Mohon tunggu...
Weinata Sairin
Weinata Sairin Mohon Tunggu... Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Belajar Teologia secara mendalam dan menjadi Pendeta, serta sangat intens menjadi aktivis dialog kerukunan umat beragama

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mendengar yang Tidak Bisa Mesti Didengar

22 April 2021   13:32 Diperbarui: 22 April 2021   13:36 37 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mendengar yang Tidak Bisa Mesti Didengar
https://www.picuki.com/media/1560049463561513668

MENDENGAR  YANG TAKBISA TIDAK MESTI DIDENGAR

"Qui habet aures audiendi, audiat. Siapa yang memiliki telinga untuk mendengar, hendaknya dia juga mendengarkan"

Sungguh agung dan akbar Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Karya agung ciptaanNya tak mampu dirumuskan secara sempurna dengan kata-kata manusia yang amat terbatas. Karya ciptaanNya mengatasi segala karya yang pernah ada; karya akbarNya tak ada bandingnya. Lihatlah manusia yang Ia ciptakan secara khusus dan istimewa, dan yang amat berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia memiliki fisik, pikiran, akal budi, perasaan dan berbagai kemampuan lainnya yang memungkinkan manusia mengekspresikan dirinya secara optimal sesuai dengan tugas panggilannya sebagai manusia.

Salah satu kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia adalah 'mendengar'; dalam kaitan itu manusia memiliki telinga. Telinga, kuping sebagai alat pendengaran memiliki makna yang amat penting dan fundamental.

Pemimpin mendengar suara rakyatnya, guru mendengar suara muridnya, suami-istri, anak dan orangtua mesti hidup dengan saling mendengar. Keluarga Besar bangsa yang majemuk mesti saling mendengar. Dari mendengar kita memberikan simpati dan empati. Sebagai umat beragama kita harus terbiasa mendengar suara dan lantunan dari Kitab Suci agama-agama, mendengar suara azan, mendengar kidung nyanyian Gereja, mendengar lantunan umat membaca Al Fatihah, Al Ikhlas dan bacaan keagamaan dari 6 agama besar yang ada. Mendengar para sahabat dari Kepepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa menyampaikan problematika yang mereka hadapi di lapangan. Mendengar suara para akademisi, para praktisi, para milenial, mereka yang berkebutuhan khusus. Ya mendengar banyak hal dari banyak orang yang bisa membarui mindset kita,paradigma berfikir kita. Prof Dr JL Ch Abineno teolog besar dari Kupang NTT, dalam kuliahnya di STT Jakarta tahun 70-an menyatakan agar para pendeta harus lebih banyak mendengar umatnya, jangan hanya berbicara saja.

Mesti ada ruang dalam hati kita untuk mendengar dan menikmati khazanah spiritualitas bangsa kita tanpa harus menutup telinga dan atau menghakimi. Mari mendengar dengan baik, termasuk suara suara yang tak mampu terucapkan yang meluap dari relung hati paling dalam.
Di zaman kini kita juga harus lebih banyak mendengar : mendengar detak jantung, mendengar embusan napas, mendengar rintih lirih dari ruang isoman, mendengar keluhan nir suara dari ruang IGD,ICCU,HCU,mendengar mereka yang kehilangan pekerjaan, jerit tangis yang kehilangan suami dan anaknya yang dibunuh Covid,mendengar nenek renta yang pingsan saat antri BLT, mendengar KPK mengejar DPO, mendengar teroris yang merancang bom dari rumah petak, mendengar jeritan di NTT, Flores, Sumba ya mendengar dimana-mana tanpa kita harus menutup telinga.

Dari mendengar kita berempati, dari berempati kita bertindak menyatakan kasih kita kepada sesama tanpa mempertimbangkan apapun.

Selamat Mendengar! God Bless Us.

Weinata Sairin

VIDEO PILIHAN