wenny prihandina
wenny prihandina ibu rumah tangga

calon ibuk yang suka mikir hal-hal sepele

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Akun "Fake" Taksi "Online"

3 Maret 2018   20:03 Diperbarui: 4 Maret 2018   08:00 2228 3 2
Akun "Fake" Taksi "Online"
Sumber Gambar: kompas.com

Di satu sisi, keberadaan taksi online sangat membantu. Namun, di sisi lain, ancaman bahaya juga menghantui. Saya merasa waswas sendiri.

Saat hendak pergi, tinggal buka aplikasi. Pilih moda transportasi. Masukkan alamat penjemputan dan lokasi tujuan. Setelah 'oke', tinggal tunggu telepon masuk.

Sepuluh menit - atau biasanya kurang dari itu, sebuah mobil sudah berhenti di depan rumah. Kita pun akan diantar tepat di depan pintu lokasi tujuan. Tarifnya juga tak membuat kantong bolong. Saya pernah menumpang freed dengan tarif Rp 8 ribu. Keren kan?

Itulah bagaimana taksi online bisa memudahkan urusan kita. Kita tak perlu memiliki mobil - yang berarti harus memanasi setiap hari dan melakukan perawatan bulanan, menyetir, dan, yang terkadang membuat emosi itu, macet dan parkir. Kompensasinya ya sejumlah uang yang harus dibayarkan sesuai tarif yang tertera di aplikasi.

Namun, belakangan, saya merasa waswas saat berkendara bersama taksi online. Sebab, pengemudi taksi yang saya tumpangi berbeda dengan profil yang tertera di aplikasi. Kalau berbeda jenis mobilnya, tidak masalah. Tetapi ini profil, termasuk nama, foto, dan bahkan jenis kelamin.

Perbedaan profil pengemudi ini cukup mengganggu. Ini berkaitan erat dengan keamanan dan berujung ke kenyamanan. Adanya profil pengemudi yang tertera di aplikasi membuat perjalanan kita selalu terpantau oleh sistem. Jika terjadi sesuatu, sistem akan mengetahui dan si pengemudi akan dimintai pertanggung-jawaban. Namun, bagaimana jika orang yang mengantar kita itu bukan si pemilik profil yang tertera di aplikasi?

Saya pernah mendapatkan pengemudi dengan foto profil seorang wanita. Namanya pun nama wanita. Begitu datang, loh kok cowok? Ketika ditanya, kok foto profilnya wanita. Dia menjawab, "Saya pakai akun istri saya."

Dia bilang, akunnya di-banned. Itu karena ada pelanggan yang berkomentar buruk tentang pelayanannya. Tanpa ada konfirmasi, tiba-tiba sistem me-non-aktif-kan akunnya. Karena harus tetap berpenghasilan demi membayar cicilan mobil, ia tetap menjadi sopir online. Caranya, dengan menggunakan akun istrinya itu.

Ada juga pengemudi online yang berkendara karena menggantikan saudara atau temannya. Bisa karena saudaranya sedang ada kerjaan ataupun dia yang sedang tidak ada kesibukan.

Pengemudi di Tiga Perusahaan Taksi Online Sekaligus

Perbedaan akun profil itu rupanya karena si pengemudi terdaftar di tiga perusahaan taksi online sekaligus. Ada tiga perusahaan penyedia jasa transportasi online yang paling besar dan terkenal di Indonesia. Ketiganya, Go-car, Grab-car, dan Uber.

Seorang pengemudi taksi online mengatakan, boleh-boleh saja bekerja di ketiga perusahaan tersebut. Asal tidak ketahuan. Dia sendiri bergabung di dua perusahaan - Go-car dan Grab-car.

Bagaimana caranya supaya tidak ketahuan?

"Ya bikin akun baru, pakai nama teman," katanya.

Nah! Itu dia!

Sumber gambar: frasindo.com
Sumber gambar: frasindo.com

Adanya Pihak Ketiga

Semakin sering saya menggunakan moda transportasi taksi online, saya jadi tahu, rupanya ada juga pihak ketiga yang memfasilitasi pendaftaran menjadi pengemudi taksi online. Semacam sub-kontraktor kalau di bidang usaha kontraktor teknik.

Para calon pengemudi bisa mendaftar di perusahaan pihak ketiga itu. Nantinya, perusahaan pihak ketiga itu yang akan mendaftarkannya ke perusahaan taksi online. Konon, pendaftaran melalui pihak ketiga ini lebih cepat ketimbang mendaftar langsung ke perusahaan taksi online.

Saya pikir, pendaftaran menjadi pengemudi online itu bisa mencapai waktu berbulan-bulan di perusahaan taksi online. Sehingga orang berbondong-bondong mendaftar melalui pihak ketiga. Namun rupanya, hasil mengobrol juga dengan pengemudi taksi online yang lain, hanya satu hari saja.

Bergabung menjadi pengemudi taksi online melalui pihak ketiga memiliki sejumlah syarat yang menurut saya berat. Seperti misalnya, pengemudi harus rela 'jatah'-nya dipotong sekian persen untuk perusahaan pihak ketiga tersebut. 'Jatah' yang sudah kecil itu akan menjadi lebih kecil lagi.

Nah, pelanggan juga mendapat imbasnya. Verifikasi pengemudi taksi online melalui pihak ketiga menurut saya longgar. Sebab, siapapun yang mendaftar melalui pihak ketiga dipastikan masuk. Padahal, sebelumnya saya tahu, seleksi pengemudi taksi online itu sangat ketat. Beberapa pengemudi, namun demikian, mengakui kalau seleksi pengemudi taksi online itu memiliki celah.

"Tidak ada verifikasi ulang. Jadi mereka (perusahaan taksi online) tidak tahu driver-nya itu masih bagus atau tidak," katanya.

Kenyataan itu membuat rasa waswas semakin besar. Namun, kemudahannya telah menjadi nilai lebih. Semoga ke depan, perusahaan taksi onlinelebih ketat dalam menyeleksi calon pengemudinya juga memberlakukan verifikasi ulang pada pengemudi-pengemudi yang terdaftar dalam perusahannya. Ini demi menghapuskan akun 'fake' yang sebenarnya meresahkan hati para pelanggan. []