Mohon tunggu...
Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Mohon Tunggu... Pegawai

Pengguna angkutan umum yang baik dan benar.

Selanjutnya

Tutup

Travel

Melintasi Jalan "Tol", Membelah Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

26 Oktober 2013   09:30 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:01 1374 1 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Melintasi Jalan "Tol", Membelah Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
13827539772104121283

[caption id="attachment_287755" align="aligncenter" width="600" caption="Pintu masuk Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Kabupaten Bombana"][/caption] Perjalanan dari Kendari menuju Kabupaten Bombana, harus melalui sulitnya medan di Kabupaten Konawe Selatan. Melintasi perbukitan curam dengan jalanan sempit dan curam, serta jenis jalanan dengan aspal rusak, adalah kondisi yang harus dinikmati setiap pengendara. Tetapi, begitu kita memasuki sebuah gerbang besar bertuliskan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), bagi orang yang baru pertama kali melewatinya pasti terkejut mendapati jalanan aspal lurus nan mulus bak jalan tol di kota-kota besar. Padahal TNRAW berada di pelosok Sulawesi Tenggara, dan baru bisa dijumpai setelah kita berkendara kurang lebih dua jam perjalanan dari Kota Kendari. Jalanan aspal sepanjang kurang lebih 24 kilometer yang membelah kawasan TNRAW ini memang spesial. Menghubungkan Kecamatan Tinanggea di Kabupaten Konawe Selatan hingga masuk wilayah Kecamatan Lantari Jaya di Kabupaten Bombana. Bisa disebut, inilah gerbang utama menuju Kabupaten Bombana yang terkenal dengan ladang emasnya. Terasa unik bagi Bombana, karena sangat jarang akses masuk sebuah wilayah kabupaten harus ditempuh melewati kawasan sebuah taman nasional. Tahun 2009 silam, saya melewati jalanan ini masih dalam kondisi parah dengan kerikil, batu, pasir dan debu. Kendaraan hanya bisa bergerak lambat dan memakan waktu lama untuk menuju Bombana. Kini, sejak dua tahun belakangan, kondisinya berubah drastis dengan permukaan jalan beraspal kualitas bagus yang didanai melalui program Australia Indonesia Partnership. [caption id="attachment_287756" align="aligncenter" width="600" caption="Prasasti di gerbang masuk TNRAW yang dibangun Australia Indonesia Partnership"]

1382754051288637236
1382754051288637236
[/caption] Beberapa kali saya melewati jalan ini dengan menumpang kendaraan roda empat. Namun, pengalaman berbeda dan berkesan adalah saat harus melewatinya sendirian dengan mengendarai kendaraan roda dua. Jalanan yang sepi dengan sepanjang mata memandang sekeliling hanya terlihat pemandangan padang savanna yang berselang-seling dengan pohon-pohon tua dan langka. Sungguh butuh tekad ekstra untuk melewatinya sendiri. Bayangan paling menakutkan bagi saya adalah jika sepeda motor mogok di tengah taman nasional, entah mengalami ban bocor atau masalah lainnya. Bahkan beberapa kali berhenti untuk mengambil foto pemandangan yang jarang ditemui, sesungguhnya membuat saya agak was-was. Area ini sangat luas dan sangat sepi, jika terjadi apa-apa dengan saya bisa jadi butuh waktu lama untuk minta pertolongan. Jarak dari pemukiman penduduk sangatlah jauh dan saya tidak bisa membayangkan apa yang akan dijumpai seandainya terpaksa berjalan sendirian di tengah kawasan konservasi alam seluas kurang lebih 100.000 hektare ini. Sepanjang jalan ini dipasang banyak rambu peringatan untuk tidak berhenti lebih dari lima menit dan rambu-rambu peringatan bahwa daerah itu merupakan lintasan satwa seperti rusa dan kera hitam. Dan dalam perjalanan pertama saya naik sepeda motor melintasi TNRAW, sungguh ‘beruntung’ saya menemui satwa-satwa seperti ular, biawak dan beberapa burung langka yang melintas jalan. Jenis satwa tersebut adalah sebagian kecil dari aneka satwa langka yang memiliki habitat di taman nasional itu. Sebutlah rusa, kera hitam, buaya rawa, anoa, maleo, elang Sulawesi dan kakak tua. Namun, jenis satwa paling identik dengan taman nasional ini sesungguhnya adalah rusa atau dalam bahasa setempat dikenal dengan sebutan jonga. Konon hingga medio tahun 90-an, pengendara yang melintasi jalanan ini harus berhati-hati jika tidak ingin menabrak jonga yang jumlahnya masih lebih dari sepuluh ribu ekor. Sayang satwa ini tidak terlihat lagi berkeliaran karena populasinya yang menyusut akibat perburuan liar. Daging jonga sudah termashur kelezatannya diperbincangkan oleh orang-orang yang pernah merasakan masa-masa saat jonga mudah untuk diburu. [caption id="attachment_287757" align="aligncenter" width="600" caption="Padang savana, habitat asli rusa atau jonga"]
1382754136640244756
1382754136640244756
[/caption] Kini, jonga memiliki populasi yang jauh menurun dan pengawasan terhadap perburuannya diperketat dengan penjagaan di dua pintu gerbang masuk ke taman nasional ini. Jonga yang tersisa pun tampaknya menjauh dari jalanan untuk mencari aman dari bahaya perburuan dan tabrakan kendaraan. Pengelola TNRAW juga memiliki tempat khusus untuk penangkaran satwa langka ini. Beberapa titik di kawasan TNRAW mulai dibuka untuk aktivitas wisata alam. Pada gerbang masuk dari arah Konawe Selatan, ada akses menuju hutan pendidikan Tatangge. Hutan ini cocok dikunjungi oleh para peneliti dan siswa sekolah untuk mempelajari beragam jenis flora dan fauna unik yang ada di dalamnya. Belum lama, pengelola TNRAW juga memasang papan penunjuk ke area ‘photo hunting’, spot pengamatan burung, wisata pemandian dan area perkemahan. Kawasan taman nasional ini memang terbuka dan potensial sebagai tujuan wisata. Bahkan hanya dengan berkendara melintasi jalanan yang membelah taman nasional ini sudah merupakan pengalaman yang menarik. [caption id="attachment_287758" align="aligncenter" width="600" caption="Beberapa spot area di TNRAW kini difungsikan untuk wisata alam"]
1382754216217820001
1382754216217820001
[/caption] Meski para pengendara yang melintas tidak dihadapkan dengan resiko menabrak jonga lagi, tetapi jalanan baru yang mulus dan memudahkan para pengendara memacu kecepatan tinggi, sesungguhnya sangat dibutuhkan kewaspadaan yang tinggi. Pertama adalah angin. Saya tidak berani memacu motor saya yang berjenis bebek karena hantaman angin berasal dari satu arah saja, yakni dari sisi kiri atau kanan saja. Angin kencang yang tidak terpecah oleh pepohonan di padang savanna, bisa membuat sepeda motor oleng saat dipacu dengan kecepatan tinggi. Kedua, adalah kendaraan berukuran besar, seperti mobil dan truk kerap ngebut di atas batas kecepatan yang diperbolehkan yakni 60 km/jam. Karena jalanan ini bukanlah jalan tol yang hanya dilewati kendaraan besar saja, maka pengendara motor seperti saya merasakan betul bagaimana efek saat dilewati mobil yang memacu melebihi 100 km/jam. Ketiga adalah rasa bosan dan ngantuk. Jalanan yang panjang dan lebih banyak lurusnya, serta kondisi yang sepi bisa menyebabkan pengendara lengah karena bosan dan ngantuk. Terkaget karena laju kencang kendaraan lain tentu bukan solusi jitu untuk mengusir kantuk. Maka dari itu saya acap berhenti sejenak untuk minum air atau sekedar meregangkan otot-otot guna mengusir kantuk. Kawasan TNRAW ini memang kawasan lindung yang harus dijaga kelestariannya. Jalanan aspal yang membelah kawasan ini memungkinkan orang bebas keluar masuk. Tetapi sesungguhnya keberadaan jalan tersebut adalah solusi adil bagi manusia dan alam untuk berbagi. Manusia boleh melewati kawasan itu sepanjang untuk menunaikan perjalanan yang memang harus dilaluinya. Sedangkan alam dan satwa di sekelilingnya berhak tetap hidup di area itu tanpa gangguan dari manusia yang datang untuk merusak atau memburunya. [caption id="attachment_287759" align="aligncenter" width="600" caption="Jalan aspal bak jalan tol yang membelah Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai"]
13827543401477918416
13827543401477918416
[/caption] [caption id="attachment_287761" align="aligncenter" width="600" caption="Segala jenis kendaraan melintas di jalan ini, acap dengan kecepatan tinggi"]
1382754408537911612
1382754408537911612
[/caption] [caption id="attachment_287762" align="aligncenter" width="600" caption="Flora langka banyak terdapat di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai"]
1382754479414879131
1382754479414879131
[/caption]

VIDEO PILIHAN