Widi Kurniawan
Widi Kurniawan pegawai negeri

Sederhana bukan berarti berfoya-foya ........ wdkrn.com

Selanjutnya

Tutup

Jakarta highlight headline

KRL Anjlok, Beginilah "Penderitaan" Para Penumpang

3 Oktober 2017   16:35 Diperbarui: 3 Oktober 2017   16:38 1812 5 3
KRL Anjlok, Beginilah "Penderitaan" Para Penumpang
Penumpang turun menjelang Stasiun Manggarai (foto: widikurniawan)

Belum lama berlalu tepatnya tanggal 28 September lalu, diperingati Hari Kereta Api. Berarti masih hangat, sehangat kopi yang menemani saya tiap kali menulis artikel beginian. Tapi, belum sempat ikut mengucap selamat, ternyata malah saya duluan yang dapat kado pahit.

Selasa pagi, 3 Oktober 2017, seperti biasa saya naik KRL Commuterline dari Stasiun Bojonggede jurusan Angke dengan stasiun pemberhentian saya adalah Stasiun Sudirman, atau selemparan batu dari Stasiun Manggarai.

Boleh dibilang perjalanan termasuk lancar hingga Stasiun Tebet. Tapi selepas Tebet dan tinggal beberapa ratus meter menjelang Stasiun Manggarai, kereta tiba-tiba berhenti. Satu menit, dua menit, hingga lima menit, kereta tetap tak bergerak.

"Mohon maaf kereta anda saat ini sedang menunggu antrean masuk Stasiun Manggarai," kata announcer dalam kereta.

Bagi penumpang setia KRL, kata-kata itu terdengar biasa. Ya, memang sebuah situasi yang biasa ketika KRL dari arah Bogor tertahan ketika akan masuk Manggarai. Biasa itu mah... biasa...

Tapi menjadi luar biasa ketika ada bisik-bisik informasi bahwa ada sebuah KRL Commuterline anjlok di Manggarai.

Penumpang mulai gelisah, keringat bercucuran, dan muka-muka panik tampak bertebaran. Ada yang nge-WA istrinya, ada yang nge-Line rekan kantornya, ada yang nge-SMS istrinya rekan kantor, ada yang nyetatus di Facebook, ada pula yang nge-twit nanya-nanya ke akun @CommuterLine. Kalau sudah begini, menjadi pemandangan wajar jika jendela-jendela KRL mulai dibuka oleh penumpang. Gerah broh...

Menit demi menit berlalu, ketika kegelisahan makin memuncak, akhirnya pintu-pintu KRL pun terbuka. Semula saya pikir masinis yang membuka, tapi menurut gosip yang beredar, malah penumpang yang nekat menarik tuas darurat supaya pintu terbuka.

Segelintir penumpang terlihat mulai melompat turun. Karena tidak juga ada informasi yang memuaskan, segelintir penumpang itu pun mulai diikuti banyak manusia yang memutuskan akan berjuang dengan cara melompat turun dari kereta lalu berjalan menyusuri rel kereta yang penuh kerikil menuju Stasiun Manggarai.

"Hati-hati Pak, sudah tua jangan main lompat aja..." celetuk seorang penumpang.

"Awas Bu, pelan-pelan turunnya pegangan..." cetus yang lain.

Saya saja yang notabene tinggi, gagah dan rada atletis, melihat jarak ketinggian dari kereta ke permukaan tanah rada ngeri-ngeri gimana gitu. Mau lompat takut gagal landing. Mau nunggu kereta jalan tapi tiada kepastian. Dan pastinya menunggu kepastian yang tak pasti adalah situasi paling menjengkelkan.

Akhirnya, dengan tekat bulat, mengumpulkan segala keberanian serta kekuatan, saya pun ambil ancang-ancang dan selanjutnya... turun merayap pelan-pelan dengan berpegangan pada besi di dekat pintu kereta.

Berjalan kaki menuju Stasiun Manggarai (foto widikurniawan)
Berjalan kaki menuju Stasiun Manggarai (foto widikurniawan)

Waktu menunjukkan sudah hampir jam 9 pagi, artinya saya sudah terlambat masuk kantor. Tapi apa mau dikata, sambil berjalan menyusuri rel kereta, saya hanya bisa woles dan ikhlas jika uang harian saya bakal otomatis terpotong gara-gara terlambat. Mana mungkin pula minta ganti rugi sama PT Kereta Commuterline Indonesia? Mau naik yang murah ya sudah begini resikonya, jadinya nombok berkali lipat kalau ada gangguan.

Belum lagi saat bertanya ke petugas sesampainya di Stasiun Manggarai, jawabannya sungguh mencerminkan potensi kerugian yang akan semakin membengkak.

"Ke Tanah Abang nggak ada kereta Pak, silakan cari alternatif kendaraan lain..." ucapnya.

Okelah, tinggal keluar stasiun lalu cari ojek online apa susahnya? Tapi... Emosi saya kembali bergejolak saat melihat padatnya antrean manusia menuju pintu keluar. Beberapa terlihat main dorong, sementara yang lainnya main hati alias manyun saja berdiri dengan tatapan kosong tak tahu hendak ke mana selanjutnya.

Banyak orang yang masih sibuk berkirim pesan dan menelepon. Sudah pasti tema besarnya adalah terlambat gara-gara KRL anjlok. Imbasnya pun ke mana-mana. Ada seseorang yang meratap kalau ia terlambat presentasi, entah presentasi apaan, yang jelas kalau sampai matanya berkaca-kaca itu tandanya presentasi yang menyangkut nasibnya.

Lumayan jauh jarak menuju peron Stasiun Manggarai (foto widikurniawan)
Lumayan jauh jarak menuju peron Stasiun Manggarai (foto widikurniawan)

Jelas butuh waktu lama untuk bisa keluar dari tempat ini. Saya pun tiba-tiba haus dan lapar akibat belum sarapan. Karena takut pingsan dan bakal merepotkan petugas stasiun yang sudah repot, saya pun menuju sebuah minimarket untuk membeli air mineral. Tapi lagi-lagi, tampak antrean mengular menuju kasir hanya untuk membayar sebotol air.

Dalam situasi seperti ini, delay pesawat tampak lebih manusiawi karena minimal wajib menyediakan snack dan minum. Sedangkan KRL? Ah, lagi-lagi penumpang angkutan murah meriah bersubsidi mana bisa menuntut meskipun untuk sekedar segelas air putih?

Nah, lepas dari minimarket yang mendadak laris manis itu, otak saya pun kembali rada encer setelah dapat asupan minum air mineral seharga sepuluh ribu lima ratus rupiah. Mahal amat? Ya iyalah kan ada oksigennya katanya dan soalnya lagi air mineral biasa dengan harga lebih murah sudah sold out.

Daripada memaksakan diri keluar dari Stasiun Manggarai dengan antrean yang panjang, dan belum tentu juga langsung dapat ojek di luar stasiun, saya pun memutuskan pindah peron dan bertanya ke petugas.

"Pak, yang balik ke Bogor ada nggak?" tanya saya.

"Itu di jalur enam..." hening sejenak.

"Eh bukan itu ke Angke..." ralatnya.

"Trus kalau saya mau naik itu nyeberangnya lewat mana?" tanya saya lagi.

"Yang ke Angke juga nggak tahu kapan jalannya..." jawab si petugas tanpa melihat ke arah saya.

Saat saya mau nanya lagi, eh beliaunya malah ngeloyor pergi meninggalkan saya. Ia pindah posisi aman, yang mungkin baginya lebih aman dari pertanyaan orang-orang. Ya saya paham. Mukanya juga kelihatan lelah dan bingung.

Suasana kacau di pintu keluar (foto widikurniawan)
Suasana kacau di pintu keluar (foto widikurniawan)

Tiba-tiba ada pengumuman kalau kereta tujuan Jakarta Kota akan diberangkatkan. Maka, rencana B saya yang mau balik arah Bogor dan turun Tebet atau Kalibata mendadak berubah menjadi rencana C, yakni ikut ke tujuan Jakarta Kota dan turun di Gondangdia, ngojek sebentar ke Sarinah dan naik busway ke Blok M, tempat kerja saya.

Untung rencana C saya cukup berhasil, meski lagi-lagi harus rela keluar ongkos ekstra gara-gara mesti nyewa ojek. Saya pun tidak perlu harus memakai rencana terakhir atau rencana D, yaitu ikut kereta ke arah Bekasi dan dari Bekasi naik bis menuju Blok M. Saya membayangkan rencana D ini akan butuh waktu berjam-jam dan saat sampai di kantor saya cukup absen pulang saja.

Well, apapun, inilah dinamika berkereta. Angkutan massal memang tidak selalu lancar-lancar saja. Meskipun Hari Kereta Api tempo hari bertema "Ayo Naik Kereta", dan ternyata hari ini oleh pihak Commuterline malah disuruh cari alternatif lain, besok-besok dan besoknya saya tetap akan naik kereta.

Bagi saya,  PT Kereta Commuterline Indonesia adalah perusahaan yang selalu punya iktikad baik. Buktinya hampir tiap hari selalu saja terdengar permintaan maaf. Kereta berhenti sejenak nunggu antrean masuk stasiun, pasti announcer minta maaf. Ada keterlambatan kereta, minta maaf juga. Ada gangguan sinyal, minta maaf pula. Apalagi kalau anjlok, minta maafnya pasti berlipat ganda.

Nah, tentu kita sebagai bangsa pemaaf akan selalu memaafkan. Bukan begitu gaes?

KRL yang anjlok tengah dalam perbaikan (foto widikurniawan)
KRL yang anjlok tengah dalam perbaikan (foto widikurniawan)