Mohon tunggu...
Achmad Suwefi
Achmad Suwefi Mohon Tunggu... Administrasi - pekerja swasta yang suka nulis

You will never walk alone

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sang Gubernur yang Zuhud dan Merakyat

12 Februari 2017   20:59 Diperbarui: 12 Februari 2017   21:04 288 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sang Gubernur yang Zuhud dan Merakyat
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bicara tentang zuhud memang sesuatu hal yang sulit untuk diimplementasikan, apalagi diera dimana hedonisme menjadi warna kehidupan sekarang ini.Zuhud seakan hanya menjadi bahasan dalam kajian agama namun setidaknya kita bisa belajar dan memahami seperti apa serta bagaimana sikap zuhud tersebut yang banyak diartikan sebagai sikap meninggalkan hal-hal yang berbau dunia.

Saat menghadiri pengajian membahas kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi Al-Banteniy, ada beberapa catatan kecil tentang Zuhud. Kata Zuhud sendiri terdiri dari tiga huruf yakni Zay, Ha dan Dal dimana Zay berarti Zadun atau bekal menuju akhirat, Ha berarti Hidayah menuju agama dan Dal berarti Dawam atau langgeng dalam ketaatan kepada ALLAH SWT.

Karena dunia ini mencakup banyak hal termasuk puji-pujian orang, berbagai kenikmatan serta terkadang berlebih-lebihan dalam segala hal. Maka Zuhud juga bisa diartikan sebagai meninggalkan Zienah atau perhiasan, sedangakan Ha berarti meninggalkan Hawa Nafsu dann Dal menunjukkan maksud dari meninggalkan dunia baik sedikit maupun banyak.

Ibrahim bin Adham ra pernah ditanya, ‘sebab apa tuan mencapai zuhud?’ lalu dijawabnya ‘Dengan tiga indicator yakni saat melihat kuburan itu mengerikan sedang belum kudapatkan pelipurnya.Saya melihat jarak kelana teramat jauh padahal belum memiliki bekal yang cukup dan saya melihat ALLAH Yang Maha Perkasa akan mengadili, padahal belum diperoleh alasan’.

‘Zuhud didunia itu bukanlah mengharamkan barang yang halal dan bukan pula membuang harta sia-sia, akan tetapi zuhud didunia ialah sikap lebih mempercayai apa yang ada disisi ALLAH dari pada apa yang ada ditanganmu.dan sikap lebih suka terhadap pahala yang diperoleh dari akibat suatu musibah yang menimpa dirinya kalau saja timpaan itu berlanjut terus’ (HR. At Turmudziy dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra).

Lalu apakah sikap zuhud dan merakyat ada dicalon pemimpin yang akan maju di Pilkada serentak? Hanya masyarakat yang memilih tentunya yang bisa menilai, setidaknya kita bisa belajar dari apa yang dikisahkan dari sosok gubernur yang zuhud dan merakyat berikut.

Diera Khalifah Umar bin Khattab ra, diangkatlah Salman Al Farisi sebagai Gubernur Mada’in walau sempat berkali-kali menolak tawaran dari sang Khalifah. Namun demi rasa hormatnya kepada Khalifah Umar, Salman pun akhirnya menerima jabatan Gubernur tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju Mada’in dengan menunggangi keledai seorang diri.

Dalam sebuah riwayat, suatu hari Salman yang mengenakan pakaian layaknya rakyat biasa berjumpa dengan seorang tua asal Syam yang nampak kelelahan karena memanggul karung penuh muatan. Dan sang gubernur pun menawarkan diri untuk membawakan muatan tersebut sampai ditujuan dan diperjalanan keberadaan Salman pun diketahui oleh warganya yang berada dijalur yang dilalu sang gubernur.

“Wahai Gubernur, biar saya yang membawakan karung ini,” pinta warganya.

“Tidak. Aku akan membawanya sampai ke tempat persinggahanmu,” jawab Sang Gubernur kepada kakek yang meminta maaf setelah mengetahui yang menolongnya adalah Gubernur Salman.

Sedangkan disaat-saat jelang kematiannya pada 33 H, sahabat Saad bin Abi Waqash menemui Salman yang nampak murung dan sedih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x