Mohon tunggu...
Warkasa1919
Warkasa1919 Mohon Tunggu... Pejalan

Kata orang, setiap cerita pasti ada akhirnya. Namun dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kisah Si Belah Mencari Tuhan [Bagian Lima]

15 Agustus 2020   14:14 Diperbarui: 19 Agustus 2020   20:53 269 42 8 Mohon Tunggu...

Bagian Lima

<< Sebelumnya

"Para Pekerja Seks Komersil (PSK) di tempat itu tertawa semua, tapi ada satu PSK yang tadi sempat menangis saat mendengarkan cerita perjalanan Si Belah mencari Tuhan itu terdiam. Dan setelah tawa teman-temannya reda, Ia bertanya kepada Si Belah," Jabrik berkata pelan sambil melihat ke arah Oneng di depannya.

"Bertanya apa?" tanya Oneng sambil melihat ke arah Lelaki kurang ajar yang sedari tadi terus berusaha menggodanya.

"Jika nanti engkau bertemu dengan Tuhan, tolong tanyakan, Aku akan dimasukan ke dalam Surga apa Neraka?" 

Jabrik menirukan ucapan salah seorang PSK yang bertanya kepada Si Belah.


"Iya, terus apa jawaban Si Belah?" cecar Oneng penasaran dengan jawaban Si Belah kepada Wanita Penghibur yang bertanya kelak Ia akan dimasukan ke dalam Surga apa Neraka.

"Baiklah." 

Jabrik kembali menirukan ucapan Si Belah kepada PSK yang bertanya kepadanya.

"Cuma begitu doank jawaban Si Belah? Trus," tanya Oneng penasaran, sambil melihat ke arah Jabrik yang tengah mengeluarkan sebungkus Rokok dari dalam kantung bajunya.

"Oneng enggak merokok," kata  Oneng lagi sambil menggelengkan kepalanya, saat Jabrik menawarinya sebatang Rokok kepadanya.

Jabrik memasukan sebatang Rokok ke dalam mulutnya sendiri, membakarnya, lalu menghisapnya dalam-dalam.

"Dan Si Belah pun berlalu, meninggalkan para PSK dikeremangan malam," kata Jabrik lagi sambil menghembuskan asap Rokok di dalam mulutnya secara perlahan.

"Iya, terus?" tanya Oneng sambil mengibas-ibaskan tangannya, berusaha menjauhkan asap Rokok yang mendekat ke arahnya.

"Setelah jauh berjalan, maka sampailah Si Belah ini di pinggiran Kali, bertemu dengan seorang Wanita tua yang tengah Sembahyang di atas batu Kali," kata Jabrik lagi sambil kembali menghisap asap Rokok-nya dalam-dalam.

"Nenek-nenek?" tanya Oneng, memperjelas jawaban Jabrik barusan.

"Iya," kata Jabrik sambil menaruh puntung Rokok-nya di dalam Asbak, lalu mengambil Cangkir di depannya, menyeruput isinya dan kembali menaruhnya di atas Meja secara perlahan.

"Hihihi.. Tadi Oneng pikir Laki-laki," kata Oneng sambil menutup mulutnya sendiri.

"Bukan! Kalau Laki-laki nanti disangka Sunan Kalijaga." kata Jabrik kalem.

"Hihihi..Iya ya..," kata Oneng sambil tertawa cekikikan dan kembali menutupi mulutnya ketika sedang tertawa. Menyembunyikan barisan gigi putihnya yang terlihat begitu bersih dan rapi dengan jari-jari tangannya.

"Hai Belah, mau kemana?" kata Jabrik lagi.

"Kata siapa?"  tanya Oneng pada Jabrik.

"Kata Si Nenek di atas batu Kali," jawab Jabrik lagi.

"Oo," kata Oneng sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.

"Aku hendak mencari Tuhan, Nek," Jabrik kembali menirukan ucapan Si Belah.

"Terus apa kata Si Nenek di atas batu Kali?" kata Oneng lagi yang penasaran dengan jawaban Wanita tua di atas batu Kali.

"Si Nenek melihat Si Belah berulang kali, lalu tertawa 'terpingkal-pingkal'mendengarkan perkataan Si Belah yang cuma memiliki tubuh sebelah dan terlihat begitu kotor sekali dimatanya. Si Belah ini ketika berjalan seperti orang yang tengah merangkak, jadi seluruh tubuhnya kotor." jawab Jabrik sambil melihat ke arah Oneng.

"Iya," kata Oneng sambil berusaha membayangkan bagaimana kondisi Si Belah.

"Nenek di atas batu Kali bangkit dari tempat duduknya lalu turun dari atas batu sambil menunjuk ke arah batu kali di depannya yang terlihat cekung sambil berkata kepada Si Belah di sampingnya; saat Aku pertama kali sembahyang di atas batu ini, dulu batu ini cembung, tapi lihat batu ini sekarang. Saat ini permukaan batu kali yang awalnya cembung itu sudah menjadi cekung akibat kupakai untuk beribadah di atasnya."

Jabrik berusaha menggambarkan dan menirukan ucapan Nenek di pinggir Kali kepada Si Belah.

"Iya" jawab Oneng yang sepertinya mampu menangkap apa yang tengah di gambarkan oleh Jabrik, saat terjadinya percakapan antara Si Belah dan Nenek di pinggir Kali.

"Si Belah kaget, batu sungai yang awalnya cembung itu bisa berubah menjadi cekung akibat terlalu lama di pakai  untuk beribadah oleh Si Nenek."

Jabrik kembali berusaha menggambarkan suasana kebatinan dan isi pikiran Si Belah saat itu.

"Iya, kebayang sudah berapa lama Si Nenek beribadah di atas batu Kali itu.Terus?" tanya Oneng lagi sambil memandang ke arah lain.

Oneng tidak berani menatap kedua mata Lelaki kurang ajar di depannya ini. Masih jelas di dalam ingatannya, saat tadi Ia tanpa sengaja melihat kedua bola mata Lelaki misterius di depannya ini, entah kenapa, sekilas tadi Ia bisa melihat bayangan dirinya yang tengah disetubuhi oleh Lelaki kurang ajar ini, disuatu tempat yang sudah tidak terlalu asing lagi buatnya.

"Setelah tawanya sedikit reda. Si Nenek kembali berkata kepada Si Belah; Aku saja yang sudah beribadah siang malam seperti ini, tidak pernah sekalipun di temui Tuhan di tempat ini, apalagi kamu yang kayak begini? Hahehe.. Kata Si Nenek lagi sambil tertawa melihat ke arah Si Belah yang begitu kotor di depannya."kata Jabrik menirukan ucapan Wanita tua di pinggir Kali kepada Si Belah yang cuma terdiam saat mendengarkan kata-kata Wanita ahli ibadah di depannya.

"Terus..?" tanya Oneng pelan.

Oneng bisa merasakan kesedihan Si Belah saat itu.

"Tapi baiklah, nanti kalau kamu memang benar-benar bertemu dengan Tuhan, tolong tanyakan Aku masuk Surga apa?"

Jabrik kembali menggambarkan suasana saat terjadinya percakapan antara Si Nenek dan Si Belah di pinggir Kali.

"Iya" kata Oneng lagi sambil kembali mengambil tissue di atas Meja, lalu meremas--remas dengan kedua tangannya.

"Baik Nek, jawab Si Belah. Si Belah lalu pamit kepada Wanita tua di pinggir Kali dan kembali melanjutkan perjalannya, mencari Tuhan," kata Jabrik sambil melihat ke arah tissue di tangan Oneng.

"Iya. Si Nenek yakin bakalan masuk Surga ya?" tanya Oneng sambil melihat ke arah Jabrik.

"Iya. Kan amal ibadah si Nenek sudah banyak sekali," jawab Jabrik pelan.

"Iya ya, kan sudah ibadah siang malam di atas batu Kali," kata Oneng pelan sambil menarik nafasnya yang terasa sedikit berat. Entah kenapa Oneng merasa kasihan dengan Si Belah.

Selanjutnya >> Bagian Enam

Catatan: Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani Dinni. Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Cerita ini juga tayang di Secangkirkopibersama.com

Bahan bacaan : 1, 2, 3, 4

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x