Mohon tunggu...
Weinata Sairin
Weinata Sairin Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Belajar Teologia secara mendalam dan menjadi Pendeta, serta sangat intens menjadi aktivis dialog kerukunan umat beragama

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Hidup yang Menghidupi Hukum Allah

29 November 2020   14:00 Diperbarui: 29 November 2020   14:16 137
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://koinworks.com/

"Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap, pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum mereka putar balikkan!"(Mikha 7:3)

Manusia, makhluk Allah yang fana, adalah sosok yang dibalut kelemahan yang amat mendasar. Lemah dalam arti tidak mampu mewujudkan kaidah-kaidah kehidupan yang standar. Tak memiliki kekuatan, kemauan, dan kemampuan untuk memberlakukan perintah Allah sebagaimana yang diamanatkan Kitab Suci.

Sisi lemah itu acap kali diungkapkan tatkala manusia berhadapan dengan permasalahan, dan dirumuskan sebagai excuse dari manusia. Manusia memang jatuh bangun dalam menapaki jalan-jalan Allah. Ia kadang begitu setia dan berserah kepada Allah. Namun, kadang ia jatuh terkapar, terempas, dan kandas di tengah lembah kehidupan yang ganas.

Kitab Hakim-Hakim dalam Perjanjian Lama memotret dengan cukup jelas realitas manusia di zaman itu yang kadang setia dan pada saat yang lain melawan kuasa transenden. Akan tetapi, Allah yang kesetiaan dan kesabaran-Nya tidak pernah berubah tetap mengampuni umat manusia dan merangkul-Nya dalam kasih yang utuh dan sejati.

Allah, dalam kesabaran dan kasih-Nya, terus-menerus mengingatkan manusia tentang siapa dirinya, apa tupoksinya, dan perintah Tuhan yang mesti dilakukan oleh manusia. Pengingatan ini amat penting agar manusia tidak terbelenggu pada konteks keduniaannya, sehingga melupakan aspek vertikal-transental yang menjadi perspektif keakanannya.

Dalam Alkitab, Kitab Mazmur 8 memberi perspektif yang lain tentang manusia. Di situ kita tidak mendapati narasi tentang manusia yang lemah, berlumur dosa, yang kehilangan potensi dan tak punya energi, tetapi sosok manusia yang diciptakan hampir sama seperti Allah. Hanya dalam Kitab Mazmur inilah sosok manusia dirumuskan dalam kekuatan seperti itu. Sosok dan figur seperti ini menampilkan manusia dalam wajah yang sama sekali lain.

Narasi manusia dalam Mazmur 8 ini memiliki keterhubungan dengan konsep "manusia sebagai imago Dei" sebagai rumusan yang cukup prospektif tentang manusia. Andaikata rumusan-rumusan imago Dei dan Mazmur 8 lebih dikedepankan dalam ruang-ruang kehidupan, agaknya bisa menolong dalam upaya menghadirkan sosok manusia yang baru, yang bisa berperan lebih signifikan dalam kehidupan nyata. 

Narasi dari Kitab Mikha yang dikutip di bagian awal ini menampilkan sosok manusia yang secara frontal melawan perintah Allah. Kitab Mikha juga mendaftarkan beberapa perbuatan jahat seperti praktik suap, memberi putusan tanpa dasar, memutarbalikkan hukum, tokoh yang menuntut. Jenis
perbuatan jahat seperti itu bisa muncul di setiap zaman, sejak zaman baheula hingga zaman modern sekarang ini.

Sosok manusia yang melawan perintah Tuhan telah menjadi wujud penampilan manusia yang terus berulang dalam beberapa tahun terakhir. Ke depan, manusia sebagai imago Dei dan manusia yang diciptakan hampir sama seperti Allah harus lebih dikedepankan di hari-hari mendatang, demi hidup dan peradaban yang lebih maju.

Manusia harus bebas dari hasrat suap menyuap,baik menyuap maupun disuap, manusia harus bebas dari libido berkorupsi, manusia harus meninggalkn hobby melakukan KDRT, manusia harus berjuang melaksanakan 2 hukum Allah (di zaman baheula ada 10 hukum, kini dengan 'special discount" hanya ada 2 hukum!); ya manusia harus setia kepada perintah Allah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun