Mohon tunggu...
Marwah Thalib
Marwah Thalib Mohon Tunggu... Guru

Menolak kemungkaran itu harga mati, menyerukan islam kaffah itu konsekuensi keimanan.\r\nSejarah boleh mencatat kita sebagai pejuang. Tapi kita berjuang bukan karena catatan sejarah. alamat lainnya bisa dikunjungi di \r\nhttp://marwah-syiardalamtulisan.blogspot.com/\r\n

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Kenapa Mau Menulis

17 Mei 2019   09:08 Diperbarui: 17 Mei 2019   09:13 0 0 0 Mohon Tunggu...

Saya menulis karena yakin bahwa umur manusia berbatas. Kita hidup di dunia tidak untuk selamanya. Ada saatnya kita harus pulang. Jatah waktu hidup ini sangat singkat. Terutama kita ummat Nabi Muhammad . Umur kita hanya puluhan tahun, atau kadang-kadang lebih sedikit dari seratus tahun. 

Kita bukan umat Nabi-nabi terdahulu yang hidup ratusan hingga ribuan tahun. Tentu mereka punya banyak kesempatan untuk beribadah dan menebar manfaat.

Nabi Nuh saat diangkat menjadi Rasul usianya kurang lebih 350 tahun. Lalu, beliau berdakwah hingga 950 tahun. Waktu yang sangat panjang jika dibandingkan usia manusia saat ini. Meskipun begitu, kita patut bersyukur. 

Walau usia kita terbilang sangat singkat, tapi Allah sudah menyiapkan banyak kesempatan untuk melipat gandakan pahala. Seperti beribadah di bulan ramadhan atau shalat di tanah suci dan sebagainya. Di situlah kesempatan kita untuk memperbanyak pahala. 

Selain itu ada hikmahnya kenapa buku dan teknologi berkembang pesat saat ini. Bisa jadi itulah cara Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk lebih mudah menebar manfaat. Ada yang memanfaatkan dengan membuat video dakwah. 

Bagi yang suka menuangkannya dalam aksara, maka pilihannya adalah menulis. Menulis dalam bentuk apapun, bisa lewat media cetak ataupun elektronik.

Segala macam media dimanfaatkan. Dengan begitu, tulisan kita mampu menembus ruang dan waktu. Umur kita yang singkat tak mungkin membawa kita menjelajahi bumi yang luas ini. namun dengan tulisan, kita bisa melakukan itu. 

Mungkin fisik kita belum pernah ke suatu tempat, tapi tulisan kita sudah sampai ke sana. Mungkin usia kita hanya puluhan tahun, tapi tulisan kita bisa melebihi itu. Bisa jadi seratus tahun, seribu tahun atau lebih dari itu.

Saya menulis karena sadar bahwa manusia itu pelupa. Jangankan ilmu yang diperoleh beberapa tahun lalu, beberapa menit yang lalupun bisa terlupakan. Ide di kepala yang muncul beberapa detik sebelumnya bisa tiba-tiba terbang. Karena itu menulis adalah mengikat ilmu. Pun menjadi pengingat ke depannya bagi penulis dan bagi siapapun yang ingin diingatkan.

Bagi saya, menulis itu juga sebagai salah satu cara mengungkapkan rasa. Ada banyak rasa yang ingin diuangkapkan. Namun bahasa lisan tidak selalu mampu menjangkaunya. Kegelisahan tentang keadaan Negeri, keprihatinan akan nasib umat manusia atau rasa syukur, cinta, sedih dan lainnya. Termasuk di tulisan ini masih banyak rasa yang ingin diungkapkan. 

Namun kali ini cukup di sini dulu. Doakan semoga ikrar saya di atas segera tertunaikan, InsyaaAllah. Sehingga kita bisa berbincang lebih lama dengan lembaran-lembaran yang jauh lebih tebal. Tentunya dengan tema kebaikan, aamiin yaa Rabb.

Salam dari saya pecinta aksara yang akan ada waktunya, namanya tertulis di atas pusara