhak memperoleh 80% gaji, tiba-tiba menyatakan mengundurkan diri. Tentu saja posisi mereka tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Kasus semacam ini beberapa waktu lalu sempat mencuat dan ditanggapi beragam melalui media sosial. Kabar mundurnya CPNS banyak disesalkan oleh mereka yang telah berjuang dan gagal saat seleksi.

Ya, tentu disayangkan hal demikian meskipun alasan seseorang bisa jadi telah dipikirkan dengan renungan mendalam. Nah, sebelum tes seleksi CPNS resmi dibuka semoga tulisan ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi yang berminat melamar jadi CPNS.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2