Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Artikel Utama

Bukber Virtual, Caranya Beda, tapi Problemnya Sama

25 April 2021   19:00 Diperbarui: 28 April 2021   02:39 2084 22 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bukber Virtual, Caranya Beda, tapi Problemnya Sama
Bukber virtual | ilustrasi: Benny Rachmadi via kontan.co.id

Kalau ditanya apakah bisa buka bersama secara virtual? Jawabannya tentu bisa. Sebab sekolah, rapat, dan mudik saja bisa dilakukan secara virtual. Mengapa buka bersama tidak bisa?

Lagipula selama setahun pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita membatasi interaksi dan pertemuan bersama secara bergerombol, pengalaman sudah mengajari kita bahwa jagat virtual mampu menyediakan ruang baru untuk berinteraksi.

Meski cara, media, dan kebiasaan ini bisa dikatakan baru dan beda, tapi kita sudah semakin paham dan terbiasa dengan aktivitas virtual. Hampir semua orang sudah familier dengan video call, zoom, dan sejenisnya.

Jadi, buka bersama secara virtual sangat bisa dilakukan secara jarak jauh. Tinggal mengumpulkan orang-orang yang hendak kita ajak buka bersama, menyepakati jadwalnya, hidupkan laptop atau smartphone, masing-masing siapkan segelas teh manis, jadilah bukber virtual.

Begitulah kita-kira yang sejak setahun kemarin saya lakukan bersama keluarga ketika hendak buka bersama secara virtual. Malah, pandemi Covid-19 memberi hikmah kami sekeluarga karena menjadi lebih sering buka bersama meski terpisah ruang dan jarak. Pada tahun-tahun sebelumnya gagasan buka bersama secara virtual belum terlintas. Kami sibuk dengan buka masing-masing.

Namun, rasa kangen dan kebutuhan untuk saling menguatkan di antara kami yang harus menjalani puasa di tengah pandemi dan larangan mudik, akhirnya mendorong kami untuk menciptakan ruang makan bersama keluarga di jagat virtual.

Biasanya saya dan adik di rantau, akan bergabung bersama kakak, ibu dan bapak di ruang makan virtual itu setelah salat maghrib. Jadi sebelum bukber virtual, kami sudah membatalkan puasa masing-masing dan salat terlebih dahulu. Setelah itu baru panggilan video lewat whatsapp dilakukan.

Saat satu-satu persatu wajah kami muncul di layar, saat itulah kami mulai berbuka bersama di ruang makan virtual. Biasanya ibu akan menanyakan lebih dulu kabar anak-anaknya, lalu diteruskan dengan menanyakan menu berbuka kami. Setelah itu, giliran ibu memamerkan masakannya. Kami biasanya sudah tahu apa yang dimasak ibu di rumah sebab kebiasaan ibu selama Ramadan ialah mengirimkan foto-foto masakannya menjelang berbuka.

Sejauh ini buka bersama secara virtual keluarga kami berlangsung seru. Apalagi dua keponakan kecil selalu ikut bergabung. Mereka berisik sekali, tapi menyenangkan. Suka berebut untuk bicara. Pertanyaan yang sama selalu mereka lontarkan setiap kami bertemu di ruang makan virtual, yakni kapan om dan tantenya pulang?

Buka bersama keluarga kami berlangsung tidak lama. Biasanya hanya sekitar 15-20 menit saja. Itu sudah cukup. Lagipula di luar waktu tersebut kami bisa berkomunikasi setiap saat.

Kalau buka bersama secara virtual dengan keluarga nyaris tidak ada kesulitan, beda cerita dengan bukber virtual bersama-sama rekan-rekan. Kebetulan saya dan beberapa rekan sedang merencanakan bukber virtual.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN