Mohon tunggu...
Marwah Thalib
Marwah Thalib Mohon Tunggu... Saya seorang guru yang suka menulis

Menolak kemungkaran itu harga mati, menyerukan islam kaffah itu konsekuensi keimanan.\r\nSejarah boleh mencatat kita sebagai pejuang. Tapi kita berjuang bukan karena catatan sejarah. alamat lainnya bisa dikunjungi di \r\nhttp://marwah-syiardalamtulisan.blogspot.com/\r\n

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengontrol Rasa Tersinggung

25 Juni 2018   04:56 Diperbarui: 25 Juni 2018   07:19 0 0 0 Mohon Tunggu...
Mengontrol Rasa Tersinggung
Sumber gambar dari http://tasidola.com

Sedikit-sedikit tersinggung itu tidak selalu bermakna negatif. Justru, malah berbahaya kalau kita tak pernah tersinggung. Misal kita dengar nasihat tentang bahaya pacaran, minum khamr atau berbohong misalnya. Begitupun  dengan larangan berhukum selain hukum Allah, riba, atau bergandengan tangan dengan pembantai kaum muslim. Lalu kita ini punya pacar, masih susah meninggalkan hamr, masih ragu dengan hukum Allah (syariah islam) atau masih terjerat riba atau kadang-kadang masih suka berbohong. Tapi kita tidak tersinggung. Bahaya, jangan-jangan itu salah satu alamat kalau hati kita sedang beku.

Di dunia ini banyak hal yang bisa memancing orang lain tersinggung. Termasuk dari postingan kita. Terutama saat kita memosting tentang pesan-pesan kebaikan. Ada yang merasa seakan-akan pesan itu khusus ditujukan untuk dia saja. Padahal bisa jadi memang itu pas dengan masalahnya, tapi itu bukan khusus untuk dia.

Misalnya, seorang ustadz menyampaikan pesan kebaikan tentang dosa pacaran di khalayak ramai. Atau bhakan dia posting di medsos. Lalu teman atau keluarganya membaca, dia tersinggung karena dia punya pacar. 

Apakah teman atau keluargnya itu marah. Bisa jadi marah, tapi bisa juga dia memilih untuk tidak marah. Dia berpikir bahwa yang pacaran itu bukan hanya 'saya', di luar sana juga bnyak. 

Dan lebih bijaknya lagi, dia bisa saja menjadi sadar dengan postingan itu. Atau saat si ustadz posting atau memasukkan konten bahaya berburuk sangka dalam ceramahnya. Lalu saat itu bisa jadi istrinya sedang berburuk sangka dengan si ustad ini. 

Si istri bisa saja marah, tapi marah untuk apa. Allah melarang berburuk sangka bukan khusus untuk kita saja. Contoh lain, dan ini mungkin paling sering muncul. Paling sering membuat tersinggung atau salah paham saat postingan itu keluar dari seseorang dari latar belakang harokah yang berbeda. Dan ini paling bahaya, karena ukhuwwah itu bisa rusak.

Medsos hadir bukan tahun ini sja, sudah bertahun-tahun. Ayolah mari kita bijak menaggapi setiap postigan teman, kolega, saudara, atau bahkan orang yang menganggap kita musuh sekalipun. Kalaupun postingannya pas dengan masalah kita, bijaklah menyikapinya. 

Ambil baiknya buang buruknya. Yang perlu kita pahami, yang diseru berdakwah itu bukan hanya untuk pak ustadz, sasaran dakwah itu tidak melulu hanya kita. Dan wasilahnya tidak harus di atas mimbar. Maya dan nyata adalah lahan kita berdakwah.

Tersinggung boleh, bahkan harus dihadirkan. Justru berbahaya kalau perasaan itu tak pernah muncul. Tapi, cara kita menyikapinya itu yang harus dikontrol. Apakah ketersinggungan kita itu jadi bahan untuk menyalahkan mereka yang posting kebaikan. Ataukah ketersinggungan menjadi jalan untuk introspeksi diri. Termasuk dengan postingan saya kali ini, bisa jadi memancing yang membaca tersinggung. 

Saya hanya bisa meminta maaf, karena saya tak bisa mengontrol pikiran-pikiran pembaca. Meski saya sudah berusaha menggunkan kata-kata yang bisa diterima oleh siapapun. Namun, sangat mungkin masih ada yang menangkap berbeda dari apa yang ingin tersampaikan.

Kalau saya ingin menyalahkan siapa saja yang telah membuat saya tersinggung. Banyak sekali, tak terhitung. Guru, teman, sahabat, keluarga, pemerintah, ulama, rekan kerja, bahkan di medsos-medsos saya sering sekali tersinggung. Bahkan saya sering berselancar di mbah google hanya untuk 'menyinggung diri saya sendiri' saat kebaikan itu susah sekali untuk diterima. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x