Hendra Wardhana
Hendra Wardhana soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita| wardhana.hendra@yahoo.com | wardhanahendra.blogspot.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Jalan Kaki Menjelajahi Malang, Ternyata Asyik Juga!

8 November 2018   18:43 Diperbarui: 8 November 2018   18:52 662 4 2
Jalan Kaki Menjelajahi Malang, Ternyata Asyik Juga!
Alun-alun Bundar dan Taman Balaikota Malang (dok. pri).

Pergantian tahun sudah di depan mata. Saatnya memberikan penghargaan pada diri sendiri atas semua yang telah diupayakan selama setahun. Salah satu caranya adalah dengan berekreasi. Pilihannya bisa libur akhir tahun atau dimundurkan sedikit waktunya menjadi libur tahun baru.

Tak harus ke luar negeri karena stok destinasi wisata Indonesia masih melimpah. Dua atau tiga tahun terakhir saya pun memilih melancong ke Semarang dan Malang menjelang akhir tahun. Semarang saya datangi pada November 2017, sementara Malang saya jelajahi pada Desember 2016. Pada 2017 dan 2018 saya juga kembali ke Malang, tapi bukan pada akhir tahun. 

Dari semuanya itu menjelajahi Malang pada 17-18 Desember 2016 adalah yang paling mengesankan karena saya bisa mengunjungi beberapa tempat wisata dan bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan. Selain itu, pada hari pertama sejak pagi sampai sore saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki tanpa menumpang kendaraan. Meski melelahkan, ternyata asyik juga menikmati Malang sambil meninggalkan jejak langkah.

Dari Pasar ke Pasar

Stasiun Malang Kota Baru menjadi pintu masuk saya ketika pada Sabtu, 17 Desember 2016, sekitar pukul 04.00 kereta api Malioboro Ekspres tiba di Malang. Hari masih gelap dan hawa dingin menyergap, saya memilih berdiam sesaat di dalam stasiun. Baru menjelang pukul 05.30 saya melangkah keluar dan mulai menapaki jalanan Malang yang agak basah. 

Tempat pertama yang saya datangi adalah Pasar Klojen. Pasar merupakan tempat yang selalu ingin saya kunjungi setiap bepergian ke manapun. Selain untuk menyaksikan atraksi-atraksi kehidupan di dalamnya, pasar juga menghadirkan romantisme masa lalu karena saat kecil saya sering diajak Ibu ke pasar.

Menyambangi Bu Sri di Pasar Klojen (dok. pri).
Menyambangi Bu Sri di Pasar Klojen (dok. pri).
Pecel yang nikmat buatan Bu Sri di Pasar Klojen (dok. pri).
Pecel yang nikmat buatan Bu Sri di Pasar Klojen (dok. pri).
Di Pasar Klojen saya mendapatkan sarapan terbaik dengan menu tradisional yang nyaris tak pernah gagal memuaskan selera banyak orang, yaitu pecel. Penjualnya bernama Bu Sri dan saat saya datang ia sedang menyiapkan bahan untuk menyajikan pecel. Tangannya cekatan menata wadah-wadah berisi sayuran dan aneka lauk yang mengundang selera. Pagi itu saya adalah pembeli pertama Bu Sri. 

Pecel Bu Sri istimewa karena disajikan menggunakan pincuk daun pisang. Isiannya ada nasi putih, daun singkong, daun pepaya, tauge, daun kemangi, dan rempeyek. Tak ketinggalan mendol, sejenis olahan kedelai yang mirip tempe. Semua lalu disiram dengan bumbu kacang yang gurih. Bumbu tersebut dibuat sendiri oleh Bu Sri dan ia juga menjualnya sebagai oleh-oleh. Sebagai pelengkap pecel tersedia lauk tempe goreng, bakwan jagung, sate lilit, peyek ikan, dan kerupuk. Padu padannya membuat pecel Bu Sri semakin nikmat.

Saat hendak membayar ternyata Bu Sri menolak uang yang saya sodorkan. Katanya ia senang bertemu dan berbagi cerita dengan saya pagi itu. Tapi saya tetap ingin membayar karena pecel buatannya enak. Bu Sri pun akhirnya mempersilakan saya membayar dengan diskon separuh harga. Sungguh pagi yang menyenangkan di Malang bersama Bu Sri.

Selamat datang di Pasar Oro-oro Dowo Malang (dok. pri).
Selamat datang di Pasar Oro-oro Dowo Malang (dok. pri).
Kue Lumpur yang nikmat di Pasar Oro-oro Dowo (dok. pri).
Kue Lumpur yang nikmat di Pasar Oro-oro Dowo (dok. pri).
Meninggalkan Pasar Klojen saya melanjutkan berjalan ke Pasar Oro-oro Dowo. Meski jaraknya lumayan jauh, tapi udara Malang yang sejuk membuat saya tidak terlalu kelelahan. Pasar Oro-oro Dowo adalah salah satu pasar tradisional dengan sentuhan modern yang diresmikan oleh Pemerintahan Presiden Jokowi. Bangunannya bagus dan lingkungannya bersih. Kios-kios tertata rapi lengkap dengan papan nama penjualnya. Di dalam pasar ada klinik, pos keamanan, tempat menyusui, mushola, serta toilet yang bagus. Tersedia juga troli untuk digunakan oleh pembeli meletakkan belanjaan. 

Di pasar ini saya menemukan jajanan dengan nama yang unik, yaitu Kue Lumpur Kentang Wolak-Walik. Rasanya ternyata enak. Meski bagian luarnya agak kering, tapi saat digigit lidah mencecap rasa manis yang lembut dan lumer.

Hutan Kota Malabar (dok. pri).
Hutan Kota Malabar (dok. pri).
Dari Pasar Oro-oro Dowo saya lalu melangkah ke Hutan Kota Malabar. Hutan ini menarik dan menjadi alternatif tempat wisata bagi warga Malang. Di dalam area hutan saya mengambil waktu untuk bersantai sambil menghirup oksigen dihembuskan oleh pepohonan di sana.

Terus Berjalan Kaki

Kini saya tiba di Jalan Besar Ijen atau Idjen Boulevard yang membentang cukup panjang dan lebar. Kawasan ini adalah cikal bakal Kota Malang. Jejak sejarahnya bisa ditelusuri lewat bangunan-bangunan lawas di sekitarnya. Sejumlah bangunan memang sudah berubah bentuk dan fungsinya, tapi masih ada beberapa yang bisa disimak fasad aslinya. Setiap hari Minggu car free day Kota Malang digelar di Jalan Besar Ijen. Banyaknya pohon, taman, dan trotoarnya yang bagus membuat kawasan ini nyaman untuk dijelajahi. 

Jalan Besar Ijen (dok. pri).
Jalan Besar Ijen (dok. pri).
Saksi bisu sejarah Kota Malang yang tersisa di Jalan Besar Ijen (dok. pri).
Saksi bisu sejarah Kota Malang yang tersisa di Jalan Besar Ijen (dok. pri).
Langkah kaki terus berlanjut mengantarkan saya ke Museum Musik Indonesia (MMI) yang berada Jalan Nusakambangan. Untuk mencapainya saya melewati kawasan Pasar Besar Kota Malang yang menjadi nadi perekonomian masyarakat Malang. Jalanannya sangat padat dan cenderung macet, khas kondisi pasar besar di Indonesia.

Meski harus berjalan jauh, tapi sebagai penggemar musik berada di Museum Musik Indonesia adalah sebuah keberuntungan. Apalagi, belum banyak orang yang tahu tentang keberadaan museum ini. Di dalam museum ada lebih dari 17 ribu koleksi piringan hitam, kaset, dan CD dari berbagai negara. Ada juga koleksi dokumen berupa foto, buku, dan majalah lawas terkait musik, seni, dan hiburan. Koleksi lainnya yang istimewa adalah kostum yang pernah digunakan grup legendaris Dara Puspita.

Museum Musik Indonesia (dok. pri).
Museum Musik Indonesia (dok. pri).
Kampung Wisata Jodipan (dok. pri).
Kampung Wisata Jodipan (dok. pri).
Kampung Wisata Jodipan jadi pemberhentian berikutnya. Saya tak perlu bercerita panjang tentang Jodipan karena banyak orang dan media telah menuturkan tentang tempat ini. Rumah-rumah penduduk dengan sapuan cat warna-warni, instalasi seni, dan gambar-gambar mural di tembok rumah warga adalah etalase utama Jodipan. Semua bentuk kreativitas tersebut membuat saya terkesan. Apalagi, saat itu sedang berlangsung pameran poster karya anak-anak muda sehingga suasananya bertambah meriah dan ceria.

Rasa enasaran terhadap Jodipan terjawab sudah, saya putuskan untuk menuju Alun-alun Kota Malang karena hari sudah beranjak sore. Namun, langkah saya sempat tertahan di Jalan Juanda manakala menjumpai sebuah lapak kaset bekas. Dari penjualnya bernama Pak Sumartono saya membeli sebuah album lawas KAHITNA. Meski koleksi karya KAHITNA semuanya sudah saya miliki, tapi ini istimewa karena saya dapatkan dari seorang yang sudah lebih dari 27 tahun berjualan kaset bekas.

Masjid Agung Malang dan Gereja Imanuel di Alun-alun Malang (dok. pri).
Masjid Agung Malang dan Gereja Imanuel di Alun-alun Malang (dok. pri).
Waktu bersantai di alun-alun saya gunakan untuk istirahat dan melemaskan otot kaki yang telah bekerja keras melangkah sejak pagi. Di tempat ini pula saya sempatkan menatap keagungan Masjid Jami dan Gereja Imanuel yang berdiri berdampingan. Sebuah harmoni yang menambah kesejukan Kota Malang.

Memburu Air Terjun

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2