Mohon tunggu...
Nia Wibiyana
Nia Wibiyana Mohon Tunggu... Student of the universe

IG : wibiyana ; wibiyanatravels.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Bagaimana Saya Memandang "Hi Mantan, Maafin Aku yang Dulu Ya..."

28 April 2016   19:33 Diperbarui: 29 April 2016   07:15 2025 14 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bagaimana Saya Memandang "Hi Mantan, Maafin Aku yang Dulu Ya..."
capture1-png-57220285a423bd7909494be4.png

instagram.com/ridwankamil

Jujur saja, pertama kali saya melihat meme ini, reaksi saya adalah campuran antara geli, bertanya-tanya dan flash back. Geli karena mengetahuinya dari akun Instagram milik salah satu tokoh masayarakat favorit saya, walikota Bandung, kota yang sempat saya tinggali hampir 4 bulan lamanya pada tahun 2015 kemarin, yaitu Ridwan Kamil, atau akrab dipanggil Kang Emil. 

Bertanya-tanya akan siapa yang pertama kali membuat meme ini dan bagaimana bisa sedemikian viralnya, terakhir flash back ke masa lalu dan sedikit self-contemplating, kemudian bertanya lagi, apakah perlu meminta maaf kepada mantan akan kita yang dulu? 

Di mana secara visual, kedua foto yang disandingkan pada meme tersebut adalah foto masa lalu dan foto masa sekarang, tentunya foto masa lalu yang diambil adalah foto yang notabene jauh lebih buruk dibanding masa sekarang, sehingga yang terlintas di benak saya adalah bagaimana orang tersebut sekarang telah berkembang menjadi sosok yang memang terlihat jauh lebih baik dibanding mereka yang terdahulu. 

Namun, ketika melihat pesan yang ada di bawah foto tersebut, "Maafin aku yang dulu ya," saya lalu berpikir, maksudnya apa? apakah kita meminta maaf karena dulu kita terlihat jelek dan belum sebaik sekarang atau apa? Pun jika kita dulunya terlihat jelek, lantas haruskan kita meminta maaf akan hal tersebut? Justifikasi poin apa yang mendasari permintaan maaf yang dilontarkan?

Mungkin saya sedikit lebay, dan memang bisa jadi ungkapan itu secara general meminta maaf atas apa yang dulu pernah dilakukan oleh si pemilik gambar pada mantannya di masa lalu, namun ketika ia menjadi lebih baik di masa sekarang, bukankah memang melalui proses panjang, dan proses terebut perlu waktu? 

Jadi sah-sah saja kalau memang kita menjadi lebih baik di masa sekarang dibandingkan masa yang lalu, dan itu bukanlah hal yang salah. Ataukah mereka meminta maaf karena dahulu belum bisa menjadi sebaik sekarang pada waktu masih bersama mantannya? mari kita tengok dulu perkaranya. 

Ketika ia menyebutkan mantan, pastilah hubungan tersebut telah berakhir, sehingga pada saat ini, terdapat dua kemungkinan, antara sudah memiliki pasangan baru atau masih berstatus single, namun yang jelas, ia sudah tidak lagi menjalin hubungan dengan mantannya tersebut. 

Dari sini kemudian, kalau ia menjadi lebih baik pada masa sekarang, dan meninjau dari asal perubahan itu karena ia banyak belajar dari hubungannya dengan mantan, maka ia harusnya berterimakasih pada mantannya karena dari hubungan tersebut ia kemudian bisa menjadi seperti saat ini, dan jika demikian adanya, maka permintaan maafnya terasa masuk akal, karena mungkin seharusnya ia juga sudah menjadi sebaik ini sewaktu bersama dengannya namun belum bisa. 

Sebaliknya, jika yang membuatnya lebih baik adalah yang ia sanding sekarang, maka rasanya tak perlu untuk meminta maaf pada mantannya dan ucapan yang tepat adalah terimakasih kepada pasangan mereka saat ini.

Lalu, untuk saya sendiri, hmm, agak sedikit ke belakang lagi, entah mengapa saya tiba-tiba ingin membuat satu akun baru lagi untuk blogging yang lebih serius dan lebih menggali rasa kritis pada diri saya, lalu karena artikel terakhir yang saya baca adalah dari Kompasiana.com, maka saya memutuskan untuk daftar ke web ini, tak dinyana, ternyata email yang saya gunakan sudah terdaftar! Padahal saya sama sekali tidak merasa pernah daftar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x