Wety Artika
Wety Artika

Mahasiswa Tingkat Akhir Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Wisata

Tren Pariwisata: Kekinian atau Kamuflase dari Miskin Ide?

19 Juni 2017   01:10 Diperbarui: 19 Juni 2017   10:13 220 0 0

Pariwisata mulai beberapa tahun terakhir diminati oleh banyak orang; entah itu traveler, industri, sampai anak SD sekalipun. 

Image pariwisata yang dulu dianggap mahal, ribet, bahaya, dan jauh pun sekarang mulai luntur. Geliat pertumbuhan pariwisata mulai kelihatan, pemuda, masyarakat, pemerintah saling sinergi mengembangkan potensi daya tarik wisata yang ada di daerah masing-masing, pun sebenarnya sudah terlambat, tidak apa-apa daripada tidak sama sekali.

Pariwisata di Indonesia mulai hits dan semakin laju saat Kementerian Pariwisata dipimpin oleh Bapak Arief Yahya dengan target pengunjung selama periode Pak Jokowi adalah 20 juta wisman, target duduk di rangking 30 yang semula di posisi ke-70 dari sebanyak 140 negara untuk versi World Economic Forum. Kedua target tersebut diharapkan tercapai tahun 2019.

Kenapa brand Pesona Indonesia/Wonderful Indonesia semakin dikenal? Karena promosi yang supergila-gilaan dari Kemenpar dengan konsep MICE (Meeting, Insentives, Conference & Exhibition), digital dan pengembangan industri berbasis budaya baik di dalam dan luar negeri.

Menurut ahli, syarat pariwisata itu adalah what to see; what to buy; what to do; what to arrived & what to stay. Yang nggak boleh dilupakan adalah harus unik, otentik, atau beda dari daya tarik wisata lain.

Bisa ditebak gambar di atas dari daerah mana? Yogya. Dominan jawab dari Yogya, padahal gambar diambil dari berbagai sumber di Instagram milik Lahat, Yogya, Lombok, Semarang, dan Pagaralam. Ada kesamaan? Kesamaan konsep dan sepertinya foto di atas ketinggian dengan spot serupa jadi tren traveler di Indonesia.

Maksud saya, pariwisata itu dinamis dan pegiatnya harus peka dengan minat wisatawan, tapi nggak bisa selamanya terus serupa dengan daya tarik wisata di tempat lain, harus terus putar otak untuk bisa unik, bersaing, gimana caranya beda dan beda sehingga persaingan pertumbuhan pariwisata di tiap daerahnya ketat dan hidup.

Mengelola pariwisata itu asyik asal didukung pihak terkait. Pertanyaannya, mau sampai kapan traveler terus-terusan jadi anak hits di Instagram. Kapan pulang dan membangun daerah? Jadi, nggak selalu konsumtif, tapi juga produktif. Yok, semuanya saling sinergi, lunturin dulu gengsi. :) .

 

[caption caption="Foto diambil dari berbagai sumber."][/caption]