Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Hutan Rawa Gambut Riau yang Jadi Cagar Biosfer UNESCO

9 Agustus 2016   09:12 Diperbarui: 9 Agustus 2016   10:50 1645 3 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Hutan Rawa Gambut Riau yang Jadi Cagar Biosfer UNESCO
Habitat gajah di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau. Dari kejauhan terlihat seekor gajah sumatera (dok. pri).

Menjejakkan kaki di Riau adalah petualangan baru. Sedikit referensi yang didapat sebelum berangkat menerbangkan rasa penasaran tentang tempat yang akan saya dikunjungi. Penasaran itu mulai terjawab saat memasuki Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu.

Kamis pagi (4/8/2016) mobil yang mengantarkan saya dan kompasianer Dhanang Dave tiba di arboretum yang berada di area penyangga biosfer. Dalam perjalanan kami telah melewati hutan produksi dengan pepohonan yang rapat. Di beberapa sudut hutan petugas keamanan berseragam memberi hormat setiap kami melintas. Kejadian ini membuat kami bertanya-tanya. Mungkin itu adalah semacam SOP untuk menyambut tamu yang datang. Perjalanan menuju Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu juga sempat memantik adrenalin saat ban mobil berderit akibat jalanan tanah yang licin sekaligus berdebu.

Jalan menuju Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Di sekelilingnya berupa hutan produksi/tanaman industri (dok. pri).
Jalan menuju Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Di sekelilingnya berupa hutan produksi/tanaman industri (dok. pri).
Area penyangga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu.
Area penyangga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu.
Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu yang kami kunjungi hari itu termasuk ekoregion pantai timur Sumatera yang alamnya berupa hutan rawa gambut. Luasnya sekitar 705. 271 hektar terbagi di wilayah Kabupaten Bengkalis dan Siak. Bentang alam ini ditetapkan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO pada Mei 2009. Dibutuhkan 2 jam perjalanan dari kota Pekanbaru untuk mencapai cagar biosfer ini.

Giam Siak Kecil-Bukit Batu adalah cagar biosfer pertama di dunia yang diinisiasi oleh sektor swasta. Pada 2003 Sinar Mas Forestry & Partners (SMF&P)  merancang usulan penggambungan dua suaka margasatwa yaitu Giam Siak Kecil (84.967 hektar) dan Bukit Batu (21.500 hektar). Komitmen itu termasuk penyertaan konsesi hutan produksi seluas 72.000 hektar yang memisahkan dua suaka margasatwa sebagai hutan konservasi. Selanjutnya pengelolaan, pengembangan dan penelitian di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu dilakukan secara kolaboratif antara SMF&P, LIPI, Pemeritah Daerah Riau, BBKSDA Riau,  Universitas Riau dan pemangku kepentingan lokal lainnya.

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu memiliki tiga fungsi dasar. Pertama, sebagai kawasan konservasi untuk melindungi dan melestarikan ekosistem beserta kekayaan hayati dan sumber daya genetik di dalamnya. Kedua, sebagai penggerak perekonomian dan pengembangan masyarakat. Ketiga, sebagai laboratorium alam untuk penelitian, pendidikan, dan pelatihan tentang ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Aktivitas manusia di area penyangga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (dok. pri).
Aktivitas manusia di area penyangga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (dok. pri).
Salah satu bentuk bentang alam Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu di dekat habitat Gajah sumatera (dok. pri).
Salah satu bentuk bentang alam Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu di dekat habitat Gajah sumatera (dok. pri).
Terdapat 3 area di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Area inti seluas 178.722 hektar meliputi dua suaka margasatwa dan hutan konservasi cadangan bekas konsesi Sinar Mas. Kawasan di area inti diperuntukkan secara ketat untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan pemantauan ekosistem.  Aktivitas manusia sangat dibatasi di area inti.

Area inti dikelilingi oleh area penyangga seluas 222.426 hektar yang berfungsi mendukung konservasi. Meskipun demikian, aktivitas perkebunan, pertanian, perikanan serta pengumpulan produk kayu dan non kayu diperbolehkan.

Pada area penyangga juga terdapat arboretum untuk menanam beberapa spesies tumbuhan berkayu dan tempat penangkaran/pelatihan gajah. Ada  6 ekor gajah yang dipelihara di tempat tersebut. Salah satu ekor gajah yang kami temui di kandang bernama Ivo Duanti. Sekitar 200 meter dari kandang terdapat habitat gajah yang cukup lapang. Dari kejauhan seekor gajah terlihat sedang berada di dekat kubangan air.

Daerah terluar berupa area transisi dengan luas 304.123 hektar. Fungsi dan peruntukkan area transisi mirip dengan area penyangga namun lebih fleksibel. Di area transisi terdapat tempat tinggal atau hunian masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan. Aktivitas penambangan mineral, minyak dan gas alam juga dimungkinkan dilakukan di area transisi.

Giam Siak Kecil-Bukit Batu adalah bentang alam yang sangat unik karena berupa hutan rawa gambut. Secara ekologis biosfer ini berperan sebagai stok karbon yang penting bagi lingkungan. Selain itu, di dalamnya hidup ratusan spesies hewan dan tumbuhan yang sangat bernilai. Beberapa di antaranya termasuk kategori dilindungi menurut CITES, IUCN, dan peraturan hukum di Indonesia.

Grammatophyllum speciosum, spesies anggrek alam Indonesia yang langka dan unik (dok. pri).
Grammatophyllum speciosum, spesies anggrek alam Indonesia yang langka dan unik (dok. pri).
Menurut penelitian LIPI terdapat setidaknya 189 spesies tumbuhan dari 113 famili dan 59 genus. Species tersebut antara lain Anggrek macan (Grammatophyllum speciosum), Dara-dara (Knemasp.), Mengris (Kompassia malaccensis, Mimosaceae), Kantong semar (Nephentess pp.), Suntai (Palaquium leiocarpum). Ada juga Meranti bunga (Shorea teysmanniana), Punak (Tetramerista glabra), Ramin (Gonystylus bancanus), dan Durian burung (Durio carinatus).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN