Wardatul Hasanah
Wardatul Hasanah

Mahasiswi Konsentrasi Ekonomi Moneter, S1 Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Universitas Jember

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Efektifitas BI Rate dan BI Seven Days Repo Rate terhadap Kinerja Perbankan

30 April 2016   13:57 Diperbarui: 30 April 2016   14:28 619 1 3

Oleh: Wardatul Hasanah, Ekonomi Moneter,

Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Universitas Jember

Bank Indonesia merupakan Bank Sentral Negara Indonesia yang berfungsi untuk mengatur stabilitas sistem moneter. Fungsi dari bank Indonesia yaitu selain sebagai otoritas moneter, bank indonesia juga berfungsi sebagai menjaga stabilitas sistem keuangan dari perbankan. Stabilitas sistem moneter dan stabilitas sistem keuangan ini saling berpengaruh. Dimana menurut Bank Indonesia dalam web-nya dikatakan bahwa kedua stabilitas tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kebijakan yang dilakukan dalam sisi moneter dapat mempengaruhi stabilitas sistem keuangan, begitu pula sebaliknya apabila dalam sisi pasar keuangan goyah maka dapat mengganggu kinerja ke efektivan dari stabilitas moneter. Dimana Stabilitas sistem keuangan merupakan dasar atau pilar yang menopang kebijakan moneter

            Stabilitas sistem keuangan juga tidak luput dari perhatian Bank Indonesia, dimana kesehatan dari sistem keuangan juga akan mempengaruhi berjalannya kebijakan moneter. Sistem keuangan merupakan salah satu alur transmisi kebijakan moneter, dimana pada saat terjadi ketidakstabilan sistem keuangan maka tranmisi kebijakan moneter tidak akan dapat berjalan secara normaldan optimal. Begitu pun sebaliknya, ketidakstabilan dalam sistem moneter akan mempengaruhi stabilitas sistem keuangan akibat tidak efektifnya fungsi sistem keuangan.

            Dalam menjaga stabilitas keuangan, Bank Indonesia memiliki peran dalam beberapa kebijakan dan instrumen di antaranya:

  • Instrumen suku bunga dalam operasi pasar terbuka. Dimana Bank Indonesia dalam tugasnya untuk menjaga stabilitas moneter menggunakan instrumen tersebut. instrumen ini bertujuan untuk meningkatkan atau menurunkan tingkat suku bunga. Sehingga tingkat suku bunga dapat lebih efektiv dalam kinerja menstabilkan sistem moneter. Mengingat bahwa gangguan sistem moneter dapat memiliki dampak langsung terhadap berbagai aspek. Oleh sebab itu, dalam penciptaan stabilitas sistem moneter, Bank Indonesia menerapkan kebijakan yang disebut inflation targeting framework.
  • Mekanisme Pengawasan dan Regulasi. Sebagai otoritas moneter, bank indonesia memiliki peran yang cukup dominan dalam menciptakan kinerja lembaga keuangan yang sehat, terlebih lagi dalam kinerja perbankan. Untuk itu Bank Indonesia menggunakan instrumen ini untuk menjaga stabilitas keuangan. Dalam Instrumen ini, Bank Indonesia juga membuat upaya penegakan dalam bentuk hukum yang dimaksudkan untuk melindungi perbankan dan stakeholder serta sekaligus mendorong kepercayaan terhadap sistem keuangan.
  • Mengatur dan Menjaga kelancaran sistem pembayaran. Dalam instrumen ini, Bank Indonesia sangat memiliki kewenangan atau hak. Jika terjadi ketidakstabilan dalam sistem pembayaran, misalkan dalam kasus gagal bayar pada salah satu stakeholder dalam sistem sistem pembayaran, maka akan timbul resiko yang sifatnya menular sehingga timbullah gangguan sistemik. Peran Bank Indonesia disini yatu mengembangkan mekanisme dan pengaturan untuk mengurangi resiko dalam sistem pembayaran.
  • Riset dan Pemantauan. Dalam menjalankan stabilitas keuangan, Bank Indonesia menggunakan instrumen ini dengan cara mengakses berbagai macam informasi mengenai hal-hal yang dinilai akan mengancam stabilitas sistem keuangan.
  • Sebagai jaring pengaman sistem keuangan melalui fungsi bank sentral sebagai lender of the last resort (LoLR). Dimana, Bank Indonesia sebagai penyedia likuiditas pada kondisi normal maupun krisis.

Dari kelima peran Bank Indonesia tersebut, salah satu yang sering diperbincangkan yaitu kebijakan mengenai tingkat suku bunga.  Suku bunga sangatlah memiliki keterkaitan dengan stabilitas keuangan, terutama pada pasar keuangan sendiri. Dimana dalam pasar keuangan digunakannya tingkat suku bunga untuk menghitung atau menghasilkan emiten. Suku bunga yang digunakan oleh Bank Indonesia pada saat ini adalah BI Rate. BI Rate ditetapkan oleh Bank Indonesia dan setiap pergerakan levelnya diumumkan kepada publik.

BI Rate ini digunakan untuk mengontrol tingkat inflasi yang ada di Indonesia tetap stabil. BI Rate dinaikkan oleh Bank Indonesia apabila tingkat inflasi pada masa yang akan datang diperkirakan melampaui sasaran yang semula ditetapkan. Sedangkan apabila Bank Indonesia menurunkan BI Rate, maka diperkirakan inflasi di masa yang akan datang berada di bawah sasaran yang telah di tetapkan. Bank Indonesia dalam operasi moneternya menggunakan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Dimana dalam pengoperasiannya ini, SBI sangat berpengaruh dalam menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dimana ketika Jumlah uang yang beredar di masyarakat sangat berlebih atau banyak dan hal tersebut merupakan gejala dari inflasi, maka BI akan menaikkan BI Rate nya. Dengan demikian, bank umum akan lebih menyukai menyimpan atau menaruh dana tabungan nasabah mereka di Bank Indonesia dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Adanya hal tersebut membuat penawaran uang menjadi turun dan inflasi dapat tereduksi.

Bank Indonesia pada tanggal 15 April 2016 lalu mengeluarkan instrumen baru mengenai tingkat suku bunga yaitu BI Seven Days Repo Rate. Dengan di keluarkannya instrumen atau kebijakan yang baru ini, Bank Indonesia ingin memberikan kemudahan likuiditas bagi perbankan agar bekerja lebih efektif. Kinerja BI 7-Days Repo rate ini sendiri memiliki tenor atau jangka waktu selama seminggu. Setelah dalam waktu seminggu, maka para bank umum yang menanamkan modalnya berupa surat berharga akan menerima emiten atau bunga. BI 7-Days Repo Rate ini digunakan sebagai acuan, pedoman, atau patokan suku bunga dalam pasar keuangan.

BI mengeluarkan kebijakan suku bunga 7-Days Repo Rate bertujuan agar kebijakan yang dikeluarkan dapat langsung di rasakan pengaruhnya kepada perbankan. Dimana apabila tingkat suku bunga BI Repo Rate ini naik, maka efek kepada suku bunga perbankan juga akan langsung dirasakan secara meningkat oleh perbankan. Begitu pula sebaliknya, apabila tingkat suku bunga BI Repo Rate ini turun, maka pengaruh penurunannya juga akan dirasakan oleh suku bunga perbankan. Suku bunga perbankan disini dapat berupa pinjaman pemberian kredit maupun simpanan kepada para nasabahnya.

Dengan jangka waktu yang semakin singkat, kebijakan BI Seven Days Repo Rate ini ditempuh guna memperdalam pasar keuangan Indonesia dan menyesuaikan dengan apa yang telah negara maju lakukan serta mempermudah investor di pasar keuangan. Mengingat bahwa investor di pasar keuangan sendiri sangat memerlukan referensi dalam likuiditas jangka waktu yang singkat. Dengan begitu, kinerja di pasar keuangan dan perbankan dalam kebijakan moneternya dapat bekerja efektif. Untuk sementara ini, Bank Indonesia menggunakan dua suku bunga acuan yaitu suku bunga BI Rate dan suku bunga BI Seven Days Repo Rate. Dalam penggunaannya tergantung kepada para pelaku pasar keuangan atau para pelaku moneter maupun bank umum yang menanamkan dananya kepada Bank Indonesia dalam bentuk surat berharga. Namun, untuk BI Seven Days Repo rate ini, pengoperasiannya akan dilakukan pada tanggal 19 Agustus 2016 nanti. Dengan diberlakukannya instrumen tersebut, Bank Indonesia lebih ingin memperkuat kerangka operasi moneter dalam pasar keuangan khusunya.

Kinerja suku bunga acuan BI Rate ataupun suku bunga BI Seven Days Repo Rate ini sebenarnya sama-sama untuk mengimbangkan stabilitas sistem keuangan di pasar keuangan agar dapat mengontrol inflasi. Efektivitas suku bunga BI Rate sudah sangat baik untuk operasi moneter yang dilakukan selama ini. Namun, apabila suku bunga acuan BI Repo Rate telah di berlakukan, maka kinerja perbankan akan lebih efektif lagi. Dimana tingkat suku bunga BI Repo Rate ini lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga BI Rate serta pengaruh kenaikan dan penurunan suku bunganya dapat langsung memberikan dampak kepada perbankan. Hal tersebut dapat memberikan kemudahan likuiditas dalam jangka waktu yang singkat, karena hal tersebut sangatlah cocok dalam kinerja pasar keuangan khususnya pada kinerja perbankan.