Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kisah Tugiyem, Maskus, dan Mbah Tumirah di Pasar Sekaten Yogyakarta

11 Desember 2016   11:41 Diperbarui: 11 Desember 2016   17:29 80 2 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Tugiyem, Maskus, dan Mbah Tumirah di Pasar Sekaten Yogyakarta
Dari kiri ke kanan: Tugiyem, Maskus, dan Mbah Tumirah. Mereka adalah sebagian orang yang tidak sekadar berjualan di Sekaten Yogyakarta, tapi juga ikut merawat tradisi yang kini kian terdesak oleh kepentingan bisnis (dok. pri).

Perayaan Sekaten di Yogyakarta akan memasuki puncaknya pada Senin, 12 Desember 2016. Seperti yang sudah-sudah, kegiatan yang dimaksudkan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini lebih didominasi oleh kemeriahan Pasar Sekaten yang digelar di Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta dan sekitarnya selama hampir satu bulan. 

Setiap hari Pasar Sekaten disesaki oleh ribuan penjual dan pengunjung. Sore hingga malam menjadi saat yang paling ramai. Penjual pakaian, produk kecantikan, serta aneka wahana permainan menjadi daya tarik utama sekaligus yang paling menonjol di Pasar Sekaten masa kini. Tak heran jika banyak yang menganggap Sekaten di era modern telah menyimpang dari makna awal. 

Bu Tugiyem berjualan Kinang di halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada Jumat (9/12/2016) (dok. pri).
Bu Tugiyem berjualan Kinang di halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada Jumat (9/12/2016) (dok. pri).
Namun, bagi saya Sekaten di Yogyakarta tetap menarik untuk diikuti. Nilai-nilai sosial, tradisi, dan agama belum sepenuhnya pudar meski harus diakui hal itu telah terkikis oleh kepentingan bisnis. Hal utama yang mendorong saya untuk mengunjungi Pasar Sekaten adalah keberadaan orang-orang yang menjadikan Sekaten sebagai penyambung hidupnya. Dari mereka terpancar semangat hidup dan berusaha meski dilakukan dengan cara yang sederhana, bahkan terkesan seadanya.

Salah satu yang saya temui pada Jumat (9/12/2016) sore adalah seorang ibu bernama Tugiyem. Sehari-hari wanita yang tinggal di Sewon, Bantul tersebut sebenarnya berjualan nasi di warung di sekitar kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selama Sekaten ia berjualan Kinang dan Endhog Abang (telur merah) di halaman Masjid Gedhe Kauman. Sementara usaha warung nasi diurus oleh saudaranya.

Kinang adalah gabungan dari lima bahan, yaitu daun sirih, tembakau, gambir, kapur, dan bunga Kanthil yang disatukan secara sederhana. Lima bahan tersebut merupakan perlambang rukun Islam. Sementara itu, Endhog Abang adalah telur ayam atau telur bebek yang direbus dan diberi pewarna merah pada cangkangnya. Seringkali endhog abang ditusuk dengan bilah bambu dan diberi hiasan seadanya dari kertas dengan tujuan menarik perhatian anak-anak. Tapi sebenarnya endhog abang merupakan gambaran manusia yang baru lahir atau bayi yang masih merah. Agar kuat, seorang manusia perlu disokong oleh tiang agama yang kuat sejak bayi. Tiang keyakinan agama itulah yang dilambangkan dengan bilah bambu.

Bu Tugiyem adalah satu dari sedikit penjual Kinang dan Endhog Abang yang masih bisa dijumpai di Pasar Sekaten Yogyakarta (dok. pri).
Bu Tugiyem adalah satu dari sedikit penjual Kinang dan Endhog Abang yang masih bisa dijumpai di Pasar Sekaten Yogyakarta (dok. pri).
Bisa dikatakan Kinang dan Endhog Abang adalah dua dari sedikit tradisi Sekaten yang masih eksis hingga sekarang. Semua penjualnya rata-rata sudah berusia lanjut. Menurut Bu Tugiyem pembeli Kinang dan Endhog Abang juga tidak banyak. Mereka umumnya para orang tua atau masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengunyah sirih. 

Bu Tugiyem menjual setiap Kinang dengan harga Rp1.000,00 dan Rp4.000,00 untuk sebutir Endhog Abang. Meski tidak banyak untung yang didapatkan, namun ia tetap berjualan setiap Sekaten digelar. Berkat Bu Tugiyem dan penjual Kinang serta Endhog Abang lainnya yang jumlahnya tidak banyak, tradisi-tradisi Sekaten mampu bertahan hingga kini meski dengan napas yang terengah-engah.

Di halaman Masjid Gedhe Kauman saya juga menjumpai Pak Maskus yang berjualan es beras kencur, kunir asem, dan gula asem. Pada hari biasa pria asal Kricak, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta itu banyak berjualan di obyek wisata Taman Sari. Tapi saat Sekaten ia memilih berada sementara di halaman Masjid Gedhe Kauman dengan membayar retribusi Rp3.000,00 per hari. 

Pak Maskus mengaku sudah 20 tahun berjualan es jamu yang dibuatnya sendiri. Sebelum berjualan di Taman Sari dan Sekaten, ia menjadikan kawasan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tempat mencari nafkah. Di kampus ia mengaku setiap hari jualannya laris. Namun, sejak beberapa tahun terakhir ia terpaksa meninggalkan UGM karena kebijakan baru universitas yang menata ulang kawasan kampus dan membatasi PKL yang berjualan.

Ia lalu berjualan di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Akan tetapi belum lama berada di tempat barunya, ia harus kembali pindah karena larangan berjualan di tempat tersebut. Meskipun demikian ia tak putus asa. Setiap hari ia tetap berjualan sambil mengayuh sepeda yang bagian depannya dimodifikasi sebagai gerobak untuk meletakkan botol-botol minuman jamu.

Jamu beras kencur, kunir asem, dan gula asem yang dijual Pak Maskus di halaman Masjid Gedhe Kauman saat Sekaten digelar (dok. pri).
Jamu beras kencur, kunir asem, dan gula asem yang dijual Pak Maskus di halaman Masjid Gedhe Kauman saat Sekaten digelar (dok. pri).
Meninggalkan halaman Masjid Gedhe Kauman, langkah kaki saya tiba di Alun-alun Utara yang menjadi jantung Pasar Sekaten. Di tengah keriuhan lapak penjual dan wahana permainan, saya bertemu Mbah Tumirah. Nenek berusia 65 tahun tersebut berjualan kacang rebus dan kacang goreng yang diolahnya sendiri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x