Mohon tunggu...
Kazebara
Kazebara Mohon Tunggu... Content Writer

Hidup Seperti Semilir Angin, Menyejukkan Meski Hanya Sesaat. IG @wardhaayu Twitter @WAndriyuni kazebara.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Sampah dan Penduduk Sama-sama Mengalami Peningkatan yang Signifikan

17 Juli 2018   20:05 Diperbarui: 17 Juli 2018   20:17 643 0 1 Mohon Tunggu...

Sampah merupakan permasalahan yang tidak akan ada habisnya. Meskipun sudah dipatenkan metode refuse, reuse dan recycle hingga ada juga istilah upcycle jumlah sampah tidak semakin berkurang. Semakin banyak jumlah penduduk maka jumlah sampah juga akan semakin bertambah. Setiap individu selalu nyampah setiap hari. Mulai dari yang sepele seperti bungkus permen hingga barang-barang berat semacam peralatan elektronik yang sudah tidak bisa digunakan. Gerakan zerowaste mulai digembar-gemborkan melalui berbagai macam media. 

Dua kementrian yang di pimpin Bu Susi dan Bu Sri Mulyani juga sudah membuat peraturan untuk tidak menggunakan minuman yang dibungkus plastik. Sungguh peraturan yang harusnya diterapkan di semua sektor pemerintahan, agar bisa ditiru juga oleh pihak swasta dan rakyat Indonesia. Mulai dari yang sederhana, tidak boleh mengadakan acara dengan minuman air mineral. Sediakan galon atau wadah air saja lalu minum dengan gelas atau membawa botol minum sendiri-sendiri. Usahakan jangan botol plastik. Bayangkan, berapa banyak sampah plastik yang bisa dikurangi dengan satu poin kebijakan tersebut?

Sampah bukan saja berbahaya untuk lingkungan di daratan tapi juga menumpuk di lautan yang bisa membentuk  pulau sendiri. Terutama sampah plastik yang tetap awet hingga ratusan tahun. Kalau cintamu hanya bertahan hitungan bulan atau beberapa tahun saja, berati kalah sama plastik, sampah lagi. 

Sampah plastik tidak hanya menutupi permukaan lautan dan mengotori pantai, tapi juga berbahaya untuk hewan laut. Tukik, anjing laut, kuda laut, kepiting dan banyak biota laut lainnya. Mereka tidak salah apa-apa, tidak menggunakan plastik sama sekali, malah terkena dampak paling buruk. Bayangkan tukik kecil yang imut itu, sudah persentase kemampuan bertahan hingga dewasa hanya 1/1000 ditambah dengan ancaman sampah plastik yang semakin banyak, lama-lama bisa menjadi hewan langka.

Masalah sampah plastik ternyata juga seperti pestisida yang bisa terakumulasi dan akhirnya dikonsumsi manusia. Plastik dengan adanya faktor fisika dan kimia bisa berubah menjadi mikroplastik yang tak kasat mata (mirip pelapukan batuan). Mikroplastik di lautan bisa dikonsumsi oleh hewn laut yang akhirnya kita konsumsi. 

Mikroplastik juga bisa berada di udara dan tanah. Salah satu penyumbang mikroplastik adalah kresek dari ritel yang katanya degradable, itu loh plastik yang mudah hancur menjadi butiran debu. Plastik-plastik itu tidak benar-benar terurai, tapi hanya berubah bentuk menjadi mikroplastik yang justru menjadi polutan yang tidak terlihat. Plastik yang benar-benar bisa terurai dan ramah lingkungan adalah plastik yang bertanda biodegradable dengan bahan organik seperti singkong. Beda ya degradable dan biodegradable. Plastik biodegradable bisa diurai mikroorganisme layaknya sampah organik.

Sebagai penghuni bumi yang baik dan bijak, mari kita sama-sama berupaya untuk mengurangi sampah dengan cara mengurangi konsumsi. Banyak sekali upaya yang bisa dilakukan. 

Seperti membawa kantong reuseable, botol minum, menolak menggunakan sedotan dan alat makan sekali pakai, hemat dalam berbelanja barang, membeli barang-barang yang ramah lingkungan, membeli barang-barang dengan bahan organik seperti peralatan makan dan dapur dari bahan kayu juga membeli peralatan yang tidak terbuat dari plastik. Orang-orang yang mendukung gerakan zerowaste bahkan meminta toko online untuk meminimalisir penggunaan bungkus plastik ketika mereka membeli online. Juga ada yang aktif meneror perusahaan-perusahaan besar melalui medsos atau email agar mereka ikut mengelola sampah yang dihasilkan atau setidaknya menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x