Mohon tunggu...
Marwah Thalib
Marwah Thalib Mohon Tunggu... Saya seorang guru yang suka menulis

Menolak kemungkaran itu harga mati, menyerukan islam kaffah itu konsekuensi keimanan.\r\nSejarah boleh mencatat kita sebagai pejuang. Tapi kita berjuang bukan karena catatan sejarah. alamat lainnya bisa dikunjungi di \r\nhttp://marwah-syiardalamtulisan.blogspot.com/\r\n

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sukses Itu Butuh Latihan

3 Januari 2018   05:31 Diperbarui: 3 Januari 2018   17:34 0 3 0 Mohon Tunggu...
Sukses Itu Butuh Latihan
Ilustrasi: motherbaby.com

Sadar atau tidak, kunci dari segala kesuksesan adalah latihan. Apapun yang kita ingin raih, kuncinya adalah berlatih. Berbicara tentang latihan, kita bisa berguru dari bayi yang sedang belajar berjalan. 

Dari kegigihan seorang bayi yang berproses dimulai saat dia belajar tengkurap hingga mampu berjalan. Pernahkan kita berpikir kenapa hari ini kita bisa berjalan, hingga berlari sedemikian mudahnya. Sedangkan jika kita melihat saat anak kecil mulai merangkak kelihatannya begitu susah.

Di umur 4 bulan biasanya bayi mulai belajar memiringkan badannya, lima bulan pelan-pelan berusaha tengkurap. Meski berpayah-payah ia terus berusaha. Sekali dicoba badannya masih berat ia balik. Saat tak berhasil dia menangis. Tapi apakah ia berhenti mencoba? Tidak, di terus mencoba. Sekali, dua kali, tiga kali, empat, hingga percobaan yang kesekian iapun berhasil. Lalu itupun masih terus diulang hingga lancar. Sekali gerak langsung tengkurap tidak sepayah di awal. Dari tidak bisa menjadi bisa, dari bisa menjadi terampil.

Bayi belajar berjalan itu butuh proses yang panjang. Sudah tengkurap tak lngsung berjalan, tapi merangkak dulu, awalnya mengangkat kepalanya, lalu bokongnya, pun baru setelah itu pelan-pekan badannya merangkak. Beberapa detik, lalu terjatuh. Sebentar-sebentar dicoba lagi. Masih jatuh tertiarap. 

Tapi kegagalan itu tak menyurutkan semangatnya, justru dia semakin sering ingin mencoba. Hari ini belum berhasil, besok dicoba lagi, ternyata belum berhasil juga, besok dilatih lagi, berhari-hari belum juga sempurna, belum juga terampil, ya dicoba lagi. Hingga berhasil. Terus berlanjut sperrti itu. Dari keterampilan yang satu lanjut ke keterampilan yang lain. Dari terampil merangkak hingga berjalan, berlari, melompat, memanjat. Terus begitu. Intinya latihan

Tahap demi tahap dilewati hingga dapat berjalan dengan mudah. Begitu pula dalam segala hal yang ingin kita raih. Bagi yang ingin menang lomba musikalisasi puisi misalnya, berarti harus latihan membaca puisi. 

Bagi yang ingin menang olimpiade sains, maka dia butuh latihan mengerjakan soal-soal level olimpiade. Bagi mereka yang ingin jadi pemanah yang jitu, maka dia harus berteman dengan aktivitas panahan, intinya dia harus latihan memanah bukan latihan memasak.

Termasuk dalam hal beribadah, ianya sangat butuh latihan. Tanpa latihan, bacaan al-Quran kita akan terus terbata-bata. Tanpa pernah berlatih fokus dalam shalat, bagaimana bisa kita merasakan nikmatnya khusyu' dalam shalat. 

Melihat muslimah lain memakai hijab tapi tetap enjoy seperti tak merasakan panas, mau juga. Tapi tak pernah mau bersusah-susah membiasakan memakai hijab.

Padahal kalau ditanya mereka yang kelihatannya nyaman dengan hijabnya, pun di awal mereka juga sering kegerahan. Begitu pula saat melihat mereka yang begitu mudahnya berdakwah di atas mimbar, tapi kita tak mau tau apa yang dia lakukan di hari-hari sebelumnya sebelum suaranya kita dengar di atas mimbar itu.

Menyoal latihan, tak perlu jauh-jauh. Berlatihlah dulu menerima identitas kita. Jika kita manusia, dan masih ingin jadi manusia maka berlatihlah menjadi manusia bukan tumbuhan apalagi binantang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2