Mohon tunggu...
Vie Marte
Vie Marte Mohon Tunggu... Hakikat hidup itu untuk memberi manfaat dan setidaknya menghasilkan karya walau sedikit.

Hakikat hidup itu untuk memberi manfaat dan setidaknya menghasilkan karya walau sedikit.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Menjadi Butiran Pasir

6 Mei 2020   21:35 Diperbarui: 6 Mei 2020   21:33 15 1 0 Mohon Tunggu...

Setiap hari tak bosannya kutengok sebuah jendela yang menghadap sebuah jalan sepi dan berharap ada yang muncul dari balik jendela itu untuk sekedar menyapa rinduku datang dengan musim seminya. Atau bahkan malah mejadikannya badai salju ketika ia berlalu. 

Namun bibir itu kini kaku dan mengeras, tak lagi segar, lembab nan lembut. Sepasang matanya itupun kini dingin angin lalu. Kemana perginya awan musim semi itu? Ternyata awan itu telah lama mengabu. Yang jelas awan itu telah mengarungi angkasa raya. Tergesek asam dunia. Entah apa yang dipandanginya sekarang. Entahlah, akupun tak tahu pasti. Semoga saja ia secepatnya luruh menjadi hujan dan kembali memutih lembut bagai sutera.

Dan lagi, seiring waktu berlalu. Melewatkan banyak hal, membuang banyak waktu untuk sebuah kata kebersamaan karena jarak. Aku sadar ini sulit. Aku dan kamu sadar tak sepenuhnya mengatakan bahwa ini akan jadi mudah. Aku tak tahu kenapa ia begitu bengis terhadapku, seperti sebuah mutiara yang berkarat. Kemudian terbengkalai dan tak berharga. Tutur kata dan perilakunya seolah ingin melepas ratai dari belenggu jiwanya sendiri. Seolah mata-mata rantai itu sengaja dipisah paksa satu dengan yang lain, waktu demi waktu.

Perlahan namun menyakitkan. Padahal baru saja kemarin sore awan itu melepaskan titik air yang membebaninya.  Mengembalikannya pada kodratnya yang suci dan putih lembut sutera. Padahal bilamana ingin direnungkan, harusnya yang namanya mutiara tentulah bernilai. Tapi faktanya bagi dirinya tidak, ia bahkan bermimpi mengembalikan mutiara itu kepada cangkang sang kerang. Kemudian lebih memilih untuk terombang-ambing kembali mengikuti kemauan dunia.

Hari ini aku kecewa lagi. Sebuah fakta kembali terungkap. Tabir logika itu sedikit demi sedikit mulai terbuka. Katanya, ia mengarungi hari-hari beratnya yang melelahkan batinnya, dia minta waktu. Baiklah, aku persilahkan. Namun hari ini, mataku terbelalak, mematung pada apa yang baru saja aku lihat. Mungkin ini terdengar sepele, tapi bagiku tidak.

Aku bahkan tak tahu dia telah membuat sebuah karya kebanggaannya. Namun temannya mengapresiasikannya, memamerkannya dengan penuh kebanggaan seolah ia adalah manusia pertama yang dikabarkannya. Aku merasa seperti butiran debu yang menempel pada dirinya. Tak benar-benar berharga dimatanya dan teman-temannya. Dan ketika aku mundur selangkah ke belakang, aku pikir ini bukanlah kali pertama.

Kupikir orang yang pertama kali ia butuhkan bukanlah aku, dia seringkali datang kepada teman-temannya duluan ketimbang aku? Aku tahu aku tak bisa banyak berbuat, dan aku memang bukanlah doraemon yang bisa selalu membantu dirinya saat dibutuhkan. Tapi setidaknya aku selalu menyempatkan hadir sepenuhnya walau untuk sekedar mendengarkan keluhnya.

Namun ia pernah bilang bahwa aku lebih dari kata sebatas teman. Lalu apa maksud dari tingkahnya itu? Apa aku egois jika berpendapat seperti itu? Katamu, aku lebih dari kata teman. Namun, apa salah jika aku meminta hakku? Hakku yang berstatus lebih dari kata teman itu. Aku hanya ingin kamu sekedar bicara juga kepadaku, bicaralah padaku lebih awal baru jika dengaku tak mampu memenuhinya barulah silahkan kamu kepada teman-temanmu. Jujur aku lelah. Hatiku sudah benar-benar kau remuk hingga halus seperti butiran pasir. Andai kamu tahu sesungguhnya perasaanku ini. Mungkinkah kamu akan tetap melakukannya?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x