Mohon tunggu...
Weinata Sairin
Weinata Sairin Mohon Tunggu... Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Belajar Teologia secara mendalam dan menjadi Pendeta, serta sangat intens menjadi aktivis dialog kerukunan umat beragama

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Menjadi Orang Bijak yang Bijak

16 November 2020   22:02 Diperbarui: 16 November 2020   22:07 131 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menjadi Orang Bijak yang Bijak
en.tempo.co

"He is a wise man who does not grieve for the things which he has not, but rejoices for those which he has." (Epictetus)

Ada banyak pandangan yang dikemukakan oleh para tokoh dan aktivis di dalam masyarakat tentang siapa yang disebut "orang bijak".

Ada yang secara sederhana memberikan gambaran bahwa orang bijak itu adalah orang yang "rambut putihnya telah banyak dan melebihi yang hitam". Definisi itu dalam kenyataan praktis terkadang benar, tetapi acap kali juga tidak tepat.

Ada banyak kasus yang kita hadapi dalam masyarakat yang berkaitan dengan soal-soal moral atau etika, yang ternyata dilakukan oleh mereka yang sudah berusia "senja". Yang cukup memprihatinkan kita, tindakan negatif itu dilakukan secara bersama-sama oleh orang-orang yang usianya sudah lebih dari setengah abad tersebut.

Sikap bijaksana memang tidak selalu berhubungan dengan rambut putih yang membungai kepala para oknum berusia lanjut. Sikap bijaksana bisa datang dari siapa pun, tanpa memandang usia.

Sikap itu bisa saja lahir dari seseorang yang sudah cukup lama menikmati asam-garam kehidupan; bisa saja dimiliki oleh seseorang yang jumlah jam terbang kehidupannya tinggi. Namun, sikap yang penuh wisdom (kebijaksanaan) bisa lahir dari seseorang yang memiliki kematangan kepribadian, yang menggeluti dengan amat intensif persoalan yang muncul dalam kehidupan.

Sikap bijaksana bisa terwujud melalui sisi-sisi kehidupan yang besar, juga yang kecil, dalam konteks budaya mondial yang amat beragam, yang diwarnai ajaran keagamaan bernilai universal.

Sikap bijaksana amat diperlukan dalam banyak aspek kehidupan.

Dalam sebuah kehidupan yang keras, yang di dalamnya para anggota masyarakat sering terlibat konflik, peran orang bijak amatlah penting.

Ada kisah menarik tentang bagaimana sikap bijak bisa memperbaiki suasana dalam sebuah makan malam. Pada saat selesai makan malam, seorang pelayan menyodorkan mangkuk untuk mencuci tangan ke hadapan Harold Russell, seorang mantan tentara yang tidak lagi mempunyai tangan sebagai akibat perang. 

Menyadari kesalahannya itu, pelayan itu tampak sangat malu. Harold, sang mantan tentara, mencoba mencairkan suasana dengan tersenyum lebar, kemudian berkata: "Maaf, Nak, aku tidak pernah menyentuh barang itu!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN