Weedy Koshino
Weedy Koshino ibu rumah tangga

Hallo. Ibu 2 anak yang hidup di Jepang. Ingin membagi pengalaman selama hidup di Jepang. Semoga bisa bermanfaat. Yoroshiku Onegaishimasu.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Petani Jepang Kok Bisa Makmur?

22 April 2015   04:56 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:49 2303 0 0
Petani Jepang Kok Bisa Makmur?
14296528842002287234

[caption id="attachment_379535" align="aligncenter" width="500" caption="Beras yang dijual di supermarket adalah beras lokal dengan berbagai merk unggulan dari tiap daerah"][/caption]

Kalau sedang belanja di supermarket, kadang saya suka perhatikan orang-orang sini saat mereka membeli beras. Sudah dibolak-balik bungkusan berasnya terus dibaca-baca lagi itu tulisannya sampe serius banget mukanya. Dulu sih sempet heran mikir duile segitunya banget, tapi sekarang ternyata saya jadi ngelakuin juga kaya mereka, walo yang pertama saya lihat kalo beli beras ya harganya dulu yang dicari, kalo pas di dompet, baru baca-baca keterangannya.

Orang Jepang sama kaya orang kita, makanan pokoknya nasi. Suami saya persis kaya bapak saya, kalo belum masuk nasi itu namanya belum makan, belum nendang di perut katanya. Padahal kan roti atau kentang, ubi pun juga mengandung karbohidrat ya, bisa mengenyangkan, tapi kok yao ini pada tetep keukeuh sumekeh sekalinya nasi ya tetep nasi, yo wes turutin aja daripada benjol wkwk....

Nasi di Jepang termasuk dalam varietas Japonica rice, bentuknya bulet-bulet, kalo dimasak lengket dan empuk (nasi pulen), makanya pas banget kalo dibuat jadi Onigiri atau nasi kepel ala Jepang yang diisi oleh tuna, salmon flake, buah plum, kombu (rumput laut), dsb. Tapi sayangnya beras jenis ini kalo dibuat nasi goreng itu jadinya blenyek, nah lihat di TV sini cara ngatasinya adalah dengan diaduk oleh kocokan telur! Dan jreeeng itu nasinya bener-bener jadi gebyar misah satu-satu.

Suami termasuk yang paling teramat super bawel sejagat kalo sudah ngomongin per-NASI-an. Kalau ditanya kenapa dia konsen banget kalau sudah suka satu brand beras, gak bisa ke lain hati. Trus kalau kita ngotot yang ada penjelasan dia suka panjang kali lebar alias bikin ngantuk. Pertama pindah ke Jepang, saya diajak kaya tur keliling supermarket sambil suami menjelaskan berbagai macam bahan makanan jepang untuk makanan kita sehari-hari nantinya, dan salah satunya cara milih beras.

Di supermarket Jepang, beras itu dijual dalam kemasan plastik atau ada juga yang kantong kertas, dalam takaran kiloan. Biasanya sih 1 kilo, 2 kilo, 5 kilo dan 10 kilo/per bag. Saya kalau beli beras pertama yang saya lirik adalah tentu saja harganya, karena menurut saya walau harga beras paling murmer sekalipun, itu rasanya tetep enak dan nasinya pulen, jadi ya ga usah cari yang mahal-mahal dengan grade paling wahid.

Lah emang apa aja sih yang dilihat orang Jepang saat mereka membeli beras?

Asal Beras

Di Jepang setiap daerah mempunyai beras unggulan tersendiri. Nah, beras unggulan dari setiap daerah ini biasanya mempunyai nama brand sendiri. Jadi kalau kita menyebut suatu nama brand beras, masyarakat Jepang sudah bisa menebak kalau beras itu asalnya dari mana. Wuih hebat ya. Beras yang paling uenak adalah brand Koshihikari dari Niigata prefecture. Kenapa beras ini enak? Karena daerah ini adalah daerah pegunungan dengan banyak mata airnya. Sumber irigasinya pun dialiri oleh air sungai yang sangat jernih dan bersih. Makanya gak heran, beras koshihikari dari Niigata ini adalah beras super dan bisa ditebak kalau harganya juga paling mahal.

Kondisi Beras

Nah ini penting banget untuk kita lihat dalam kemasannya. Karena bisa menentukan juga harga berasnya. Kondisi beras di Jepang itu ada dua, beras shinmai dan beras komai. Beras shinmai adalah beras hasil baru panen. Kita bisa menyadarinya saat lihat kemasan di mana tercantum kalau produksi beras dengan masa panennya itu dalam tahun yang sama. Keadaan iklim di sini membuat negara ini harus berpuas diri hanya bisa menikmati acara panen padinya sekali dalam setahun (lebih hebat Indonesia, panen bisa berkali-kali) dan biasanya masa panen itu sekitar bulan September/Oktober.

Lalu untuk beras komai, ini adalah beras yang dijual melewati tahun dari masa panennya. Bagi masyarakat kebanyakan termasuk saya, beras komailah yang sering kita konsumsi untuk makan sehari-hari, walau kualitasnya tidak secanggih beras shinmai (beras baru) tapi rasanya cukup enak kok, legit.

Melihat gimana masyarakat Jepang begitu fokus dengan keadaan nasi yang mereka akan makan membuat para produsen, dalam hal ini adalah para petani terus semangat dalam mempertahankan kualitas produksinya. Saya pernah lihat di TV yang membahas tentang kehidupan petani di daerah pedesaan. Itu ya, walau di desa kok peralatan saat mereka musim panen bener-bener canggih dan mutakhir. Dari yang penyiapan bibit, penyiapan lahan, menanam bibit sampai dengan proses pemotongan saat panen semua seperti teratur dan terorganisir dengan jelas dan rapi. Membersihkan padi, memutihkan berasnya dari warna coklat sampai menjadi putih bersih begitunya pun dikelolanya sendiri dengan mesin yang dipunyai oleh petani itu. Deeuh heran saya, kok bisa beli sih mesin mahal-mahal begitu? Ya, ternyata para petani di Jepang ini bekerja tidak sendiri. Tahu nggak dapet back up dari mana? Pemerintahnya!

Ya, pemerintah Jepang sangat kuat menyokong masalah industri pertanian apalagi hasil padi ini dengan banyak memberikan bantuan baik itu saat masih dalam proses pembuatan hingga sampai proses pendistribusiannya. Lah kalo kita pikir waras ya, memang harus begitu, di sini makanan pokoknya nasi, ya yang utama adalah menjaga kesejahteraan hidup para petaninya, sumber dari segala sumber. Akhirnya pemerintah Jepang dengan kebijakannya memberikan wewenang kepada suatu asosiasi khusus yang dibentuknya itu, sebagai pelaksana lapangan untuk melindungi para petani-petani di sini. Asosiasi itu terkenal dengan sebutan JA, atau Japan Agriculture. JA ini kalau di Indonesia disebut dengan koperasi pertanian kali ya, dengan para anggota ya para petani itu sendiri.




[caption id="attachment_379536" align="aligncenter" width="500" caption="simbol JA menandakan kalau beras ini adalah beras bersubsidi"]

1429652948241149197
1429652948241149197
[/caption]

Saya jadi inget temen Jepang di sini yang kampungnya di Ibaraki. Seumur-umur teman saya ini belum pernah itu yang namanya beli beras, ya iya wong emak-bapaknya petani di Ibaraki. Jadi saya yakin itu beras yang dikonsumsi mereka semua sekeluarga adalah beras dengan grade terbaik. Saat saya berbincang tentang kenaikan harga beras saat itu, dia cuma ngegelengin kepalanya, alias gak ngerti harga, huwaa enaknya dah makan beras shinmai (beras baru) gretong lagi wkwkwkwk. Temen saya akhirnya kasih bocoran ke saya, kalau mau beras enak dengan harga yang stabil itu cari deh beras yang packing-nya ada tulisan JA (Japan Agriculture). Orang tua temen saya itu masuk jadi member JA. Katanya hidupnya bisa tenang, apalagi orang tuanya juga sudah sepuh. Terus tenangnya kenapa emang sih? Katanya mereka selalu dapet pendampingan dari pengurus JA. Dan katanya saking begitu banyak pertolongan yang diberikan oleh JA, itu hampir otomatis semua petani di sini adalah member JA.

Kagum banget saya sama cara kerja JA ini, kalau nggak salah ibu mertua saya yang mempunyai kebun jeruk keluarga di daerah Ehime, kayanya juga sudah terdaftar menjadi member JA. Karena setiap musim panas otomatis itu kiriman satu kerdus jus jeruk sama buah jeruknya dikirim oleh mertua untuk cucu-cucunya ini. Di pojok kerdus ada tulisan JA-nya.

Kebijakan pemerintah dalam membentuk badan pelaksana lapangan, JA ini saya pikir suatu tindakan yang sangat tepat. Dengan dasar tujuan ingin memajukan pendapatan para petani, JA dengan tulus menyuport hasil tani mereka hingga pada saat pendistribusiannya juga.

Dan akhirnya kesuksesan asosiasi ini membuat JA semakin besar dan akhirnya melepaskan diri dari naungan pemerintah. Jadi katanya asli ini pure yang menjalankan adalah para petani itu sendiri. Kalo lihat mereka sudah mandiri, itu artinya pengasuhan dan bimbingan dilakukan oleh para petani senior yang menyumbangkan ilmunya kepada para petani junior yang masih belum berpengalaman, dan begitu seterusnya. Haduh makin salutt saya, karena ternyata sekarang bukan saja hanya sebatas ngejar hasil produksi untuk meningkatkan taraf hidup mereka, tapi mereka juga tetap mempertahankan guyub mereka, saling membagi ilmu serta mempertahankan kelanggengan organisasi ini.

Saya sempet mikir awalnya, kalo JA begitu berperan banget akan hasil para petani ini jangan jangaaannn entar jadinya pemerintah monopoli itu hasil tani? Ternyata saya salah besar! Itu para petani yang sudah jadi member JA ga musti kok pengurusan hasil tani dipegang JA. Bisa saja para petani menjual langsung kepada konsumen. Tapi bener kata temen saya yang orang tuanya petani di Ibaraki itu, masuk JA itu tenang dan tentrem. Kenapa? Karena hasil tani yang dikelola atau dijual kepada JA itu mendapat subsidi dari pemerintah. Jadi para petani gak perlu cemas saat beras harganya melonjak tinggi, maka pemerintah bisa menekannya tetap pada harga pasaran yang normal agar konsumen masih bisa membelinya. Begitu pun sebaliknya saat harga jatuh, petani gak perlu gelisah pendapatan akan mengecil karena tetap harga yang dijual adalah harga pasaran. Nah hal-hal yang seperti inilah yang melegakan para petani yang masuk ke dalam member JA ini. Dan jangan heran kenapa pemerintah Jepang punya uang bahkan seperti mengalokasikan khusus dana untuk sektor pertaniannya itu, ini tak lain adalah adanya subsidi silang dari pendapatan dana pada bidang elektronik dan otomatif yang kita tahu kalau pendistribusiannya saja sudah sangat ajeg dan mendunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2