Mohon tunggu...
Warkasa1919
Warkasa1919 Mohon Tunggu... Lelaki Pendayung Sampan

Aku percaya setiap orang pasti memiliki cerita sendiri-sendiri di dalam hidupnya. Kata orang, setiap cerita pasti ada akhirnya, namun dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru. https://warkasa.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Hari Raya Kurban Tahun Ini, "Kami Masih Jadi Korban Asap"

11 Agustus 2019   23:28 Diperbarui: 23 Agustus 2019   12:30 0 49 26 Mohon Tunggu...
Hari Raya Kurban Tahun Ini, "Kami Masih Jadi Korban Asap"
kebakaran hutan (dok. pribadi)

Minggu, 11 Agustus 2019 ini terasa betul  perbedaan yang aku rasakan dari tahun-tahun sebelumnya. Peringatan hari raya Iduladha atau Idul Kurban, yang harusnya kutekuri dengan syahdu mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim AS kala berhasil memegang teguh keimanannya kepada Allah SWT dengan menunjukkan keiklasannya untuk mengorbankan putra satu-satunya (Ismail AS), kini tidak bisa kurayakan dengan gempita lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Musibah lingkungan kembali menimpa kota ini. Kepungan asap terasa begitu menyesakkan dada. Menghalangi kami merayakan Iduladha dengan sempurna, terutama kekhusyukan shalat Iednya, begitupun dengan ritual penyembelihan hewan kurban seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pekanbaru, kota yang menjadi tempat tinggalku, adalah Ibu kota provinsi Riau yang pernah di kenal dengan ekspor asapnya hingga ke negeri Jiran sana. Memalukan sebetulnya, tapi apa mau di kata. 

Bukan hanya TKW yang mereka kenal dari Indonesia saat ini, tapi asap pun sudah menjadi hal yang membuat mereka ingat ketika mendengar nama negara dengan populasi hampir 270.054.853 juta jiwa pada tahun 2018 ini. 

Hal terakhir inilah yang pernah membuat pemerintah Singapura ingin turun tangan membantu mengatasi masalah asap yang seperti tak berkesudahan ini. Ya, mungkin saja di mata mereka saat ini Indonesia sudah terlanjur dikenal dengan dua hal ini, TKW dan asap. Ah, miris sekali.

Sebetulnya, suasana mencekam di Pekanbaru, Ibu kota provinsi Riau ini telah kurasakan sejak tadi malam. 10 Agustus 2019. Tak terdengar kumandang takbir keliling dari anak-anak yang biasa memenuhi jalanan, satu hal yang sebetulnya menjadi penanda Iduladha akan tiba. 

Sebuah momen yang kurindukan berulang, bukan aku saja, mungkin tetanggaku, juga warga Pekanbaru lainnya juga ikut menantikan saat-saat takbir keliling itu di kumandangkan.

Sunyi, sepi, mengiringi malam takbiran tahun ini. Kami seolah harus manjadi tumbal, akibat kabut asap yang menutupi setiap jengkal udara kota kami. Tak lama setelah kebakaran hutan kembali melanda provinsi ini.

Terkait sesaknya udara kota ini. Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru telah mengeluarkan surat edaran tertanggal 07 Agustus 2019 dengan Nomor surat : 443.33 / Dinkes -- P2P / tentang  Tindakan Pengamanan Dampak bahaya Asap.  Salah satu pointnya adalah menghimbau agar warga kota Pekanbaru kususnya mengurangi aktifitas di luar gedung / Ruangan. Dan, menurutku inilah yang  menjadi salah satu alasan kenapa anak-anak tidak ada yang melakukan kegiatan takbir keliling seperti biasa, takut sesak nafas. Jadilah malam takbiran semalam, terasa begitu sunyi tidak seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Hanya sayup takbir  bergema dari beberapa musholla.

surat edaran. (dok. pribadi)
surat edaran. (dok. pribadi)
Terlepas dari surat edaran tersebut, sebagai salah satu warga yang hidup dan bertempat tinggal di kota Pekanbaru, aku sangat merasakan dampak buruk akibat  kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kabut asapnya sudah menyelimuti kota ini. Khususnya di malam menjelang subuh setiap harinya.

Dampak langsung yang kurasakan adalah, mata terasa perih dan tenggorokan terasa kering saat sedang melakukan aktifitas kegiatan di luar ruangan. Seperti yang kurasakan tadi pagi. Saat sholat Iduladha.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3