Mohon tunggu...
Widhi Setyo Putro
Widhi Setyo Putro Mohon Tunggu... Sejarawan - Arsiparis di Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI

Penggemar Sukarno dan Fans Lazio

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Revolusi Olahraga ala Presiden Sukarno

27 September 2022   15:23 Diperbarui: 28 September 2022   20:58 148 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Presiden Sukarno memberikan tendangan kehormatan dalam pertandingan sepak bola di Lapangan Batavia Voetbal Club (BVC) (ANRI, Kempen Jakarta 1951)

Di tengah usaha bangkit dari keterpurukan prestasi olahraga Indonesia saat ini, tidak ada salahnya jika kita melihat sejenak ke belakang  bagaimana pemikiran Presiden Sukarno terhadap olahraga. Di bawah kekuasaannya, prestasi olahraga Indonesia dapat dikatakan sangat hebat. Paling tidak kita bisa melihat satu bukti, yaitu Indonesia berhasil menjadi tuan rumah dan berhasil menempati posisi ke-2 di bawah Jepang pada Asian Games IV 1962. Sebagai gambaran, pada Asian Games 2010 Indonesia meraih posisi ke-15, Asian Games 2014 posisi ke-17, dan Asian Games 2018 ketika menjadi tuan rumah kedua kalinya kita posisi ke-4.

Di mata Presiden Sukarno, olahraga selain sebagai alat pembentukan fisik atau jasmani juga dijadikan alat pembangunan dan pendidikan mental yang sangat efektif. Oleh karena itu, olahraga tidak dapat dipisahkan dari tujuan revolusi nasional bangsa Indonesia yang telah digariskan dalam Manipol-Usdek. Manipol-Usdek adalah kepanjangan dari Manifesto Politik RI-UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia. Konsep ini dikumandangkan Sukarno pada pidato peringatan kemerdekaan RI tahun 1959 yang berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Untuk melengkapi Manipol-Usdek, selanjutnya Presiden Sukarno mengajukan konsep Revolusi-Sosialisme-Pimpinan (Resopim). Manipol-Usdek dan Resopim kemudian mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia termasuk dalam bidang olahraga.

Olahraga sebagai Gerakan Massa

Presiden Sukarno melalui Keputusan Presiden no. 79 tahun 1961 membentuk Komando Gerakan Olahraga (KOGOR) yang bertugas dalam persiapan Tim Indonesia menyangkut gerakan massal olahraga, pusat latihan dan kegiatan-kegiatan olahraga lainnya. Menteri Maladi sebagai Ketua KOGOR kemudian mengintruksikan kepada semua KOGOR di daerah untuk melaksanakan Intruksi Presiden Sukarno di Yogyakarta pada 19 Desember 1961, yang pada intinya semua gerakan olahraga harus ditujukan ke arah: 

  • pembangunan kekuatan raksasa seluruh rakyat untuk melaksanakan pembebasan Irian Barat dari Belanda dengan jalan apapun; 
  • persiapan regu-regu olahragawan yang terpilih, kuat, sehat jasmani, mental, dan rohani, bermoral tinggi serta terlatih secara sempurna di dalam bidang pertahanan negara; 
  • pengerahan dan penggerakan melalui keolahragaan tenaga massa rakyat secara revolusioner yang harus siap siaga setiap saat komando mobilisasi umum didekritkan.

Presiden Sukarno bahkan menginginkan semua pemimpin organisasi keolahragaan selain memiliki syarat keahlian, juga memiliki syarat kejiwaan dan semangat Manipol-Usdek. Syarat-syarat tersebut ditujukan agar gerakan olahraga menjadi bagian dari revolusi nasional yang dipimpin oleh orang-orang yang sanggup membawa revolusi keolahragaan kepada cita-cita bangsa Indonesia, yaitu masyarakat sosialis-Indonesia sesuai ajaran Pancasila. (Amanat PJM PD. Presiden Ir. H. Djuanda pada Musyawarah Nasional Olahraga di Istana Olahraga Senayan Jakarta, 5 Juni 1962”, Pidato Kepresidenan, No. 310 A, ANRI)

Selanjutnya, Presiden Sukarno membentuk Departemen Olahraga pada 1 Januari 1962, dengan Keputusan Presiden No. 94 tahun 1962. Seperti termaktub dalam Keputusan Presiden No. 131 tahun 1962, tugas-tugas pokok Departemen Olahraga adalah mengatur, mengkoordinasi, mengawasi, membimbing dan menyelenggarakan:

  • Semua kegiatan atau usaha olahraga, termasuk pendidikan jasmani di sekolah-sekolah rendah sampai di perguruan-perguruan tinggi di seluruh tanah air.
  • Pendidikan tenaga-tenaga ahli olahraga.
  • Pembangunan, penggunaan dan pemeliharaan lapangan-lapangan dan bangunan-bangunan olahraga di seluruh tanah air.
  • Pembangunan industri nasional alat-alat olahraga dan atau pengimporan alat-alat olahraga, serta pengedaran dan penggunaannya di dalam masyarakat.
  • Pengiriman olahragawan dan ahli-ahli olahraga Indonesia ke luar negeri, maupun mendatangkan olahragawan dan ahli-ahli olahraga dari luar negeri ke Indonesia.
  • Penyelidikan atau penelitian di bidang olahraga dan penyelenggaraan usaha-usaha di bidang sport medicine.
  • Persiapan-persiapan dan penyelenggaraan Asian games IV di Jakarta pada tahun 1962.
  • Kegiatan atau usaha lain di bidang olahraga baik yang bersifat nasional, maupun internasional.

Presiden Sukarno pada Pembukaan Asian Games IV (Buku Di Bawah Bendera Revolusi II)
Presiden Sukarno pada Pembukaan Asian Games IV (Buku Di Bawah Bendera Revolusi II)

Revolusi Mental Para Atlet

Konsep revolusi dalam olahraga juga dapat dilihat ketika Presiden Sukarno berpidato di depan para atlet yang akan berlaga pada Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta. Pidato tersebut bertujuan menekankan kembali konsep revolusi di segala bidang, nation and character building kepada para atlet Indonesia. Berikut ini penggalan pidatonya:

"...revolusi yang multi-kompleks, A summing up of many revolutions. Revolusi keolahragaan kita adalah sebagian daripada nation building Indonesia, revolusi kita untuk membentuk manusia baru Indonesia, antropologis rasial. Pendek kata saudara-saudara, kita ini sekarang semuanya memikul tugas besar, tugas yang di dalam satu perkataan dinamakan nation building. Oleh karena itu usaha kita baik di lapangan politik langsung mengenai nama Indonesia. Jikalau kita berjuang mati-matian untuk memasukan Irian Barat kembali ke dalam wilayah kekuasaan republik, usaha itu langsung mengenai nama Indonesia...jikalau kita nanti masuk di dalam gelanggang Asian Games, langsung mengenai nama Indonesia. Saudara-saudara kaum olahragawan, saudara-saudara ini sebenarnya dititipi nama Indonesia itu agar saudara-saudara berlatih, berjuang, belajar untuk mencapai prestasi setinggi-setingginya, oleh karena itu saudara-saudara diharuskan membela nama Indonesia."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan