Mohon tunggu...
Weinata Sairin
Weinata Sairin Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Belajar Teologia secara mendalam dan menjadi Pendeta, serta sangat intens menjadi aktivis dialog kerukunan umat beragama

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Hidup yang Tak Pernah Mati

9 April 2021   23:51 Diperbarui: 9 April 2021   23:55 248
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: liputan6.com

HIDUP YANG TAKPERNAH MATI

"Non moritus, cujus fama vivit. Yang hidup dalam kemasyhuran, tidakan akan mati"

Kematian, sebagai suatu peristiwa, kejadian, tetap menjadi sesuatu yang misteri bagi setiap orang. Tidak ada yang pernah tahu kapan sang maut akan datang merenggut nafas hidupnya. Seseorang selalu memohon agar kedatangan sang maut ini dipending, diembargo atau ditunda sampai batas yang tidak ditentukan. 

Banyak orang berobsesi ingin hidup lebih lama dari hitung-hitungan Angka Harapan Hidup. Orang-orang yang se fraksi dengan Chairil Anwar bahkan tanpa berhitung dan kalkulasi malah bicara lantang "aku mau hidup seribu tahun lagi". 

Ya Chairil ingin menikmati MRT, ingin menyaksikan nasib Munir yang lebih jelas dan bermartabat dalam sebuah negara hukum.

Chairil masih ingin menyaksikan pemimpin mana lagi yang kena OTT sambil tetap tersenyum walau harus mentransfer milyaran rupiah kepada negara; Chairil ingin melihat bagaimana tol laut, hutan-hutan hijau Papua bisa ditembus jalan darat tanpa kesulitan berarti.

Chairil ingin benar-benar melihat bahwa aktivitas keagamaan manusia Indonesia jauh dari ungkapan kerutinan, pragmatisme, pola pikir do ut des tetapi sebuah pengejawantahan yang sungguh dari religiusitas sang makhluk kepada Sang Khalik.

Walau kedatangannya tak diharapkan, namun kematian banyak diangkat dan dijadikan tema dalam novel, film, puisi, lagu dan diuraikan dalam berbagai buku. D. Kemalawati seorang penyair Aceh terkenal dalam puisinya yang puitis ia berkata tentang maut sebagai berikut.

Kematian

"jika kematian hanya ranjang rebahkanlah tubuh lelah sambil menanti mimpi dalam lelap yang mawar" (" Hujan Setelah Bara", D. Kemalawati, Penerbit Lapena, Banda Aceh, 2012)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun