Mohon tunggu...
Vie Marte
Vie Marte Mohon Tunggu... Hakikat hidup itu untuk memberi manfaat dan setidaknya menghasilkan karya walau sedikit.

Hakikat hidup itu untuk memberi manfaat dan setidaknya menghasilkan karya walau sedikit.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bunga | Ep. 1 "Musim Semi"

13 Mei 2019   17:54 Diperbarui: 13 Mei 2019   18:36 0 5 1 Mohon Tunggu...
Bunga | Ep. 1 "Musim Semi"
sumber : allthingslocal.us

"Orang bilang hari ini musim hujan. Orang bilang musim hujan itu musim kelabu. Karena banyak pujangga menuliskan syair-syair pilunya di kala hujan. Orang bilang pula musim semilah yang melambangkan kebahagiaan. Tapi bagiku, musim hujan adalah musim yang syarat harmoni ketenangan. Karna setelah lama tanah ini kering dan gersang, akhirnya ia muncul juga untuk menyegarkannya. Memberikan kesempatan ladang yang mati menjadi subur, dan tumbuhan layu menjadi segar bugar. Sehingga musim hujan kala itu bagiku rasa musim semi."

Tanggal 5 Oktober 2018, pukul 16.20 wib.

Janjianya sih jam 16.15 wib. Yah... telat lima menit gapapa lah. Lagipula seperti ramalanku sendiri bahwa aku yang akan datang pertama kali ke tempat ini dari mereka berdua. Huh, Rere dan Niki pasti telat. Tapi aku mencoba untuk selalu tepat waktu biar mereka sadar kalau waktu itu mahal dan jangan dibuang percuma. Tapi kayaknya mereka ga bakal sadar. Hadeh... sepertinya memang hanya Tuhan yang bisa menyadarkan mereka. Daripada gabut, aku putuskan untuk mengamati pemandangan jalan kota ini dari balik jendela kedai kopi

Kedai kopi ini memang berada di pinggir jalan perkotaan Purwokerto. Tempat yang strategis. Aku, Rere dan Niki suka ke kedai ini. Karna tempatnya di tengah kota jadi mudah aksesnya dan tempatnya cozy, yang pastinya kualitas kopinya gak kalah nikmat dari kopi-kopi bermerek ituloh yang depannya "S". Dan aku selalu memilih bangku-bangku dekat jendela dimanapun tempatnya. Karna aku suka mengamati. Saat aku mengamati sekitar, aku merasa alam sedang berbicara padaku. Jadi aku tak merasa benar-benar sepi saat ku sendiri. Pernah ga si kalian gitu? Atau cuma aku aja? Ah, biarlah...

Tapi dipikir-pikir, kota ini sungguh liput. Walaupun aku tak benar-benar setuju dan menginginkan tempat ini menjadi sebuah kota. Tapi yang jelas berbeda sekali dengan Purwokerto yang dulu. Kupikir dulu tidak seliput dan segersang ini. Padahal baru menjadi kota kecil saja sudah seperti ini, bagaimana jika telah jadi kota besar ya... Duh kok ngeri ya... Maklumlah orang desa yang sedang beradaptasi dengan budaya perkotaan. Ternyata dunia memang cepat sekali berubah ya... Waktupun enggan untuk memperlambat lajunya hingga aku tak menyangka usiaku sudah sematang ini. Malah sudah pada kategori benar-benar matang. Ya. Matang untuk mencukupi kebutuhan sendiri, matang untuk berkelana mencari petualangan dan jalan hidupku sendiri. Atau bahkan matang untuk menikah? Haha, aku selalu geli setiap mengingat kata menikah. Walaupun aku tahu gak ada yang salah dengan hal itu. Aneh ya, aku selalu merasa seperti baru kemarin aku menanggalkan seragamku.

"Permisi mba? Mau pesan kopinya sekarang mba?" kata seorang pelayan pria membubarkan keramaian dipikiranku.

"Bentar ya mas, aku telfon dulu." Aku meraih handphoneku dan memencet sebuah nomor. Yap, nomor Rere.

"Hallo Re, lo dimana sih? Nih mas-masnya ampe dah nanyain pesenan! Kayaknya daritadi curiga ama gue gara-gara lama duduk tapi ga pesen-pesen. Gue pesenin dulu punya kalian juga yak! Niki sama elo kan? Sanah tanyain juga!" Tanya gue buru-buru.

Rere cuman ketawa ketiwi gak jelas. Gue kesel. Udah telat, ditanya malah ngikik. Duh. Kalau bukan sobat kayaknya gue blokir ni orang berdua.

"Hehe, sorry. Kita lagi otw kok, sabar ya cin. Kita ada berita bagus kok buat lo Bun. Jadi jangan balik dulu. Terus masalah masnya, lo pesenin kayak biasa ya. Thankyu bunnnn, mwah. Tututuuuuut."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x