Mohon tunggu...
Widi Admojo
Widi Admojo Mohon Tunggu... Widiadmojo adalah seorang guru, pemerhati masalah pendidikan, pengurus PGRI cabang di Pejagoan Kebumen

Memiliki ketertarikan dengan masalah pendidikan, humanisme, hak asasi dan pengentasan kemiskinan

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Tidak Perlu Malu Masuk Rumah Sakit Jiwa

9 Oktober 2019   17:04 Diperbarui: 9 Oktober 2019   17:10 0 1 1 Mohon Tunggu...
Tidak Perlu Malu Masuk Rumah Sakit Jiwa
dokpri

Masuk RSJ? Wah gawat nih! Begitu barangkali reaksi spontan begitu mendengar tentang Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Ada semacam sikap antipati, begitu mendengar kata Rumah Sakit Jiwa. Stigma sebagai tempat berhuninya orang gila, orang kesurupan, dan hilang ingatan, agaknya melekat sedemikian rupa, sehingga persepsi orang berobat ke Rumah Sakit Jiwa seolah sebuah aib dari keluarga.

Pandangan kurang menguntungkan terhadap Rumah Sakit Jiwa ini barangkali juga terbawa dari catatan yang terekam di masyarakat bahwa, hanya orang --orang yang menderita gangguan jiwa lah yang layak masuk berobat di rumah sakit ini. Peniaian sebagai rumah sakit orang-orang kurang sehat ingatan  kadang menjadikan rumah sakit ini seperti ekslusif terbatas pada tindakan mengatasi penyakit-penyakit jiwa parah yang biasanya merupakan buangan terakhir ketika tidak ada jalan lain untuk mengobatinya.

Adanya persepsi  bahwa RSJ adalah hunian bagi seseorang yang mengalami gangguan sakit ingatan,  dimana  beberapa masyarakat masih memandang bahwa masuk rumah sakit jiwa adalah aib yang dapat merendahkan martabat keluarga, dan harga diri keluarga,  sering membawa akibat  rasa tidak nyaman bila  harus berobat ke rumah sakit jiwa.  Bahkan ada beberapa yang memilih menangani dengan cara dan metodanya sendiri. Pemasungan, penyingkiran, dan pembiaran yang sebenarnya justru menambah permasalahan baru baik bagi penderita maupun bagi keluarga.

Haruskah takut untuk masuk rumah sakit jiwa ? Untuk menjawabnya barangkali perlu mengetahui layanan apa saja yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dari rumah sakit jiwa. Keuntungan apa saja yang dapat diperoleh jika harus berobat ke rumah sakit jiwa. Serta kerugian apa jika pandangan yang kurang benar terhadap rumah sakit jiwa ini dipelihara.

Secara umum keberadaan rumah sakit jiwa adalah membantu melayani masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan agar tertangani dengan sebaik-baiknya sampai pada terciptanya kondisi jiwa yang sehat. Namanya juga rumah sakit, maka tujuan akhir dari berobat di rumah sakit adalah adanya kesembuhan dari pasien rumah sakit yang sedang mengalami penderitaan.

Gangguan kejiwaan yang tidak tertangani dengan baik, selain menjadi tidak jelas dilihat dari sisi kesembuhannya, juga dapat membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain. Sebagai misal penderita depresi yang akut, kadang terekspresi dari tindakan untuk membunuh dirinya, melukai dirinya, menganiaya orang lain, atau perbuatan lain yang dapat merugikan. Agar terhindar dari resiko-resiko seperti tersebut diatas, maka akan lebih baik bila keluarga dengan bijaksana dan kesabarannhya bersedia membawa pasien ke rumah sakit jiwa.

Kadang-kadang karena didorong rasa malu keluarga, gangguan jiwa ringan yang seharusnya dapat teratasi dengan cepat pada akhirnya menjadi masalah serius karena pengobatan penyakit jiwa ini di masyarakat masih belum menjadi tindakan yang biasa. Artinya masyarakat masih merasa malu dan tidak nyaman, sementara kebutuhan akan kesehatan jiwa ini sebenarnya sangat vital.

Berkonsultasi dengan psikiater,  konselor,  untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan tentang masalah kejiwaan sangatlah penting.  Tidak harus malu apalagi  menempatkan komunikasi permasalahan kejiwaan pada ahlinya adalah sama pentingnya seperti saat kita butuh advice dokter mana kala badan kita sakit. 

Gangguan kejiwaan dari yang paling ringan sampai pada yang cukup serius sebaiknya memang harus ditempatkan pada posisi yang sama seperti pada saat kita butuh informasi kesehatan fisik.  Terlebih untuk keluarga tercinta.  Sudah saatnya bersikap bijak.  Saat ini perluasan penanganan masalah gangguan jiwa sudah mulai ditingkatkan.  Dibeberapa rumah sakit bahkan puskesmas sudah mulai dibuka shelter jiwa.  Dan saat inilah waktunya mengubah persepsi tentang rumah sakit jiwa.  Bukan lagi aib tetapi solusi. 

KONTEN MENARIK LAINNYA
x