Mohon tunggu...
Billy Bachtiar
Billy Bachtiar Mohon Tunggu...

NusaTalent.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Paradox Jakarta Ramai, tapi Kenapa?

9 Mei 2016   14:38 Diperbarui: 20 Juni 2018   10:22 0 0 0 Mohon Tunggu...

“Pagi memanggil kota yang lelap ini
 Dia bertanya bagaimana hari mu

 Apa kabar mimpi-mimpi mu
 Apa kau bisa melalui
interview kerja itu?
 Apa kau tinggal begitu saja

 Apa kabar angan-angan mu
 Hari ini

 Jakarta ramai
 Hati ku sepi
 Jangan kau tanya
 Mengapa sedih

 Ku tak tahu ku tak tahu
 Apa arti resah ini
 Entah apa yang ku mau
 Penuh tanya dalam diri
 Jakarta ramai

 Senja menyambut kota yang lelah ini
 Dan dia bertanya bagaimana hari mu

 Apa kata hati kecilmu
 Mengapa tak kau ikuti saja
 Apa isi dari benak mu
 Hari ini

 Jakarta ramai
 Hatiku sepi
 Jangan kau tanya
 Mengapa sedih

 Aku tak tahu aku tak tahu
 Apa
arti magang yang sebenarnya?
 Entah apa yang ku mau
 Penuh tanya dalam diri
 Jakarta ramai (Jakarta ramai hati ku sepi)

 Langitnya abu hati ku biru
 Banyak hal baru tapi ku lesu

 Jelaskanlah jelaskanlah
 Apa arti resah ini
 Entah apa yang ku mau
 Penuh tanya dalam diri
 Jakarta ramai”

Jakarta Ramai – Maudy Ayunda

Begitulah lirik lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi muda cantik ini dan inilah yang menginspirasi saya untuk berpikir mengenai suatu paradox yang ada di kota yang katanya “ramai” ini, yakni kota kita tercinta, kota ‘Jakarta’.

*disclaimer: saya menulis artikel ini dengan terus menerus memutar lagu Jakarta Ramai agar inspirasi tetap jalan. Hehehe.

Oke, langsung kita bahas saja keanehan ini. Pertama-tama, untuk kalian yang tidak tahu mengenai arti dari kata “Paradox”, berikut adalah penjelasan dari kata ini.

“Terambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, paradoks/pa·ra·doks/n pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradox”

Dengan berlandaskan satu kata yang sangat fenomenal ini, saya berpikir mengenai Paradoks aneh seputar kota Jakarta yang katanya ‘ramai’ ini.

Pertama. Paradox. Jakarta. Ramai. Tapi. Kenapa. Keramaian ini serasa sirna didalam keluarga

Yes, statistically speaking, Jakarta is a very crowded city. Ya, jalanan ibukota di pagi dan sore hari selalu dipenuhi dengan bunyi-bunyi klakson yang mengiringi perjalanan pulang-pergi nya para tulang punggung keluarga. Bak seperti sarang lebah yang ada di pohon-pohon ‘rindang’, mereka pulang-pergi tanpa lelah membawa pulang makanan dan harapan agar pada hari esok, tempat tinggal mereka bisa menjadi lebih ‘rindang’ dari sebelumnya. 

Akan tetapi, cucuran keringat dan terkadang darah (ya, darah) yang tertumpah serasa menjadi petaka baru bagi sebagian keluarga di kota yang ramai ini karena ketika pulang ke ‘rumah’, seluruh organ tubuh yang dipakai sepanjang hari-pun sudah menjadi usang dan sangat lelah. Alhasil, keramaian pun serasa sirna didalam lingkaran kecil yang biasa disebut ‘keluarga’ ini. Bahkan, di beberapa keluarga (saya kenal keluarga ini), dirumah yang ‘besar’, yang seharusnya ‘ramai’ seperti kota ‘besar’ kita, atmosfir pekatnya kesepian terasa hadir mencekam..

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2