Mohon tunggu...
Weinata Sairin
Weinata Sairin Mohon Tunggu... Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Belajar Teologia secara mendalam dan menjadi Pendeta, serta sangat intens menjadi aktivis dialog kerukunan umat beragama

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dua Jam Bersama Jenderal Daryatmo

11 Mei 2021   17:30 Diperbarui: 11 Mei 2021   18:17 87 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dua Jam Bersama Jenderal Daryatmo
sumber: Ineke daryatmo via wikipedia.org/wiki/Daryatmo

Sebuah Kenangan Indah 40 Tahun Silam:
"DUA JAM BERSAMA JENDERAL DARYATMO"
Oleh Pdt.Em.Weinata Sairin

Kesempatan Emas

Hari Sabtu, 13 Juni 1981 pukul 12.30, Sidang BPL-DGI hari kedua sedang berlangsung di Gedung GKP Sukabumi, baru saja ditutup; sesudah mengakhiri sebuah acara yang hangat: Laporan Umum BPH-DGI dan Laporan Bendahara.

Sebagai anggota Majelis Ketua, yang kebetulan baru saja memimpin acara siang itu, saya benar-benar mengalami kelelahan yang tiada tara. Bayangkan saja bagaimana sulitnya  memimpin sebuah sidang yang peserta-pesertanya adalah pimpinan Gereja, atau pimpinan Dewan Gereja-gereja Wilayah dan Badan-badan Persekutuan Oikumenis sejenisnya, dari berbagai penjuru tanah air. 

Mereka pada umumnya suka bicara panjang lebar menyerupai khotbah, terkadang menggunakan referensi ayat Alkitab dan ya tentu saja mereka berbicara dari latar belakang kepentingan Gereja dan lembaga yang mereka wakili.

Buat saya yang pertama kali memimpin sidang seperti ini, kelelahan dan kegugupan merupakan dua unsur yang tidak bisa saya hindarkan. Baru saja saya bergegas meninggalkan meja pimpinan, Sekretaris Umum DGI Dr SAE Nababan bertanya kepada kami:

"Siapa yang bertugas sore nanti?" Saya jawab: Menurut jadwal, Pdt. D.M. Lintong dari GMIM. Tapi rupanya dia agak terlambat datang.

"Wah bagaimana bisa memimpin kalau dia terlambat datang?" kata Dr. Nababan.

"Kalian bicarakanlah dulu, siapa yang pimpin nanti sore," katanya lagi.

Sore itu dalam jadwal acara sidang tertera Ketua MPR-DPR RI Jenderal Daryatmo akan menyampaikan presentasi tentang pokok "Apa yang diharapkan dari masyarakat berhubung dengan penyusunan GBHN 1983". Presentasi itu diberikan untuk memberi input bagi persidangan dalam rangka penyusunan naskah sumbangan pikiran DGI bagi GBHN 1983. 

Saya berpikir dalam hati: "Ah, senangnya jika saya berkesempatan bisa memimpin acara sore itu." Namun serentak dengan itu muncul juga perasaan-perasaan yang membuat saya kecil hati: mampukah saya memimpin; kalau saya tidak mampu nanti, bukankah saya 'mencemarkan' nama DGI di depan pimpinan lembaga tertinggi negara? Dua perasaan serasa berperang dalam diri saya: Antara keinginan untuk menggunakan kesempatan yang sangat penting itu, dengan rasa ketidakmampuan saya!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN