Mohon tunggu...
Wentar Permana Dinilart
Wentar Permana Dinilart Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Buang sampah pada tempatnya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno

Kajian Jejak Karbon dari Berbagai Aktivitas

21 Desember 2020   22:30 Diperbarui: 21 Desember 2020   22:32 171
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Oleh :

  • Noverta Astri T           (191910601015)
  • Putri Ayu Siswanti      (191910601023)
  • Habibah Ayu Alfaiza  (191910601025)
  • Wentar Permana D     (191910601029)
  • Alferina Vania            (191910601049)
  • Peran Jejak Ekologi Untuk Perbaikan Lingkungan

Jejak Ekologis adalah indikator berbasis wilayah, yang diperkenalkan oleh Wackernagel dan Rees (1996; lih. Rees, 1992) guna mengukur kebutuhan modal alam bagi kegiatan manusia. Jejak ekologis banyak digunakan untuk menunjukkan ke (tidak) berlanjutan pola konsumsi pada skala individu, lokal, nasional dan global.

Jejak karbon (carbon footprint) adalah ukuran dari jumlah total emisi karbon dioksida yang langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh suatu kegiatan (Wiedman dan Minx, 2008). Jejak karbon mengukur jumlah total emisi gas rumah kaca yang secara langsung dan tidak langsung disebabkan oleh suatu kegiatan atau diakumulasi selama tahapan proses produksi (Galli et al; 2012). Jejak karbon dapat digunakan untuk menghitung kegiatan individu, populasi, pemerintah, perusahaan, organisasi, proses, dan sektor industri. Pendekatan berbasis konsumsi dalam jejak karbon dapat melengkapi pendekatan berbasis produksi yang diinventarisasi oleh Gas Rumah Kaca Nasional

Peranan jejak ekologi dalam lingkungan adalah jejak ekologi dapat digunakan sebagai patokan dan informasi pencapaian dalam mendukung kemampuan bumi untuk menanggulangi dan mengatasi terjadinya permasalahan lingkungan hidup. Alat ukur ini penting untuk mengetahui apakah kegiatan konsumsi yang kita lakukan masih dalam batas daya dukung lingkungan ataukah sudah melewatinya. Apabila dikaitkan dengan judul opini, maka peranan jejak ekologis sangat berperan penting dalam mengetahui seberapa besar jejak karbon yang dihasilkan oleh aktivitas kampus sehingga kita dapat memperkirakan sebuah solusi seperti apa yang bisa diterapkan untuk mengurangi jejak karbon yang dihasilkan. Oleh karena itu, keberlangsungan lingkungan akan tetap terjaga dalam keadaan baik dan terkendali, sehingga potensi terjadinya penurunan dan pencemaran lingkungan dapat dicegah sewaktu-waktu.

Upaya minimalisasi jejak karbon dilakukan melalui beberapa alternatif yang dipilih dari kuesioner. Data yang diperoleh tersebut kemudian dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) Statistics 17.0. Uji yang dilakukan adalah berupa uji validitas dan reliabilitas. Alternatif solusi berupa kebijakan dan perubahan dalam minimalisasi jejak karbon dipilih dari ratarata nilai tertinggi berdasarkan skala Likert untuk aktivitas pembelanjaan listrik dan penggunaan tranportasi oleh dosen, staf, dan mahasiswa. Kebijakan dan perubahan perilaku yang terpilih ini selanjutnya akan dihitung nilai pengurangan emisi jejak karbon sehingga dapat diketahui jumlah emisi yang dapat direduksi.

Salah satu bagian dalam analisis jejak ekologis adalah studi jejak karbon, dengan menghitung emisi karbon dioksida melalui pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor. Salah satu cara dengan menghitung jejak karbon (Carbon Footprint) yang dihasilkan dari penggunaan kendaraan pribadi untuk menggambarkan tingkat konsumsi maupun emisi CO2 yang dihasilkan dari aktivitas berkendara selama periode tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan volume bahan bakar yang digunakan (fuel-used based) dalam menghitung emisi CO2 dari konsumsi bahan bakar. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah jejak ekologi penting diketahui dalam rangka mengantisipasi sistem transportasi. Soemarwoto (2006) telah memberikan telaahan yang dapat digunakan untuk mendorong masyarakat maupun pemerintah untuk merenungkan dan mengkaji ulang sistem transport Indonesia serta dampaknya terhadap pembangunan berkelanjutan. Dengan berimbangnya sistem transport, terpadu antarmodalitas, antarkonektivitas dan antaroperasionalitas juga bersifat pro lingkungan hidup, karena lebih hemat energi dengan emisi gas buang yang lebih rendah pada berjalan kaki, bersepeda, kereta api dan kapal sebagai komponennya. Di daerah yeng berhutan, pembangunan kereta api mempunyai dampak lebih kecil daripada jalan raya dan jalan tol. Berdasarkan pengalaman yang terjadi selama ini, sistem transportasi yang sangat mengandalkan pada kendaraan bermotor tidak mungkin dapat berkelanjutan, karena makin parahnya kemacetan lalu lintas, pencemaran udara dan kebisingan, makin menyusutnya taman dan jalur hijau serta hilangnya lahan subur dengan prasarana irigasinya. Solusi yang dapat diberikan adalah perlu diupayakan pengembangan sumber energi baru yang ramah lingkungan seperti mengganti penggunaan bahan bakar fosil dengan produk bahan bakar nabati (BBN), serta mengembangkan teknologi angin dan sinar matahari sebagai sumber energi.

Penelitian analisis besaran jejak karbon dari aktivitas kampus di FT Unnes menggunakan metode kajian jejak karbon dalam 3 lingkup menurut The Greenhouse Gas Protocol (GHG Protocol), yaitu emisi dari sumber yang dimiliki atau dikontrol langsung oleh fakultas, emisi tidak langsung dari konsumsi listrik, serta emisi tidak langsung lainnya (WRI dan WBSCD, 2004). Emisi yang dihitung adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O).  Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada lingkup satu meliputi emisi dari aktivitas transportasi kendaraan operasional dan penggunaan LPG jejak karbon yang dihasilkan sebesar 41,333 tonCO2-eq. Lingkup dua meliputi aktivitas pembelanjaan listrik, jejak karbon lingkup dua sebesar 884,904 ton CO2-eq. Lingkup tiga meliputi aktivitas transportasi oleh dosen, staf, dan mahasiswa ke dan dari kampus FT Unnes, penggunaan kertas, serta pembuangan sampah. Perhitungan jejak karbon dari lingkup tiga adalah sebesar 691,764 tonCO2-eq. Total jejak karbon dari dari lingkup satu, lingkup dua, dan lingkup tiga sebesar 1.618,001 tonCO2-eq. Emisi terbesar dihasilkan dari lingkup dua sebesar 54,691%. Berdasarkan hasil kuesioner terpilih dua skenario pengurangan jejak karbon. Skenario pertama mematikan komputer ketika ditinggalkan selama 60 menit. Dengan jumlah komputer sebanyak 318 unit, estimasi jejak karbon yang dapat diminimalisasi adalah sebesar 1,068 tonCO2-eq. Skenario satu dapat mereduksi 0,066% dari total jejak karbon. Skenario kedua menerapkan sistem car free day di area kampus. Melalui penerapan skenario dua, estimasi jejak karbon yang dapat diminimalisasi sebesar 92,733 tonCO2-eq (5,731% dari total jejak karbon).

Pengolahan data dari aktivitas primer dan sekunder untuk memperoleh nilai jejak karbon dari setiap lingkup dilakukan dengan metode GHG Protocol (The Greenhouse Gas Protocol) dan diperlukan metode perhitungan emisi IPCC (International Panel on Climate Change).  Total jejak karbon dari aktivitas pemakaian listrik kampus Universitas Batanghari selama 6 bulan (Juni-November) adalah 162,705 ton.CO2-eq/kWh.  Jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas penggunaan LPG selama 3 bulan adalah 0,203 ton.CO2-eq yang kemudian diakumulasikan selama 6 bulan menjadi 0,609 ton.CO2-eq. Jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas transportasi dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan yang telah diakumulasikan menjadi 6 bulan adalah sebesar 625,90 Ton.CO2-eq. Total jejak karbon dari aktivitas pemakaian kertas selama 6 bulan (Juni-November) adalah 1,0247 Ton.CO2-eq. Minimalisasi jejak karbon dari aktivitas di kampus Universitas Batanghari dilakukan dengan memberikan alternatif berupa mengganti aktivitas transportasi, untuk dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan yang memiliki jarak tempat tinggal ke kampus <1 km disarankan untuk berjalan kaki dan yang memiliki jarak >1 km untuk menggunakan kendaraan umum. Memilih bahan bakar kendaraan dengan oktan yang sesuai dengan mesin kendaraan agar lebih hemat energi dan terkendalinya emisi karbon. Melakukan penghijauan seperti penanaman pohon serta tanaman-tanaman hias yang dapat membantu menyerap karbondioksida (CO2).

Penelitian untuk mengetahui berapa besar emisi CO yang dihasilkan dari penggunaan listrik Institut Teknologi Yogyakarta, mengetahui sebaran jejak karbon dari tiap -- tiap penggunaan alat elektronik di Institut Teknologi Yogyakarta, mengetahui berapa besar penurunan emisi CO yang dapat direduksi dari penghematan penggunaan listrik di Institut Teknologi Yogyakarta. Metode yang dilakukan pada penelitian kali ini adalah kuantitatif. Metode kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Metode ini bertujuan untuk mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Institut Teknologi Yogyakarta menghasilkan jejak karbon (Carbon Footprint) dari penggunaan listrik sebesar 6951,589 KgCO/bulan. Jadi setiap tahunnya Institut Teknologi Yogyakarta ratarata menghasilkan jejak karbon (Carbon Footprint) sebesar 83419,07 KgCO/tahun. Jejak karbon tertinggi dari penggunaan listrik ada pada ruang B sebesar 53,652 KgCO. Untuk mengurangi jejak karbon, dapat dilakukan dengan cara Mematikan alat elektronik di waktu jam istirahat. Mematikan alat elektronik jika tidak dipakai. Menggunakan AC hanya pada waktu jam pelajaran saja.

Penelitian kali ini akan membahas mengenai dari aktivitas rumah tangga di Kelurahan Limbungan Baru Kota Pekanbaru. Analisis Jejak Karbon yang dihasilkan dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jumlah emisi CO2 yang dihasilkan oleh Kelurahan Limbungan Baru Kecamatan Rumbai Pesisir Kota Pekanbaru adalah sebesar 181,208 ton CO2/bulan untuk emisi CO2 primer 2.011,512 ton CO2/bulan untuk emisi CO2 sekunder, dan 2.192,720 ton CO2/bulan untuk emisi CO2 total. Sumber CO2 berasala dari emisi primer dan sekunder warga. Emisi primer yang dimaksud adalah emisi yang bersala dari penggunaan bahan bakar rumah tangga seperti LPG dan minyak tanah. Emisi sekunder yang dimaksud adalah peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik.

Penelitian jejak karbon pada individu pegawai instansi pemerintahan dari berbagai kriteria, yaitu perbedaan gender, tingkat pendidikan dan pendapatan. Data jejak karbon dari responden dikumpulkan dengan metode kuesioner. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penggalian data 35 pegawai yang difokuskan pada 5 kegiatan dengan  potensi penghasil emisi secara signifikan yaitu kegiatan transportasi, konsumsi makanan, konsumsi energi akibat penggunaan peralatan listrik, produksi sampah dan kegiatan lainnya. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pegawai yang berkantor di kawasan Puspiptek secara rutin menghasilkan emisi gas karbon antara 3,1 - 6,6 ton CO2-e/orang/tahun atau rata-rata 4,96 1,23 ton CO2-e/orang/tahun. secara lebih rinci, emisi karbon yang dihasilkan dari setiap aktivitas pegawai adalah : transportasi sebesar 2,3 0,78 ton CO2-e/ orang/tahun, konsumsi makanan sebesar sebesar 1,35 0,27 ton CO2-e/ orang/tahun, hiburan 0,34 0,13 ton CO2-e/tahun, sampah 0,29 0,05 ton CO2-e/orang/tahun dan keperluan lainnya 0,39 0,02 ton CO2- e/orang/tahun. Jejak karbon akibat aktivitas transportasi menempati urutan teratas dengan emisi sebesar 2,3 ton CO2-e/orang/tahun atau sekitar 45% dari rata-rata total emisi seorang pegawai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun