Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

"Bad Content is a Good AdSense", Perilaku Bodoh dan Jahat Memburu Untung di Tengah Pandemi

5 Agustus 2020   08:03 Diperbarui: 5 Agustus 2020   09:53 413 27 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Bad Content is a Good AdSense", Perilaku Bodoh dan Jahat Memburu Untung di Tengah Pandemi
Media Sosial (foto: shutterstock).

Apa saja bisa jadi sumber konten di media sosial. Termasuk perihal bencana atau pandemi. Sayangnya tidak sedikit konten buruk yang justru bisa memperparah bencana dan menambah kerusakan di tengah pandemi. Publik perlu melawan.

Kita mengenal "hukum media" yang berbunyi "Bad News is a Good News". Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana.

Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan.

Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas.

Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih "sudut pandang media". Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator "palugada" jadi narasumber langganan.

Kini di era di mana sumber berita tidak lagi dikuasai oleh media dan produksi informasi bisa dilakukan oleh siapa saja, hukum "Bad News is a Good News" telah berkembang. Seiring menjamurnya kreator konten di media sosial yang dalam beberapa aspek lebih mampu mempengaruhi masyarakat karena punya banyak pengikut dan fans, hukum yang kurang lebih sama juga berlaku.

"Bad Content is a Good AdSense". Begitulah kurang lebih hukum media sosial saat ini tentang perilaku dan motivasi sebagian kreator konten di media sosial.

Tidak terlalu sulit mengamati eksistensi hukum tersebut. Ambil contoh di youtube. Terutama semenjak banyak artis "hijrah" dari layar kaca ke youtube.

Ramai-ramai mereka memproduksi konten yang orang mudah menilainya sekadar menjual kehebohan untuk menarik sebanyak-banyaknya viewer dan pengikut. Ujungnya mudah diterka karena popularitas mudah dikapitalisasi menjadi rupiah lewat iklan dan AdSense.

Tentu tidak semua kreator konten perilakunya seperti itu. Namun, menemukan atau menandai yang demikian tidak sulit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN