Mohon tunggu...
Bambang Wibiono
Bambang Wibiono Mohon Tunggu... Buruh Sarjana | Penulis Bebas | Pemerhati Sosial Politik

Alumnus Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Selanjutnya

Tutup

Novel

Selamat Jalan Mamah (2)

22 Juni 2020   09:51 Diperbarui: 24 Juni 2020   18:47 156 0 0 Mohon Tunggu...

Sepulang dari periksa ke dokter, di rumah, Mamah lebih terlihat berubah raut mukanya. Papah yang melihat perubahan raut muka langsung bertanya, "tadi hasil periksanya gimana?".

"Katanya suruh cek darah sama ke lab dulu, ini surat rujukan dari dokternya" jawab Mamah sambil menyodorkan secarik kertas dengan tulisan cacing tak jelas khas tulisan dokter.

"Ya sudah besok langsung aja ke rumah sakit atau ke Pramita," saran Papah.

"Biar cepat ketahuan penyakitnya dan biar segera diobati juga kalau memang ada penyakitnya. Mudah-mudahan sih gak ada apa-apa", ujar Papah sambil sedikit menenangkan.

Sejak saat itu, sepertinya Mamah terkadang suka melamun dengan tatapan kosong. Semacam ada beban berat yang dipikirkan, lebih berat dari tagihan hutang rentenir. Aku yang menangkap perubahan itu juga jadi ikut khawatir. Memang, terkadang niat hati sekedar periksa kesehatan rutin, setelah terdeteksi ada penyakit tertentu, justru informasi itulah yang membuat tubuh terasa sakit beneran. Walaupun sebelumnya sehat tanpa ada rasa sakit apapun. Ini juga yang dialami Mamah.

Keesokan harinya, karena didorong rasa penasaran, Papah mengantar mamah untuk cek laboratorium sesuai anjuran dokter. Begitu hasil keluar, esok harinya langsung konsultasi dengan Dokter Hary lagi.

"Ibu Tati, ibu merasa ada keluhan ini sejak kapan?" tiba-tiba dokter bertanya sambil mebolak-balik kertas hasil pemeriksaan lab.

"waduh, kurang paham dok. Kayanya sih belum lama deh. Itu pun juga hanya sesekali aja. Hanya karena saran dari teman-teman untuk segera periksa saja akhirnya saya iseng periksa ke sini, dok", jawab Mamah panjang lebar.

"mmhhh... Gitu ya? Soalnya kalau lihat dari hasil ini, sepertinya Ibu sudah lama mengalami gejala ini. Tetapi masih untung sih ini segera diketahui" ucap dokter dengan sangat hati-hati.

Karena penasaran, aku yang dari tadi duduk diam di pojok ruang periksa langsung bertanya, "kalau boleh tahu, kenapa sih dok, ibu saya? Itu hasilnya gimana?".

"Maaf ya Mas, Bu, kalau hasil analisa saya dengan didukung hasil laboratorium ini... dugaan awal saya benar... kalau ibu... mengidap kanker payudara. Dan ini sepertinya sudah masuk kategori stadium tiga."

Duaarrrrr!! Innalillahi ya Allah Ya Kariim Ya Rahman Ya Rahim Ya Aziz Ya Jabar Ya Muttakabir. Serasa ada halilintar di siang bolong. Tiba-tiba lemes ini dengkul keroposku. Ku lirik Mamah hanya melongo saja tanpa merespon apapun. Dokterpun sejenak diam mengamati reaksi kami berdua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x