Mohon tunggu...
Warkasa1919
Warkasa1919 Mohon Tunggu... Freelancer - Pejalan

Kata orang, setiap cerita pasti ada akhirnya. Namun dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Aku dan Sang Waktu

4 Januari 2019   00:21 Diperbarui: 16 Januari 2019   21:36 730
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sambil menggigit bibirnya, dia tahu, bahwa lelaki muda yang memakai pakaian berwarna coklat muda yang sudah terlihat begitu kumal di matanya itu adalah binatang jalang yang di munculkan karena panggilan darinya.

Sambil menggigit bibirnya, dia membandingkan tinggi badan lelaki muda itu dengan tinggi badannya. Sambil melihat ke arah cermin besar meja rias di depannya, hatinya kembali menjerit saat dia sadar bahwa lelaki muda di balik pintu kamar tidurnya itu telah membangkitkan satu sisi di dalam dirinya.

Di dalam kesendiriannya, dia sadar jika satu sisi di dalam dirinya itu kini tengah menggeliat sembari meraung keras jauh di dalam relung hatinya. Di dalam kesendiriannya, dia sadar jika satu sisi di dalam dirinya itu kini tengah berusaha hendak keluar dari bilik hatinya.

Di dalam kesendiriannya, dia sadar jika satu sisi di dalam dirinya itu kini tengah jelalatan menatap ke arah lelaki muda yang diam-diam juga sedang memperhatikannya. Di dalam kesendiriannya, dia sadar jika satu sisi di dalam dirinya itu kini begitu ingin merobek-robek seluruh pakaian yang yang di kenakannya.

Binatang binal di atas tempat tidur minimalis ini berusaha mencabik--cabik seluruh tubuh wanita yang selama ini menjadi penjaranya. Binatang binal di atas tempat tidur minimalis ini berusaha mencari jalan keluar dengan cara merobek kulit dadanya.

Binatang binal di atas tempat tidur minimalis yang berhasil merobek kulit dadanya itu menerkam dirinya. Di kesunyian malam, binatang binal itu membekap dirinya yang berusaha menjerit sambil terus meronta takala lidah binatang jalang itu mendekat ke arah bibir kemaluannya.

Di kesunyian malam, dia hanya mampu merintih takala sadar bahwa tak lagi mampu menjaga kehormatan yang selama ini begitu dia jaga. Di kesunyian malam, dia hanya bisa menjerit ketika binatang jalang itu mendorongnya jatuh ke dalam kubangan dosa.

Di kesunyian malam, dia kembali menjerit takala binatang jalang itu menancapkan taring-taring tajam ke lehernya. Di kesunyian malam, di antara derasnya air hujan, dia hanya mampu melenguh ketika binatang jalang itu berhasil mengobrak-abrik benteng pertahanannya.

Di kesunyian malam, dia hanya mampu merintih ketika binatang jalang itu berhasil menghujamkan kenikmatannya pas di tengah-tengah lipatan kemaluannya. Di kesunyian malam, dia hanya mampu meringis ketika merasakan nyeri, takala darah segar mulai merembes dari bekas lukanya.

Di kesunyian malam, dia merasakan seperti ada yang sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhnya. Di kesunyian malam, tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya jatuh terkulai lemas di bawah binatang jalang yang masih terus meraung di atasnya.

Di kesunyian malam, dia pasrah dan membiarkan binatang jalang itu kembali melumat bibirnya. Di kesunyian malam, kedua matanya terasa begitu berat sebelum akhirnya tertidur pulas ketika binatang jalang itu kembali merengkuh pundaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun